Kualitas Pendidikan Tergantung Kualitas Guru

Palembang, BP
Guru merupakan ujung tombak bagaimana terciptanya generasi cerdas, beriman, dan berdaya saing di tengah derasnya peradaban dan persaingan era globalisasi belakangan ini. Di tangan guru juga, potret generasi bangsa di masa mendatang.
Demikian disampaikan Gubernur Sumatera Selatan H Alex Noerdin dalam sambutan Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) di Griya Agung, Palembang, Selasa (2/5). Di hadapan 437 kepala sekolah SMA/SMK di Sumsel dan 12 kepala sekolah SLB dengan membawahi total 19.000 guru di Sumsel, Alex menegaskan kembali sosok Ki Hajar Dewantara sebagai bapak pendidikan yang paripurna dalam mengubah peradaban generasi muda menjadi generasi terdidik.
“Kalau mau kualitas pendidikan baik, yang diperbaiki pertama adalah guru, kedua adalah guru, ketiga adalah guru, dan keempat baru yang lainnya,” tegas Alex di hadapan ratusan guru dan pejabat SKPD terkait.
Pesatnya dunia informasi membuat pelajar juga harus meningkatkan kompetensi dan wawasan di era informasi, ilmu, dan teknologi.
Dirinya juga menjelaskan bahwa di tengah kesulitan anggaran secara nasional hingga daerah tantangan menjadi berat bagi semua.
“Persiapkan anak-anak kita dengan cerdas, dan juga sehat. Untuk apa pintar jika sakit-sakitan, begitupun sebaliknya. Sehingga inilah yang menjadi komitmen kita di Hardiknas,” paparnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Sumsel Drs Widodo, MPd, menjelaskan bahwa Hardiknas tahun ini menjadi evaluasi tak hanya kualitas guru tapi juga kuantitas. Pasalnya, berdasarkan daftar, Sumsel masih kekurangan guru sekitar 1.300-an dari berbagai bidang studi.
“Ya, tentu ini evaluasi pendidikan. Termasuk bahwa kita kurang 1.300-an guru di semua bidang studi,” ujarnya.
Sambung Widodo, ini menjadi PR bagi Sumsel termasuk didalamnya akan mengupayakan sarana dan prasarana terkait Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) yang masih dalam pembicaraan serius karena minimnya komputer.
“Termasuk juga komputer untuk UNBK. Mudah-mudahan menjadi lebih baik dari tahun ke tahun pendidikan kita di Sumsel,” tuturnya.
Selain itu, Widodo juga menyoroti tentang gaji guru honorer yang menunggak hingga lima bulan. Berdasarkan data yang diperoleh ada sebanyak 1.880 guru honor SMA/SMK di Sumsel. Secara anggaran, Pemprov Sumsel sudah menyiapkan anggaran Rp15 miliar untuk pembayaran gaji guru honor ini akan tetapi proses pencairan nantinya hanya diperuntukkan bagi 705 guru honor saja yang sudah mendapatkan SK dari bupati/walikota.
“Saat ini kami masih berjuang supaya gaji guru honor SMA/SMK bisa segera dicairkan, uangnya sudah ada, tetapi hanya untuk guru honor yang memiliki SK kepala daerah,” jelasnya.
Dikatakan, pihaknya belum bisa memastikan kapan pencairan gaji honor tersebut akan dilakukan.
“Saat ini kami masih menunggu keputusan dari pemerintah pusat, kalau pembayaran gaji honor di Sumsel masih belum disetujui kami sudah menyiapkan opsi lain supaya gaji guru honor bisa segera dicairkan,” pungkasnya.#adv