Ungkap Transparan Penyebab dan Solusi Kebakaran Gambut
Gubernur di Forum Konferensi Internasional Perubahan Iklim CoP 21 Paris
Gubernur Sumatera Selatan H Alex Noerdin, satu-satunya Gubernur di Indonesia yang mendapat kehormatan untuk berbicara pada tiga forum konferensi internasional Perubahan Iklim di Paris. Setelah berbicara pada forum Global Leader Summit bersama Al Gore dan Walikota Berlin dan diwawancarai oleh Leonardo diCaprio pada Jumat pekan lalu, Gubernur mendapat kesempatan berbicara di Global Landscape Forum dan di Indonesia Sustainable Forum Paviliun indonesia Senin (7/12) di Paris Perancis.
Gubernur Sumatera Selatan H Alex Noerdin pada Global Landscape Forum tersebut bersama mitra stakeholder dari APP, IDH, ZSL (Internasional NGO) dan Syarikat Petani Kelapa Sawit Indonesia melakukan peluncuran secara internasional Program Pengelolaan Lanskap/Ekoregion Terpadu dan Berkelanjutan Sumatera Selatan (Integrated Sustainable Ecoregin of South Sumatra). Pada kesempatan tersebut juga diluncurkan Yayasan Belantara sebagai suatu konsorsium untuk pendanaan berbagai kegiatan restorasi lanskap, dan sekaligus penyerahan secara simbolis Master Plan Restorasi Lanskap Kawasan Gambut Sumatera Selatan dari Pimpinan Yayasan Belantara kepada Gubernur Sumatera Selatan.
Selanjutnya Alex di Indonesia Sustainable Forum menyatakan kesiapan Provinsi Sumatera Selatan untuk mengoordinasikan secara lintas provinsi kemitraan pengelolaan ekoregion Sumatera. Sumatera Selatan merupakan provinsi yang pertama di Indonesia yang berinisiatif mselakukan pengelolaan kawasan berbasis lanskap dan secara inetrnasional pertama kali dikemukaan pada Konferensi Internasional Restorasi Lanskap Bonn Challenge_02 di Bonn Jerman Maret 2015 yang lalu.Pada ketiga forum CoP 21 tersebut topik hangat yang selalu ditanyakan oleh para audiens yang hadir dari berebagai negara adalah tentang kebakaran hutan, penyebab dan solusinya. Secara gamblang tanpa keraguan untuk mendapat kritikan, Gubernur menjelaskan bahwa kebakaran lahan bersumber pada lahan-lahan yang terlantar dan karena adanya hembusan angin yang kuat dapat saja melenting ke atas dan terbang hingga ratusan meter membakar lahan termasuk konsesi kelapa sawit dan HTI. Kebakaran pada lahan lahan gambut sangat sulit diatasi dibandingkan dengan kebakaran pada lahan mineral, hanya hujanlah yang dapat memadamkan api yang tahun ini sangat luas biasa besarnya karena bersamaan dengan El Nino. Jika di kawasan tersebut terdapat suatu investasi dan kebun-kebun rakyat tidak mungkin sengaja dibakar. Akan dilakukan identifikasi dan evaluasi padalahan bekas kebakaran, dan jika ada kesengajaan akan dikenakan sangsi sesuai hukum yang berlaku. Penghentian kegiatan investasi akan dilakukan secara proporsional karena menyangkut kehidupan masyarakat, lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi. Momen ini harus menjadi perhatian serius bagi seluruh pelaku bisnis untuk lebih mengintensifkan kegiatan pemberdayaan bagi masyarakat di sekitar perusahaan agar bersama-sama peduli api dan keberlanjutan ekosistem.
Gubernur meminta semua pihak untuk bersama-sama dalam pengendalian kebakaran, dan mulai Januari 2016 akan segera membentuk tim khusus yang melibatkan semua stakeholder. Pada taraf awal Tahun 2016 akan dioptimalkan lembaga-lembaga di tingkat pedesaan berbasis pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan Masyarakat/Desa Peduli Api, dan direncanakan segera diimplementasikan di sekitar 100 desa yang rawan kebakaran di Kabupaten Ogan Komering Ilir, Banyuasin dan Musi Banyuasin. Dukungan pendanaan kegiatan bersumber dari berbagai pihak yakni dari APBD Provinsi dan Kabupaten, Badan Pengelola Dana Perkebunan, Dana Transisi REDD+ dari Pemerintah Norwegia, Perusahaan HTI dan donor internasional. Pada waktu yang bersamaan, atas kolaborasi dengan IDH Belanda, UKCCU Inggeris, dan NISFI Norwegia, Sumatera Selatan sebagai Model Internasional Restorasi Lanskap Kawasan Dangku dan Taman Nasional Sembilang dengan pelaksana lapangan dilakukan oleh ZSL. Dukungan dari donor internasional lainnya dalam waktu dekat akan dikomunikasikan dengan negara-negara Jerman, Amerika Serikat, Australia dan Swiss. Secara internasional kegiatan restorasi lanskap di Sumatera Selatan akan semakin terpublikasi untuk mendapat respon dari berbagai negara yang peduli perubahan iklim dan pemanasan global, dimana Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin di akhir sesi panel selalu direspon oleh berbagai delegasi dan diwawancarai oleh berbagai koresponden internasional di antaranya adalah Reuters dan Financial Times dari Inggris. #rel/idz
