
Palembang, BP- Proses seleksi jabatan Direktur Utama Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Tirta Musi Palembang kini memasuki tahap akhir. Panitia Seleksi (Pansel) resmi mengumumkan tiga nama yang dinyatakan lolos Uji Kelayakan dan Kepatutan (UKK) dan berhak melaju ke tahap berikutnya, yakni wawancara akhir bersama Wali Kota Palembang.
Adapun ketiga kandidat tersebut adalah Muhammad Azharuddin, Oka Wriyadi Kurniawan, dan Teddy Andrian. Mereka dinilai memenuhi syarat administratif dan kompetensi dasar untuk memimpin salah satu perusahaan air minum terbesar di Sumatera Selatan itu.
Selain posisi Direktur Utama, Pansel juga mengumumkan hasil UKK untuk jabatan Direktur Umum dan Keuangan. Nama-nama yang berhasil melangkah ke tahap wawancara dengan Wali Kota yakni Akhmad Mukhlis, Erwin Adyanto, dan Ferry Kurniawan.
Tahapan seleksi ini menjadi bagian penting dari upaya Pemerintah Kota Palembang dalam memastikan keberlanjutan dan peningkatan kualitas layanan air bersih bagi masyarakat. Sebab, peran Perumda Tirta Musi tidak hanya strategis dalam penyediaan air minum, tetapi juga dalam mendukung pembangunan kota dan kesejahteraan warga.
Namun, proses seleksi tersebut tidak luput dari sorotan publik. Salah satunya datang dari pengamat politik dari Forum Demokrasi Sriwijaya (ForDes), Bagindo Togar BB, yang menilai tiga nama calon Direktur Utama Perumda Tirta Musi Palembang yang lolos UKK belum menunjukkan kapasitas yang memadai.
“Tiga nama yang muncul itu, saya lihat tidak memenuhi qualifikasi. Dari latar belakangnya, mereka tidak memiliki kompetensi yang cukup untuk menduduki posisi manajemen di PDAM Tirta Musi,” ujar Bagindo Togar, Jumat (17/10/2025).
Karena itu menurutnya seleksi tiga calon Direktur Utama Perumda Tirta Musi Palembang harus dibatalkan dan dilakukan seleksi atau Kocok ulang dengan melihat Fortopolio, kompetensi dan kapabilitas yang mumpuni serta intelektual dari paracalon Direktur Utama Perumda Tirta Musi Palembang.
Menurutnya, jabatan Direktur Utama PDAM bukan hanya soal kemampuan administratif atau manajerial, tetapi juga harus memahami teknologi manajemen distribusi air, sistem perairan, serta aspek hidrologi. Karena itu, ia menilai penting agar jabatan strategis ini diisi oleh sosok yang benar-benar profesional dan berpengalaman di bidang air minum.
“Kalau kita ingin PDAM kembali berjaya seperti dulu di era kepemimpinan pak Syaipul DEA , maka harus dikembalikan pada orang yang paham teknis, terbebas dari kepentingan politik. Dulu, Tirta Musi jadi salah satu PDAM terbaik di Indonesia, bahkan jadi tempat studi banding bagi daerah lain,” ujarnya lagi.
Bagindo juga menyoroti risiko besar yang bisa muncul apabila posisi tersebut tidak diisi oleh figur yang independen& kompeten. Ia menilai, tanpa pemimpin yang berpengalaman di bidang pengelolaan air, kota Palembang bisa menghadapi krisis air dan menurunnya kualitas layanan air bersih.
“Kota sekelas Palembang tidak boleh mundur dalam hal pelayanan air. Kalau tidak tepat memilih pimpinan, kualitas air dan pelayanan bisa turun. Harus dilihat latar belakang pendidikan dan pengalaman calon, apakah memang relevan dengan bidang air minum,” tegasnya.
Ia pun mengingatkan agar Pemerintah Kota Palembang dan tim seleksi berhati-hati dalam mengambil keputusan akhir. Menurutnya, jabatan Direktur Utama Tirta Musi bukan sekadar posisi administratif, tetapi tanggung jawab besar terhadap kebutuhan dasar masyarakat kota.
“Kita butuh orang yang mampu mengelola distribusi air secara efisien, menjaga kualitas, dan memastikan setiap rumah tangga mendapatkan layanan yang layak. Ini bukan sekadar jabatan, tapi amanah publik,” pungkas Bagindo.#udi