Kala Pedagang Curhat Dengan Bupati
Bisa makan enak dan masuk rumah Dinas Bupati OKU merupakan kesempatan yang langka bagi para pedagang kakilima. Momentum itu pun dimanfaatkan untuk berkeluh kesah dengan Bupati.
PERTAMA kalinya dalam sejarah Pemerintahan Kabupaten (Pemkab) Ogan Komering Ulu (OKU), ratusan pedagang Pasar Baru dan Pasar Atas (Pucuk) dijamu makan malam oleh Pj Bupati OKU H Maulan Aklil, SIP, MSi, di Pendopo Rumah Dinas Bupati OKU (Kabupatenan), Jumat (8/01) malam. Mereka terdiri dari pedagang penghuni kios/petak, pedagang kakilima, dan pedagang yang biasa berjualan di malam hari.
Berkumpulnya para pedagang tersebut bersama Pj Bupati yang akrab disapa Molen dan beberapa pejabat teras Pemda OKU, terkait rencana penertiban keberadaan mereka di kedua pasar yang berlokasi persis di tengah kota itu. Mengingat sebelum dan usai pemilihan kepala daerah (Pilkada) 9 Desember 2015 lalu, jalan-jalan utama di sekitar pasar semerawut dan menimbulkan kemacetan parah terutama saat jam sibuk.
Para pedagang terlihat senang bisa menjejakkan kakinya di komplek Pendopo Kabupaten ini. Tak sedikit dari mereka bangga dengan terbukanya akses bertatap muka langsung dengan Molen di kediaman dinasnya. Apalagi selain dijamu makan malam, mereka juga bisa beramah tamah dan menyampaikan keluh kesah selama ini sebagai wong cilik.
Awalnya, ramah tamah berlangsung sedikit kaku dan terkesan diarahkan pejabat terkait, agar para pedagang tidak banyak menyampaikan aspirasinya terkait rencana penertiban. Hanya dua orang tokoh pedagang saja yang didaulaut menyampaikan keluh kesahnya, yakni H Asri Mutholib, pedagang Pasar Baru, dan Wahyu, perwakilan pedagang Pasar Pucuk.
Keduanya hanya menyampaikan situasi dan kondisi selama berdagang dan minta diperhatikan Pemerintah OKU agar usaha mereka mencari rezeki tidak terhambat ke depannya. Namun kemudian suasana menjadi cair ketika Molen berdiri meninggalkan kursinya di barisan pejabat, dan berbaur duduk di tengah-tengah pedagang. Molen merasa tak puas apa yang disampaikan kedua perwakilan pedagang tadi. Ia pun meminta pedagang yang lain menyampaikan uneg-unegnya.
“Selain permasalahan itu (yang disampaikan H Asri dan Wahyu – red), ayo siapa lagi yang mau menyampaikan uneg-unegnya. Silahkan saya beri waktu supaya saya tahu persis apa yang teman-temanku pedagang sekalian inginkan. Jangan ditutup-tutupi,” kata Molen.
Berturut-turut pedagang yang dari tadi menyimpan keluh kesahnya memberanikan diri untuk tampil ke muka. Masing-masing Nasron, Pahlevi, dan Rani. Mereka terlihat polos dan mengaku tidak bisa bicara teratur, apalagi dihadapan para pejabat.
“Maaf Pak Bupati, saya bicara apa adanya karena saya hanya seorang pedagang. Kalau ada salah-salah kata, mohon dimaklumi,” ujar Pahlevi disambut tawa rekan-rekannya yang lain.
“Silakan, tidak masalah. Sampaikan saja apa yang menjadi masalah kau tu Levi,” timpal Molen.
Kepada Molen, Pahlevi meminta pemerintah berlaku adil bila akan menertibkan pedagang. Jangan ada tebang pilih saat pemindahan pedagang yang berjualan di pinggir jalan untuk menempati kios-kios yang kosong. Sebab selama ini, kata dia, bila terjadi penertiban, ada oknum aparat Polisi Pamong Praja memberikan perlakuan khusus kepada pedagang yang dianggap masih famili mereka.
Hal tersebut, menurut dia, akan membuat dampak penertiban tidak akan berlangsung lama. Soalnya beberapa minggu kemudian para pedagang akan kembali ke pinggir jalan.
Pedagang ikan tersebut juga meminta Molen untuk memberi kemudahan dalam berdagang. Ia mencontohkan penjualan petak di pasar, yang dibanderol Rp9 hingga 10 juta per petak. Ia berharap pedagang dapat kemudahan dalam mencicilnya dalam tenggang waktu yang cukup lama.
Demikian pula soal harga petak yang selama ini menurut dia terkesan tak adil antara pedagang lama dan baru. Molen pun sempat bertanya kepada Pahlevi uang petak dimaksud disetor kepada siapa dan untuk apa peruntukannya.
Rani, perwakilan PKL yang juga mewakili ibu-ibu pedagang Pasar Baru juga menyampaikan uneg-unegnya. Menurut dia, bila PKL mau ditertibkan, pemerintah memberikan solusi agar mereka bisa tetap beraktivitas.
“Kalau kami ini pedagang kaki lima mau diteribkan tanpa diberikan lokasi, bagaimana kami mau mencari uang beras, bagaimana kami mau menyekolahkan anak-anak. Saya minta kepada Pak Bupati agar nasib kami diperhatikan,” ucapnya.
Sebab, dengan sudah empat tahun berdagang sayur mayur yang tidak memiliki petak, Rani mengaku pendapatannya sangat minim dari pagi hingga siang. Makanya sore hari dia turun ke pinggir jalan agar sisa dagangannya banyak yang laku.
Molen mengatakan semua yang sudah didengarnya dicatat untuk ditindaklanjuti. Saat itu juga setelah acara ditutup, Molen mengumpulkan pejabat terkait yang hadir dan duduk satu meja. Sebelumnya Molen mengingatkan pertemuan dengan para pedagang ini harus diterima dengan hati yang ikhlas.
“Pertemuan malam ini agar kita semua bisa menerimanya dengan hati yang jernih dan ikhlas. Itulah apa yang disampaikan para pedagang, murni kondisi yang sebenarnya. Saya minta pejabat-pejabat saya jangan ada yang mendendam. Mari kita mencari jalan keluar terbaik agar penertiban berjalan sesuai keinginan,” tegasnya. # riansyah