Profesor Mahyuddin Award 2025  di Launching ,  Apresiasi untuk Pejuang  Kebenaran, Kebaikan, dan Keadilan 

43
Profesor Mahyuddin Institute yang didukung YPM Foundation, RS Bunda Palembang, Universitas Sumatera Selatan (USS) Palembang resmi melaunching Profesor Mahyuddin Award (PMA) 2025  dalam acara yang digelar di Kampus A Universitas Sumatera Selatan (USS) Palembang, Jumat (29/8/2025). Ajang penghargaan ini digagas untuk mengenang sekaligus melanjutkan warisan intelektual, moral, dan sosial almarhum Prof. Mahyuddin—seorang ilmuwan, pendidik, sekaligus pemimpin yang dikenal sebagai tokoh teladan di Sumsel.(BP/udi)

Palembang, BP- Profesor Mahyuddin Institute yang didukung YPM Foundation, RS Bunda Palembang, Universitas Sumatera Selatan (USS) Palembang resmi melaunching Profesor Mahyuddin Award (PMA) 2025  dalam acara yang digelar di Kampus A Universitas Sumatera Selatan (USS) Palembang, Jumat (29/8/2025).

Ajang penghargaan ini digagas untuk mengenang sekaligus melanjutkan warisan intelektual, moral, dan sosial almarhum Prof dr. H. Mahyuddin NS, Sp.OG (K) —seorang ilmuwan, pendidik, sekaligus pemimpin  dan tokoh politik (Mantan Wagub Sumsel dan mantan Gubernur Sumsel dan mantan anggota DPR RI) Sumsel.

Acara launching  turut dihadiri Ketua Yayasan Pendidikan Penelitian dan Pengembangan Perkoperasian Sumsel (YP4SS) dr. Hj. Halipah Amin, Sp.THT, MM, Yudha Pratomo Mahyuddin Msc, PhD sebagai Pimpinan dari Profesor Mahyuddin Institute sekaligus Rektor Universitas Sumatera Selatan, Wakil Rektor I Prof. Dr. Ir. Leila Kalsum, MT, Wakil Rektor II Rabin Ibnu Zainal, SE, MSc., PhD, serta civitas akademika USS.

Baca Juga:  Jangan Terburu-buru Tetapkan KLB DBD

Wakil Rektor II USS Rabin Ibnu Zainal menjelaskan bahwa penghargaan ini memasuki tahun kedua penyelenggaraan setelah pertama kali digelar pada 2024.

“Profesor Mahyuddin Award diberikan kepada tokoh-tokoh inspiratif yang mampu menghadirkan perubahan positif, baik dalam bidang pengetahuan, kebijakan publik, maupun transformasi sosial-ekonomi. Tujuannya mendorong lahirnya generasi inovatif yang relevan dengan tantangan lokal maupun global,” ungkap Rabin.

Ia menuturkan, tahapan PMA 2025 dimulai dengan peluncuran publik pada 29 Agustus, dilanjutkan pembukaan nominasi hingga 10 September. Proses penilaian akan dilakukan pada 11–13 September oleh tim independen dengan indikator utama: nilai inspirasi, dampak sosial-ekonomi, serta integritas personal.

“Puncaknya, pada 14 September—tepat hari lahir Prof. Mahyuddin—penghargaan akan diberikan kepada tokoh-tokoh terpilih,” jelasnya.

Sedangkan Yudha Pratomo Mahyuddin Msc, PhD sebagai Pimpinan dari Profesor Mahyuddin Institute sekaligus Rektor Universitas Sumatera Selatan, yang juga putra almarhum Prof dr. H. Mahyuddin NS, Sp.OG (K), menegaskan bahwa penghargaan ini tidak sekadar seremoni, melainkan upaya melestarikan warisan nilai luhur sang ayah.

Baca Juga:  Korem 044/Gapo  Raih Penghargaan Pada Malam Penganugerahan Festival LIKE 2024

“Prof. Mahyuddin dikenal sebagai sosok yang jujur, lurus, dan selalu membela kepentingan rakyat. Kami ingin melanjutkan legacy beliau, bukan hanya dengan doa, tetapi melalui aksi nyata: mencari dan mengapresiasi orang-orang baik di Sumsel yang menegakkan kebenaran, kebaikan, dan keadilan,” ujarnya.

Yudha menekankan bahwa PMA 2025 terbuka untuk berbagai kategori, mulai dari guru, dosen, tenaga kesehatan, pengusaha, politisi, birokrat, aktivis, jurnalis, hingga aparat penegak hukum. Namun, ia menegaskan penghargaan ini tidak bersifat transaksional.

“Ini bukan award yang bisa dibeli. Tidak ada meja, tidak ada sponsor tersembunyi. Yang kami cari adalah orang-orang berintegritas, yang benar-benar memperjuangkan masyarakat dari profesinya masing-masing,” tegasnya.

Baca Juga:  Ayo Berwisata Ke Sungsang

Lebih jauh, ia berharap keterlibatan publik dapat memperkaya proses nominasi.

“Kami sudah mengumpulkan beberapa nama, tapi lingkup kami terbatas. Karena itu, kami mengundang masyarakat, akademisi, hingga media untuk mengajukan nominasi orang-orang baik di sekitar kita. Tim akan melakukan verifikasi langsung, bahkan hingga menelusuri rekam jejak digital, agar yang terpilih benar-benar layak,” tambahnya.

Menurut Yudha, esensi dari PMA adalah membuktikan bahwa masih ada orang baik yang bekerja dengan integritas, meski sering kali tenggelam di tengah hiruk-pikuk praktik tidak sehat di dunia politik, birokrasi, maupun profesi lain.

“Kalau selama ini ada ungkapan ‘sing waras minggir’, melalui penghargaan ini kita ingin membalikkan keadaan: yang waras, yang lurus, justru harus maju. Karena merekalah yang layak menjadi teladan,” tutupnya.#udi

Komentar Anda
Loading...