Hari Ini Prasasti Talang Tuwo Dibuat Raja Sriwijaya

22
 Amanah Lingkungan Hidup Untuk Kemakmuran Semua

Foto-layar-062415-120049-PMPalembang, BP

Pada hari ini, Rabu (23/3) atau  15 abad yang lalu, tepatnya 23 Maret 684, leluhur kita atau pemimpin pertama Kerajaan Sriwijaya telah meletakkan dasar nilai-nilai perilaku manusia terhadap lingkungan hidup; memanfaatkan kekayaan alam atau isi Bumi untuk kemakmuran manusia bersama makhluk lainnya dengan tetap menjaga kelestarian alam. Sikap ini terpatri dalam Prasasti Talang Tuwo.
Pembuatan prasasti yang menandai pembangunan Taman Sriksetra oleh Sri Baginda Śrī Jayanāśa, bertepatan dengan peristiwa matahari tepat berada di atas khatulistiwa atau biasa disebut Ekuinoks Maret.
Pembuatan Prasasti Talang Tuwo dilakukan dua tahun setelah penetapan wanua Sriwijaya (Palembang) yang terbaca melalui Prasasti Kedukan Bukit (16 Juni 682), dapat dikatakan sebagai pijakan ideologi pembangunan yang dilakukan Kerajaan Sriwijaya yang akhirnya terbukti selama beberapa abad membangun peradaban luhur di Asia Tenggara.
Menurut Arkeolog dari Balai Arkeologi  (Balar) Palembang, Nurhadi Rangkuti  mengatakan Prasasti Talang Tuwo merupakan prasasti yang bicara tentang lingkungan yang diinginkan seorng raja atau lingkungan yang bisa memenuhi kebutuhan segala mahluk baik manusia , hewan dan tumbuhan.
“Pada zaman itu atau abad ke 7 saja, seorang raja sudah berpikir tentang pengelolaan lingkungan yang baik untuk kesejahteraan seluruh mahluk, jadi banyak diterjemahkan sebuah taman Śrīksetra  dan itu taman pertama yang di Indonesia yang tercatat dalam data tertulis yaitu prasasti, banyak sekali para ahli ingin meneliti disana tapi kondisinya sekarang kalau saya lihat tahun 2007 sudah terbengkalai dan tanggal itu dijadikan teman-teman untuk usulan untuk menjadi hari bumi,” katanya, Rabu (23/3).
Dan amanat dari Prasasti Talang Tuwo ini bukan hanya untuk Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) namun seluruh umat manusia  , dimana perspektif Prasasti Talang Tuwo adalah perspektif global, jika spiritnya seperti itu, bukan tidak mungkin kelahiran Prasasti Talang Tuwo kedepan dijadikan peringatan hari bumi.
“Dan hari ini kita mengingatkan kawan-kawan seluruh dunia dimana bukan berarti Bumi didiamkan tapi juga bisa diolah dan dikelola untuk seluruh mahluk jadi bicara ekosistim disitu, kalau ekosistim dirusak semua mahluk terkena namun akses manusia terhadap alam tetap di bolehkan, kalau dalam taman itu di buat bendungan-bendungan itu karya manusia artinya ada intervensi manusia bukan berarti dia didiamkan, ” katanya.
Dalam Prasasti Talang Tuwo juga ditegaskan kalau manusia boleh mengelola bumi tapi tidak merusak.,” Dan karaktek hutan adat dan hutan larangan bukan di Sumsel itu sampai di Papua dan Asia Tenggara, artinya baru tiga abad terakhir terjadi ketika revolusi terjadi kerusakan lingkungan,” katanya.
Sedangkan Dr Yenrizal Tarmizi yang merupakan pakar komunikasi lingkungan mengatakan kalau dalam Prasasti Talang Tuwo juga berbicara tentang tata kelola, tata ruang dan tata manfaat.
“Bukan berarti lingkungan tidak boleh di ganggu gugat tapi dikelola dan dimanfaatkan untuk kemakmuran dan itu sudah di pikirkan abad ke 7 melalui Prasasti Talang Tuwo,” katanya.
Apalagi menurutnya manusia juga punya hak hidup, bumi juga punya hak hidup termasuk tanaman dan hewan dan dalam Prasasti Talang Tuwo sudah bicara itu ,” katanya.
Dari kajian lingkungan menurut negara barat yang ada saat ini menurutnya nenek moyang Sumsel sudah mengkaji itu lebih dahulu namun selama ini tidak pernah di munculkan dan selama ini selalu mengacu pada terori barat.
“Padahal di masyarakat lokal soal lingkungan sudah lama di bicarakan, seperti di daerah ulu dan ilir mengatur sungai dimana rumah dan sebagainya ini bukan berarti bbernostalgia pada masa lalu tetap pada konteks sekarang dan jangan merusak,” katanya.
Hal senada dikemukakan Saudi Berlian, Pekerja budaya melihat pola pikir dalam prasasti Talang Tuwo lebih membicarakan manusia, alam dan waktu.
“Manusia bersahabat dengan alam dan berdamai dengan waktu , hasil ketiganya menghasilkan kebudayaan, bagaimana aturan menghadapi alam, bagaimana menghadapi waktu seperti di Pantai Timur ada dua musim yaitu air dalam, musim air kering di dua musim itu air dalam dan air kering selanjutnya misalnya tahap minimal untuk penyelamatan alam dan untuk ekonomi mereka gunakan air surut sampai kering untuk pertanian dan perkebunan , air masuk ke dalam mereka untuk nelayan,” katanya sembari mengatakan mereka juga menciptakan semua tatanan hidup.
Sementara itu berkaitan dengan lahirnya prasasti Talang Tuwo, Rabu (23/3) sejumlah pekerja budaya, akademisi, aktifis lembaga budaya, aktifis lingkungan, aktifis kemanusiaan yaitu  Dr. Najib Asmani, Taufik Wijaya, Nurhadi Rangkuti, Erwan Suryanegara, Dr. Yenrizal, Rustandi Adriansyah,Dodi Suwandi R, Ade Indriani Zuchri,Anwar Sadat, Made Ali, Dian Maulina, JJ Polong, Adiosyafri, Sigit Widagdo, Bahtiyar Abdullah, Muhammad Isa, Saudi Berlian, Nurhayat Arif, Conie Sema, Putut Prabu (Fuad Firdaus), Dedek Chaniago menyatakan siap terkait hari dibuatnya prasasti Talang Tuwo.

Baca Juga:  Golkar Dorong Peningkatan Pendapatan Petani di Sumsel

Pertama, menghimbau atau meminta para pemimpin dunia, pelaku ekonomi baik besar maupun kecil, serta seluruh bangsa di dunia, untuk menjadikan isi Prasasti Talang Tuwo sebagai spirit bersama menyelamatkan Bumi untuk kemakmuran dan keselamatan manusia dan makhluk hidup lainnya pada hari ini dan mendatang.

Kedua, kepada para pemimpin negara dan bangsa di Asia Tenggara untuk menyelamatkan dan menjaga semua situs atau peninggalan sejarah Kerajaan Sriwijaya, sehingga Kerajaan Sriwijaya terus menjadi inspirasi bangsa di Asia Tenggara untuk memakmurkan manusia dan makhluk hidup lainnya dengan menjaga kelestarian lingkungan hidup.

Baca Juga:  Kemacetan di Jembatan Musi IV  Kembali Lancar

Ketiga, kepada para pemimpin dan bangsa Indonesia hendaknya tidak mengikari amanat Prasasti Talang Tuwo.

Keempat, kepada seluruh bangsa di dunia hendaknya terus menjaga perdamaian. Kami percaya hanya kehidupan yang damai yang mampu menjaga masa depan Bumi.

Kelima, marilah kita terus berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa, hendaknya dibukakann hati dan pikiran mereka yang terus merusak Bumi agar mereka kembali menjaga Bumi seperti yang diperintahan Tuhan Yang Maha Esa.#osk

Komentar Anda
Loading...