Selamatkan Wayang Palembang

Suasana pagelaran wayang Palembang dengan lakon Gatot Penganten di rumah sanggar Sri Palembang sebelah Terminal Tangga Buntung, Palembang, Sabtu (26/8) dengan dalang Kgs Wirawan Rusdi.
Palembang, BP
Dalam rangka melestarikan Wayang Palembang yang kini keberadaannya semakin langka, Dinas Kebudayaan kota Palembang melakukan dokumentasi sejarah dan menggelar pagelaran wayang Palembang dengan lakon Gatot Penganten di rumah sanggar Sri Palembang sebelah Terminal Tangga Buntung, Palembang, Sabtu (26/8) dengan dalang P wirawan Rusdi.
Kepala Dinas Kebudayaan Kota Palembang Sudirman Tegoeh mengatakan, tujuan kegiatan tersebut dalam rangka penyelamatan dan pelestarian wayang Palembang yang sudah langka dan perlu dilestarikan.
“Untuk wayang Palembang yang langkperlu diselamatkan terutama dalangnya , ceritanya dan bahannya sehingga perlu adanya bahan cerita wayang Palembang yang kekinian juga,” kata Sudirman, Minggu (27/8).
Selain wayang Palembang , pihaknya juga berupaya melakukan penyelamatan lainnya seperti tarian –tarian yang hidup di Palembang sehingga perlu dilestarikan.
“Kita berupaya menyelamatkan wayang Palembang ini,” katanya.
Sebelumnya, Wayang Palembang merupakan salah satu bentuk kesenian tradisional kota Palembang.
Pertunjukan wayang Palembang tidak jauh berbeda dengan wayang lain. Wayang Palembang punya tokoh-tokoh pewayangan yang sama dengan wayang Jawa, cerita wayang merupakan lakon yang disadur dari kisah Ramayana dan Mahabrata dari India. Khasnya, wayang Palembang terkesan jauh dari sumber aslinya, tetapi ketika diikuti, lakon atau motif ceritanya tetap saja sama dengan wayang Jawa.
Wayang Palembang diiringi oleh seperangkat gamelan berlaras pelog dengan caturan atau gendhing yang memiliki bentuk dan harmoni yang telah diolah sesuai budaya Palembang.
Wayang Palembang dikembangkan dan diwariskan turun temurun secara terbatas di lingkungan keluarga, terutama oleh nenek moyang dari Dalang Kgs Rusdi Rasyid.

Suasana pagelaran wayang Palembang dengan lakon Gatot Penganten di rumah sanggar Sri Palembang sebelah Terminal Tangga Buntung, Palembang, Sabtu (26/8) dengan dalang Kgs Wirawan Rusdi.
Adapun perbedaan antara wayang Jawa dengan wayang Palembang dapat dilihat dari penggunaan bahasa. Wayang Palembang dimainkan dengan menggunakan bahasa Melayu Palembang, yang merupakan bahasa asli Palembang dan memiliki kemiripan dengan bahasa Jawa serta perilaku tokoh-tokohnya lebih bebas.
Dahulu seorang dalang menggunakan bahasa halus, tetapi pada masa kini telah dicampur dengan menggunakan bahasa Palembang yang umum digunakan sehari-hari.
Pertunjukan kesenian tradisional wayang Palembang hanya dilakukan selama kurang lebih 1 hingga 3 jam, sementara wayang Jawa bisa memiliki durasi hingga semalam suntuk.
Musik pengiring Wayang Palembang berbeda dengan bunyi-bunyi yang dikeluarkan gamelan Jawa. Pukulannya bergerak berbeda dengan gamelan Jawa.
Wayang Palembang tidak melibatkan penyanyi sinden (penyanyi tradisional) saat pementasan. Tokoh dalam pewayangan Palembang mendapat gelar sesuai nama daerah seperti Wak (paman dalam bahasa Indonesia) atau Raden, contohnya, Gareng dipanggil Wak.
Sementara tokoh Bagong dalam cerita Mahabarata ditiadakan dalam wayang Palembang. Tokoh khas Palembang lainnya, adanya tokoh Bambang Tuk Seno, anaknya dari Arjuna.
Wayang Palembang mengalami kemunduran mulai dari tahun 1930. Pada tahun 1978, Persatuan Pedalangan Indonesia (PEPADI) Sumatera Selatan (Sumsel) berusaha membangunkan dan menampilkan kembali kesenian tradisional wayang Palembang yang kondisinya sangat memprihatinkan dengan cara membentuk organisasi seni wayang yang bernama “Sri Palembang”. Sri Palembang diketuai oleh Kgs Abdul Rasyid Bin Abdul Roni (dalang wayang Palembang yang terkenal pada era 1960-an) pada saat itu.
Kiprah pertama organisasi Sri Palembang adalah mengikuti Pekan Wayang Indonesia III di Teater Tertutup TIM pada tahun 1978 dengan menggelar lakon Bambang Tukseno.
Setelah mengikuti Pekan Wayang Indonesia di Jakarta, pagelaran kesenian tradisional wayang Palembang rutin disiarkan sebulan sekali di RRI Palembang dengan dalang H. Ahmad Sukri Ahkab (yang bekerja sebagai penyiar RRI Palembang).
Pada tahun 1983, putera dari Kgs Abdul Rasyid Bin Abdul Roni, Kgs Rusdi Rasyid menampilkan kembali kesenian tradisional wayang Palembang pada Pekan Wayang Nasional IV. Pasca tahun 1983 nyaris tidak ada lagi kegiatan seni pedalangan wayang Palembang. Pada tahun 1988 kesenian tradisional wayang Palembang tampil lagi dalam rangka promosi wisata daerah Sumatera Selatan.
Kini eksistensi wayang Palembang telah mengalami krisis dan tidak sempurna, tetapi masih belum mati dan masih ada wujudnya. Upaya untuk menghidupkan kembali wayang Palembang butuh kerja keras dan perjuangan yang panjang. Tantangan yang terbesar adalah meninggalnya dalang-dalang senior yang belum sempat mewariskan wayang Palembang sepenuhnya ke generasi berikutnya.

Suasana pagelaran wayang Palembang dengan lakon Gatot Penganten di rumah sanggar Sri Palembang sebelah Terminal Tangga Buntung, Palembang, Sabtu (26/8) dengan dalang Kgs Wirawan Rusdi.
Pada masa kejayaannya, banyak dalang wayang Palembang yang terkenal, seperti Dalang Lot, Dalang Jan, Dalang Abas, Dalang Abdul Rahim Dalang Agus dan Dalang Ali.
Wayang-wayang Palembang yang tersisa banyak yang sudah lapuk dimakan usia dan banyak peralatan wayang yang tercecer dan hilang.
Pada akhirnya di tahun 1985, pemerintah kota (pemkot) Palembang menduplikasi 20 tokoh wayang Palembang yang telah rusak. Namun, pada tahun 1986, duplikasi 20 tokoh wayang Palembang mengalami nasib tragis, seluruhnya habis terbakar.
Pada tahun 2004, Kgs Wirawan Rusdi yang merupakan putra pertama Kgs Rusdi Rasyid, cucu dari Kgs A Rasyid Bin Abdul Roni sebagai ahli waris, sekaligus sebagai salah satu penyelamat kesenian tradisional wayang Palembang, mendapat sumbangan dari UNESCO berupa seperangkat wayang Palembang.
Wayang ini merupakan hasil duplikasi wayang Palembang yang berada di Museum Wayang Indonesia.
Kehadiran Kgs Wirawan Rusdi telah menemukan kembali keberadaan wayang Palembang yang telah lama hilang. Dengan adanya wujud wayang Palembang, Sumsel dapat mengikuti Festival Wayang Kulit se-Indonesia di Jakarta pada tahun 2012.#osk