Batu Bata Keraton Kuto Batu, dari Belanda dan Cina
Penemuan batu bata dari zaman Keraton Kuto Batu Palembang yang berumur 200 tahun oleh seorang tukang bangunan di depan proyek air mancur, halaman Museum SMB II Palembang, Sabtu (5/12), ditindaklanjuti Balai Arkeologi (Balar) Palembang.
Senin (7/12) siang, Kepala Balai Arkeologi Palembang Nurhadi Rangkuti melakukan pengecekan lokasi penemuan batu tersebut di halaman Museum II Palembang. Nurhadi sempat bertanya kepada Darwiji, kepala tukang pembangunan air mancur Museum SMB II. Darwiji mengatakan batu bata itu berada di kedalaman 60 centimeter dari permukaan tanah.
Melihat batu bata yang ukurannya tidak biasa itu ia lantas menghubungi orang museum.
“Aneh saja lihat batanya. Saya yakin ini benda bersejarah,” katanya.
Menurut Darwiji, awalnya ia dan tim akan memindahkan tiang bendera dari depan mendekati museum SMB II. Saat melakukan penggalian, anak buahnya menemukan batu tersebut.
Diperkirakan batu bata itu bagian dari keraton kuto batu. Dimana tekstur bahan perekat antara bata satu dan lainnya sama sekali tidak menggunakan semen melainkan bubuk batu karang.
” Memang agak lama pengerjaan tiang benderanya dari jam 08.00 hingga pukul 17.00 setelah itu langsung si cor namun batu-batu tersebut sudah diamankan pihak Balar Palembang,” katanya.
Nurhadi Rangkuti mengatakan Museum SMB II memang sejak tahun 1990 dimana dilakukan penggalian arkeologi ternyata di Museum SMB II ini terdapat periodesasi zaman sejak zaman kerajaan Sriwijaya, Kesultanan Palembang Darusalam, zaman Belanda.
“Memang dari penggalian tahun 1990 di kedalaman 4 meter itu ada lapisan budayanya, jadi, lapisan Belanda ada aspalnya, lapisan masa kesultanan ada sisa-sisa kayu yang terbakar, sampai kedalamnya ada keramik Cina masa kerajaan Sriwijaya abad IX dan X, jadi memang di lokasi museum SMB II ini ditempati beberapa kali itu yang penting, kita tidak tahu, apakah yang udah jadi ini waktu digali bener-bener ada atau tidak ada, karena waktu ada pembangunan air mancur ini kita tidak di beritahu,” katanya.
Dia meminta pihak Pemkot Palembang berkoordinasi dengan pihak Balar Palembang kalau ada pembangunan di sekitar Museum SMB II Palembang.
” Mungkin yang dekat pembangunan Air Mancur itu ada bisa jadi ada peninggalan sejarah tapi informasinya tidak ketemu, itulah memang dari awal harus beritahu kita , mungkin boleh bangun namun kita awasi, begitu ada temuan ya berhenti dan pembangunan ini jangan di kembangkan lagi, sementara ini kita referensi pada mandor bangunan itu ya, dia bilang enggak ada temuan,” katanya.
Untuk itu pihaknya masih mempelajari permasalahan ini , mungkin dari pihak Museum SMB II pihaknya akan meminta informasi berkaitan dengan ini.
“Kita rapat lagilah, untuk membahas masalah ini,” katanya.
Sebelumnya Museum SMB II Palembang ini menghadap sungai Musi. Arsitektur gedung bertingkat dua ini merupakan perpaduan antara pengaruh Eropa dan Palembang. Gaya Eropa nampak pada pilar-pilar yang membentuk setengah lingkaran. Serta pada tangga kembar yang melingkar.
Sementara gaya Palembang sangat jelas tampak pada struktur bangunan menyerupai rumah Bari atau Rumah Limas, rumah tradisional Sumatera Selatan
Bangunan museum ini awalnya merupakan Keraton Kuto Lama di mana Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo alias Sultan Mahmud Badaruddin I (1724-1758) memerintah. Pada masa yang sama, ia juga membangun Masjid Agung Palembang.
Dengan kedatangan Belanda pada abad ke-17, istana ini diduduki oleh tentara kolonial. Selama perang Palembang pada 1819, Belanda mendaratkan 200 pasukannya yang ditempatkan di Keraton Kuto Lamo. Setelah Sultan Mahmud Badadruddin II ditangkap dan diasingkan, Belanda menjarah dan menghancurkan dan membakar bangunan-bangunan di Palembang, termasuk Keraton Kuto Lamo.
Pada tahun 1823, Belanda mulai merekonstruksi reruntuhan bangunan. Reruntuhan Keraton Kuto Lama, dibangun kembali menjadi tempat tinggal komisaris Kerajaan Belanda di Palembang, Yohan Isaac van Sevenhoven. Pada 1842 bangunan itu selesai dan secara lokal dikenal dengan rumah siput.
Antara tahun 1942-1945, selama pendudukan Jepang, gedung ini dikuasai oleh tentara Jepang dan dikembalikan ke penduduk Palembang ketika proklamasi tahun 1945.
Nama Sultan Mahmud Badaruddin II diabadikan menjadi nama museum untuk mengingat dan menghargai jasanya bagi kota Palembang. #osk
