Rahasia Sukses Algojo Penalti
Menjadi penendang pertama dalam babak adu penalti saat Sriwijaya FC menghadapi Persipasi Bandung Raya (PBR), tak ada kegugupan dalam diri Syaiful Indra Cahya. Rupanya, defender muda SFC itu sudah terbiasa menjalani tugas tersebut.
Pertandingan terakhir Laskar Wong Kito pada turnamen Jenderal Sudirman Cup Grup A di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu (28/11) sore, harus disudahi dengan adu penalti lantaran kedua tim bermain imbang 1-1 di waktu normal. Gol Gavin Kwan Adsit dibalas SFC lewat Yohanis Nabar.
Sebagai eksekutor pertama, sejatinya pelatih SFC Benny Dollo memilih pemain berpengalaman, seperti Ferdinand Sinaga, Titus Bonai, Patrich Wanggai, dan Talaohu Musafri. Masalahnya mereka sudah ditarik keluar. Bendol pun harus putar otak. Syaiful lantas dipercaya menjadi penendang pertama.
Pastinya, Syaiful akan terbebani dengan tugas tersebut. Apalagi, usianya yang baru 23 tahun. Ternyata tidak demikian. Dengan dingin, Syaiful mengecoh kiper PBR. Apa rahasia suksesnya?
“Saya diminta pelatih jadi penendang pertama. Saya tidak terbebani, karena memang sudah terbiasa,” ujarnya, Minggu (29/11).
Ya, menjadi eksekutor penalti bukan barang baru bagi Syaiful. Ketika memperkuat Persik Kediri, ia sering dipercaya mengalgojoi bola-bola mati.
“Dulu saat masih bersama Persik, saya pernah melakukannya. Di Timnas U-23 juga,” tukasnya.
Oleh sebab itulah, ketika Bendol menempatkan namanya sebagai penendang pertama dan seniornya seperti Abdoulaye Maiga dan Wildansyah di urutan berikutnya, tidak membuat Syaiful gugup. “Syukurlah saya berhasil dan SFC menang dengan skor 3-2,” ujarnya.
Bukan hanya Syaiful, pemain muda SFC, yang sukses menjalankan tugas sebagai algojo penalti di pertandingan itu, tapi juga Ichsan Kurniawan.
“Saya berbekal pede saja. Pokoknya fokus ketika melawan PBR,” ujar eks punggawa timnas U-19.
Ichsan menjadi penendang terakhir pada drama adu penalti itu, sekaligus penentu kemenangan SFC. Ini setelah dua algojo PBR gagal menjalankan tugasnya.
“Saya senang SFC menang. Semoga ke depan kami bisa lebih baik,” ucapnya.
Sayangnya kemenangan ini tak berarti apapun bagi SFC, yang harus angkat koper lebih pagi dari Jenderal Sudirman Cup. Skuad asuhan Bendol gagal melaju ke babak perempatfinal sebagai peringkat tiga terbaik. #cit
