GMT, Hasilkan Momentum Pariwisata Luar Biasa

Jakarta, BP
Peristiwa gerhana matahari total disambut antusias di semua daerah yang dilintasi fenomena alam langka itu. Di 12 provinsi di Indonesia, GMT dinikmati dan dirayakan dengan gelar 100 event, yang kebanyakan cultural event. Berlangsung seru, setiap daerah menampilkan keunikan sendiri-sendiri.
“Ini pelajaran penting buat kita semua, bahwa event alam seperti ini bisa dikemas secara baik dan menghasilkan momentum pariwisata yang luar biasa,” jelas Menpar Arief Yahya yang sejak 8 Maret terbang ke Belitung.
Di Belitung, ada pementasan tari dengan koreografer kelas dunia, Eko Pece Supriyanto. Lalu musikalitasnya diaranger oleh Dwiki Dharmawan, pemusik yang punya kelas di level nasional. Dan tariannya bertema penambang timah di Belitung.
Di Palu juga tidak kalah seru, ada Slank di ibu kota Sulawesi Tengah. Slank itu memiliki “konstituen” fanatik yang selalu hadir dengan atribut dan bendera-bendera berlogo kebanggaan grup musik yang berkarakter itu. Di Palu banyak event, bahkan item event nya paling banyak.
Beda lagi di Palembang, ibu kota Sumatera Selatan. Ada sensasi yang cukup fenomenal di sana, yakni menutup jembatan yang membelah Sungai Musi, yang bersejarah itu. Jembatan Ampera, yang dibangun di era Presiden Soekarno itu dijadikan venue untuk Nonton Bareng (Nobar) fenomena alam yang hanya terjadi 350 tahun sekali di lokasi yang sama tersebut.
Provinsi lain juga berlomba menampilkan event, dari Sumbar, Sumsel, Jambi, Babel, Kalbar, Kalteng, Kalsel, Kaltim, Sulbar, Sulteng dan Malut. “Hampir semua tempat penuh dengan wisman dan wisnus. Orang Jakarta juga banyak yang ke daerah-daerah itu mengajak anak istri dan keluarganya, karena sulit menemukan kejadian yang sama di masa mendatang,” ujar Arief Yahya.
Di Beltim, Arief Yahya sempat mengunjungi beberapa obyek wasata. Klenteng Kelapa Kampit contohnya, lokasinya di kota Mandar, ibukota Beltim dan kondisinya sangat bagus. Tempatnya bersih, baru, pilar-pilarnya ukiran baru dengan desain naga yang kelihatan rapi dan bersih. Ornamen-ornamen Tiongkok yang didatangkan dari Negeri Tirai Bambu itu cukup menarik perhatian publik.
Warna kombinasi merah, kuning, menambah nuansa Cina yang tidak kalah dari yang ada di Forbidden City. Patung Dewi Kwan Im di samping kanan klenteng dengan kolam air buatan yang indah, cukup menggoda. “Ini atraksi yang menarik. Keseniannya juga keren, kombinasi Melayu dan pukulan Barongsai, sehingga lebih berirama dan enak di dengar,” papar Menpar.
Kunjungan selanjutnya di Klenteng Dewi Kwan Im, di atas bukit juga menarik perhatian Menpar. Arief Yahya. Belum selesai 100 persen, klenteng ini, tetapi cikal bakalnya sudah bisa dirasakan hebatnya. “Bersandar di bukit, menatap laut,” kata Arief Yahya.
Di Pantai Burong Mandi, juga bagus. Pasir putih, langit indah, dan ada dua pulau kecil di depan pantai pasir yang keren. “Ada banyak atraksi yang bisa menjadi daya tarik wisatawan,” ujarnya. #osk