PWI Banyuasin Kutuk Keras Pengeroyokan Wartawan Oleh Oknum Polisi

18
Banyuasin, BP
Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Banyuasin mengutuk keras kelakuan oknum polisi yang menganiaya dan mengancam wartawan BeritaPagi, Sabtu (3/10) lalu.
Ketua PWI Banyuasin Yan Fauzen mengatakan, tindakan yang dilakukan oleh oknum polisi beserta keluarganya itu sungguh di luar batas. Apalagi, pelaku merupakan Babinsa di daerah itu, mestinya menjadi pengayom, bukannya malah main hakim sendiri. Sampai-sampai mengancam ingin menembak korban. “Kami mengutuk keras penganiayaan tersebut, polisi itu dibentuk untuk menjadi pengayom masyarakat. Mereka dipersanjatai guna memberikan keamanan, bukanya malah nakut-nakti masyarakat,” tegasnya.
PWI Banyuasin mendesak pihak kepolisian segera mengusut kasus ini,  apalagi pelaku merupakan oknum aparat hukum. Pihaknya yakin, kepolisian tidak pandang bulu menyikapi persoalan ini.
“Kami harap polisi  bersikap profesional dan segera menindaklanjuti laporan korban terkait pengancaman dan pengeroyokan itu,” katanya.
Seperti yang diberitakan sebelumnya, Hasandri Agustiawan (39), Wakil Redaktur Pelaksana BeritaPagi melapor ke Porpam Polresta Palembang. Lantaran pengeroyokan yang dilakukan oleh Aiptu Ibnu Umar beserta istri dan anaknya.
Menurut Hasandri, peristiwa penganiayaan yang terjadi di depan rumahnya di Jalan Silaberanti, Komplek Silaberanti Indah, Blok D 36, RT27, Kelurahan Silaberanti, Kecamatan SU I Palembang itu bermula setelah lemparan telur ke rumahnya.
“Setiap malam Jumat selalu ada bekas lemparan telur di depan rumah. Tadi malam baru tahu kalau yang melempar adalah Epi (terlapor) dan kami juga tidak tahu masalahnya. Tapi memang sering mengancam,” ujarnya.
Melihat hal itu, Hasandri melanjutkan dirinya bertanya, namun terlapor yang merupakan istri dari Aiptu Ibnu Umar, oknum polisi yang bertugas sebagai anggota Babinkamtibmas di Polsek SU I Palembang malah marah, memaki dan memaksa korban untuk keluar dari pekarangan rumah.
“Sambil mendorong dahi, dia memaki kalau saya wartawan gadungan, tukang peras dan tidak punya kantor. Tapi saya tidak mau melawan dan tetap berada di dalam pekarangan rumah,” paparnya.
Tak lama kemudian, suami pelaku masih dengan pakaian dinas keluar dari rumah bersama anak-anaknya menantang serta memaksa keluar dari pekarangan rumah dan mengancam akan dibunuh. Bahkan menurut Hasan, Epi meminta suaminya mengeluarkan senjata api untuk menembak korban. #mew
Baca Juga:  Pergantian Tahun, Jembatan Ampera Ditutup,ini Alternatif Jalannya...
Komentar Anda
Loading...