
Palembang, BP- Hari kedua Seminar Nasional Epigrafi (Senafi) III Tahun 2025 yang mengusung tema “Kedatuan Sriwijaya Awal: Kajian Epigrafi atas Ruang dan Kekuasaan di Pesisir Timur Sumatera” digelar di Kampus FKIP Universitas Sriwijaya (Unsri) KM 5 Palembang, Senin (9/12/2025). Acara ini menghadirkan para ahli epigrafi, peneliti, dosen, dan pemerhati sejarah dari berbagai daerah di Indonesia.
Pemakalah Andhika Tubagus Dinata memaparkan bahwa dua prasasti penting yang ditemukan di Lampung—yakni Prasasti Palas Pasemah dan Prasasti Bungkuk —memuat persumpahan setia kedatuan lokal kepada Kedatuan Sriwijaya. Menurutnya, temuan ini mencerminkan dinamika politik dan aktivitas perdagangan di pesisir tenggara Sumatera pada masa awal Sriwijaya.
Andhika menjelaskan bahwa Lampung merupakan wilayah dengan jumlah prasasti terbanyak kedua setelah Sumatera Selatan. Banyak prasasti berisi ancaman bagi mereka yang tidak tunduk kepada Sriwijaya, yang sekaligus menegaskan hubungan politik antara kedatuan-kedatuan lokal dengan pusat kekuasaan Sriwijaya.
Ia menambahkan bahwa integrasi politik ini menunjukkan Lampung memiliki peran besar dalam menopang kekuatan Sriwijaya, terutama sebagai wilayah penyangga jalur maritim dagang dari bagian barat menuju dataran tinggi Sumatera, Jambi, hingga Minangkabau.
Dido Zulkarnain menambahkan bahwa Prasasti Palas Pasemah dan Bungkuk ditemukan di daerah aliran Sungai Way Sekampung, Lampung dengan jarak kurang dari 30 km.
Menurut Dido, hal ini menunjukkan adanya dua kedatuan lokal yang berada di bawah pengaruh Sriwijaya dalam satu wilayah sungai yang sama. Ia juga menyoroti kekhasan Prasasti Palas Pasemah yang memuat frase “kedatuan di Sriwijaya”—kata penghubung di yang tidak ditemukan pada prasasti Sriwijaya lainnya seperti Kota Kapur dan Karang Berahi.
Dosen Arkeologi Universitas Jambi, Asyhadi Mufsi Sadzali MA, menyoroti masih minimnya kajian mengenai strategi politik pembentukan awal Kedatuan Sriwijaya. Ia menekankan pentingnya menganalisis sosok “Tandrunluah” yang disebut dalam prasasti Karang Berahi, Kota Kapur, dan Telaga Batu.
Melalui pendekatan arkeologi simetris dan teori habitus Pierre Bourdieu, Asyhadi berupaya mengungkap latar sosial politik yang membuat Dapunta Hyam mengangkat sosok Tandrunluah sebagai instrumen legitimasi kekuasaan.
Ia mempertanyakan peran tradisi maritim sungai sebagai arena sosial-politik yang mungkin memengaruhi keberhasilan strategi tersebut.
Peneliti dari UIN Raden Fatah Palembang, Prof. Dr. Endang Rochmiatun M.Hum, memaparkan pentingnya ilmu bantu filologi dalam memahami konteks penulisan, bahan, dan persebaran prasasti Sriwijaya.
Ia menegaskan bahwa kajian filologis memungkinkan peneliti mengungkap aspek kebahasaan, budaya, serta sistem administrasi Sriwijaya yang berkembang pada abad ke-7 hingga ke-13 Masehi.
Dr. Sultan Kurnia AB (Hiroshima University) membandingkan narasi Sriwijaya dalam prasasti, catatan asing, dan Kitab Salasilah Raja-Raja di Minangkabau (KSRRM). Ia menunjukkan adanya keterhubungan genealogis antara raja-raja Minangkabau dan Sriwijaya, sebagaimana direkam dalam tradisi lokal.
So Tju Shinta Lee (Yayasan Darmamega Bumi Borobudur) mengulas peran Sriwijaya–Sailendra dalam diplomasi budaya dan keagamaan dengan India serta Tiongkok. Berdasarkan kajian prasasti Ligor, Nalanda, Leiden, Nagapattinam, hingga Guangdong, ia menyimpulkan bahwa Sriwijaya–Sailendra berperan penting dalam pendirian dan renovasi wihara dan kuil di kawasan Asia Selatan dan Timur.
Devina Ocsanda dan Goenawan A. Sambodo (Perkumpulan Epigrafi Indonesia Komisariat Daerah Jawa Timur dan Jawa Tengah ) meneliti teknologi penulisan prasasti berbahan batu dan timah. Melalui fotogrametri dan pengamatan mikroskopis, mereka menemukan variasi bentuk goresan U, V, serta dobel-U yang menunjukkan perbedaan alat dan teknik pemahatan pada masa klasik Indonesia.
Ketua Panitia sekaligus Ketua Umum PAEI, Dr. Wahyu Rizky Andhifani SS MM, menegaskan bahwa penelitian epigrafi terus memperkuat pemahaman tentang awal terbentuknya Sriwijaya. Ia menyebut prasasti sebagai sumber primer terpenting dalam sejarah Indonesia.
“Candi dan arca tidak dapat berbicara, tetapi prasasti berbicara langsung kepada kita,” ujarnya.
Wahyu berharap Senafi III menjadi tonggak penguatan disiplin epigrafi serta pembaruan metode penelitian Sriwijaya. Ia juga mengapresiasi dukungan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah VI Sumatera Selatan yang aktif mendukung kegiatan komunitas epigrafi di Sumatera dan Kalimantan.#udi