Raih Doktor Berkat Syair Perang Palembang

Tanjung Malim, Malaysia, BP
Warga kota Palembang patut berbangga karena salah satu putra terbaiknya , R. H. M. Ali Masri, Dosen FKIP Universitas Sriwijaya (Unsri) Sabtu (24/5) berhasil mempertahankan disertasi berjudul “Syair Perang Palembang dari Sudut Analisis Wacana Mega” pada Mesyuarat Viva, Institut Pengajian Siswazah, Universiti Pendidikan Sultan Idris, Tanjung Malim, Perak, Malaysia.
Dengan demikian R. H. M. Ali Masri berhak mendapatkan gelar Doktor bidang Falsafah (Ph.D.) bidang analisis wacana.
Dalam disertasi yang dibimbing Prof. Madya Dr. Abu Hassan Abdul dan Prof. Madya Raja Nor Safinas Raja Harun, mantan wartawan sebuah harian di Palembang ini mengungkapkan tiga temuan penting, yakni pengarang Syair Perang Palembang memilih syair sebagai wahana penting di antara genre sastera lainnya untuk menyampaikan sejarah dan perjuangan orang Melayu Palembang.
“Selain itu, teks syair juga berfungsi sebagai agen atau bentuk perang syaraf untuk membangkitkan semangat jihad fi sabilillah,” katanya, “Juga sebagai bentuk perlawanan terhadap kolonialism Belanda dalam bentuk tertulis.
Menurut mantan Sekretaris Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni FKIP Unsri ini, penelitian ke atas Syair Perang Palembang ini dilatari oleh minimnya penelitian terhadap syair perang, utamanya Syair Perang Palembang.
Mengutip pandangan Zubir Idris, dosen Universiti Kebangsaan Malaysia, Kajian ke atas teks sastera Melayu, khasnya syair perang hingga saat ini hanya bertolak pada kajian sejarah, filologi, dokumen sosial, kajian intrinsik sastera, dan kajian etnosentrisme saja. Untuk itu, kajian yang menggunakan analisis wacana kritis yang disempurnakan dalam analisis wacana mega ini merupakan langkah positif dalam meneliti syair perang.
Selama ini kajian terhadap syair perang Melayu justru banyak dilakukan oleh para ahli dari Eropah dan menggunakan teori-teori mereka sendiri. Padahal, penelitian seperti ini akan lebih baik dilakukan oleh orang Melayu yang mengaplikasikan teori-teori tersebut dengan kemelayuannya.
“Kita kadang menjadi orang nomor sekian dalam penelitian ini, padahal belum tentu kualitas penelitian kita tidak sebagus mereka,” ujar Ali.
Di satu sisi, menurut Ali, teks syair Perang Palembang ini tidak menunjukkan alasan sebenarnya dari peristiwa penyebab perang. Dalam teks ini disebutkan hanya Pangeran Muhammad dan Raja Akil berbuat cela karena mengikut pihak Kafir (Belanda). Padahal, penyebabnya adalah tuntutan dari Menteng agar Sultan Mahmud Badaruddin II menyerahkan Putera Mahkota, Ahmad Najamuddin Pangeran Ratu, untuk ditawan sebagai jaminan bahwa pihak Palembang tetap akan patuh kepada Belanda. “Oleh sebab itu, jika orang membaca teks syair perang Palembang saja, tanpa mengetahui sejarahnya, maka informasi yang ia dapatkan akan menyesatkan,” jelas ayah tiga putra ini.
Penulisan teks sastera sejarah seperti itu jelas tidak dapat kita tolak begitu saja tanpa melakukan analisis diskursif pada proses penulisan syair yang ditulis Raden Muhammad Rasyip, jurutulis Sultan Mahmud Badaruddin II, hampir dua abad silam. Antaranya hal yang diduga menjadi penyebabnya adalah konsep setia dan durhaka antara hamba dan raja. “Dengan konsep setia dan derhaka ini, maka penulis teks akan berfikir ulang untuk menimbang apa yang patut dan tidak patut untuk disampaikan dalam tulisan,” pungkasnya seraya menjelaskan teks itu sebagai produk dari budaya istanasentris.
Bertindak sebagai penguji dalam Mesyuwarat Viva Doktor Falsafah Analisis Wacana ini, Prof. Emiritus Dr. Abdul Hamid Mahmud (UPSI), Prof. Madya Dr. Ahmad Mahmood Musanif (Universiti Putra Malaysia), dan Prof. Datuk Dr. Abdul Jalil Othman (Universiti Malaya), turut hadir Dekan Fakulti Bahasa dan Komunikasi UPSI, Prof. Madya Dr. H. Nor Azmi Mostafa serta Koordinator Viva, Prof. Madya Dr. Abdul Halim Ali.
Sebelumnya syair Perang Menteng atau Perang Palembang sempat di paparkan R. H. M. Ali Masri di pedestrian di Jalan Sudirman Palembang, Sabtu (8/4) malam lalu.
RM Ali Masri, menjelaskan Syair Perang Palembang merupakan salah satu bentuk narasi atau cerita berdasarkan fakta perang yang terjadi di Palembang.
Menurut Ali Masri Perang Palembang ini menurut Ali Amin (1986: 107) bermula dari perlawanan rakyat pedalaman terhadap Belanda akibat kesalahpahaman dan adanya upaya Belanda untuk memperluas imperiumnya, sehingga timbul sengketa antara Muntinghe dengan Sultan Mahmud Badaruddin II.
Menurut Ali Masri Perang Palembang ini menurut Ali Amin (1986: 107) bermula dari perlawanan rakyat pedalaman terhadap Belanda akibat kesalahpahaman dan adanya upaya Belanda untuk memperluas imperiumnya, sehingga timbul sengketa antara Muntinghe dengan Sultan Mahmud Badaruddin II.
Sedangkan Woelders (1975) dalam Het Sultanat Palembang 1811-1825, Syair Perang Palembang adalah sebuah sajak kronik (rijm kronick). Woelders berpandangan bahwa secara jujur syair cerita itu dilandasi dengan dalil-dalil sejarah yang dapat dipercaya, walaupun penyusunnya telah mengabaikan teraturnya penyusunan dalam melukiskan kejayaan peperangan Palembang melawan Belanda, penulisan nama para pahlawan, urutan kejadian-kejadian dalam peperangan itu dan kenyataan tentang kekuatan persenjataan.
Berdasarkan penelusuran terdapat tiga naskah teks SPP dimana dua naskah berjudul “Syair Perang Menteng” (Teks SPP A dan SPP B) terdapat di Perpustakaan Universitas Leiden Belanda (sumber Het Sultaanat Palembang, Woelders)
Satu Naskah di Palembang (Teks SPP C, koleksi Kemas H. Andi Syarifuddin) dan Penulis: Raden Muhammad Rasyip (sumber R. H. M. Akib, 1980) .
Dimana perbedaan mendasar ketiganya adalah Teks SPP A dan teks SPP B terdiri atas 260 bait dan teks SPP C terdiri atas 259 bait .
Sedangkan latar belakang perang Palembang adalah pada masa Belanda menerima kembali daerah jajahannya dari Inggeris, keadaan politik langsung berbalik daripada yang telah diciptakan oleh Inggeris. Sultan Ahmad Najamuddin II adalah penguasa yang lemah, sedangkan Sultan Badaruddin menguasai keadaan politik. Eksploitasi feudal di kalangan keluarga Sultan merajalela, banyak terjadi perampokan dalam kekosongan kekuasaan di daerah, sehingga situasi mirip dengan anarkis. Muntinghe selaku kuasa usaha Belanda bertekad menanam kekuasaan yang kuat di Palembang. Maka, untuk tujuan itu Belanda mengikat kontrak dengan kedua tokoh tersebut di atas (20-24 Juni 1818).
Dimana Sultan Ahmad Najamuddin II diturunkan dari tahta, Sultan Mahmud Badaruddin II dinaikkan kembali menjadi Sultan Palembang dan bertakhta di BKB.
Lalu Muntinghe mendakwa Sultan Badaruddin berada di sebalik peristiwa penyerangan di hulu Sungai Musi. Oleh itu, ia meminta agar Sultan meredakan para pemberontak, selain itu ia juga menuntut agar putra mahkota diserahkan untuk dipindah ke Batavia.
Sultan menolak tuntutan untuk menyerahkan Putera Mahkota. Akibatnya, pecahlah perang Palembang melawan Belanda. Akibatnya, Muntinghe dengan kapal-kapalnya terpaksa meninggalkan Palembang.
“Peristiwa perang Palembang melawan Belanda yang terjadi pada masa kepimpinan terakhir Sultan Mahmud Badaruddin II, tahun 1819 inilah yang kemudian ditulis ke dalam sebuah syair perang,” katanya.
Dan sebagai seseorang yang dilantik Sultan Palembang menjadi penulis di lingkungan istana, tentunya penulis teks SPP amatlah faham mana yang patut atau tidak patut untuk ditulis dan dimaklumkan kepada khalayak ramai. Tindakan ini berkenaan dengan sumpah setia-derhaka, sebagai wujud setia seorang hamba kepada raja di bumi Melayu, atau wujud setia penulis teks SPP kepada Sultan Palembang (Sultan Mahmud Badaruddin II), antaranya menyimpan rahsia sebenar penyebab perang.
“Teks SPP dihasilkan sebagai bentuk rekaman tertulis daripada perang yang berlaku antara pihak Palembang dan pihak Belanda. Penulis teks SPP tidak dapat melepaskan dirinya daripada kungkungan hegemoni Sultan Palembang tempat ia mengabdikan diri. Sehingga dapatlah difahamkan apabila sebagai seorang penulis yang berada di bawah bayang-bayang kekuasaan harus memiliki strategi diskursif dalam menulis. Dengan begitu, dapat difahamkan juga mengapa ia memilih genre syair sebagai media naratifnya,” katanya.#osk