Palembang, BP- Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Kabupaten Lahat ke-156 yang jatuh pada 20 Mei 2025, pecinta budaya dan sejarah di Lahat menggelar kegiatan bertajuk Lahat Historical Walking Tour. Kegiatan ini menjadi ajang edukasi dan wisata sejarah bagi masyarakat dengan menyusuri jejak-jejak penting perkembangan Lahat dari masa ke masa.
Kabupaten Lahat sendiri berdiri pada 20 Mei 1869 dengan nama awal Palembangches Bovenlanden, dan pernah disebut Sidokan pada masa pendudukan Jepang. Secara administratif, Lahat ditetapkan sebagai daerah tingkat II melalui berbagai regulasi seperti UU No. 22 Tahun 1948, Keppres No. 141 Tahun 1950, serta PP No. 1959, dan diperkuat oleh UU Otonomi Daerah No. 22 Tahun 1999 yang diperbarui dengan UU No. 32 Tahun 2004.
Lahat Historical Walking Tour yang dipandu oleh budayawan Mario Andramartik bersama para guru sejarah seperti Ade Darmawan, Yasyer Arafat, Sri Hastuti, Tutianah, dan Eliza Setyawati, mengambil titik awal di halaman Perpustakaan Daerah Lahat, yang dulunya merupakan kantor Asisten Residen Palembangches Bovenlanden.
Perjalanan dilanjutkan ke sejumlah bangunan bersejarah, termasuk rumah dinas Asisten Residen, Gereja Santa Maria (dibangun tahun 1933), RS DKT Lahat yang dahulu merupakan Juliana Hospitaal, hingga kawasan bekas Kuburan Belanda yang kini menjadi pusat pertokoan.
Peserta yang berjumlah sekitar 70 orang dengan antusias mengikuti rute berikutnya ke Bengkel Balai Yasa, yang dibangun pada 1931 dan masih berfungsi hingga kini, serta perumahan karyawan yang kini menjadi Kelurahan RD PJKA. Tak ketinggalan kunjungan ke Terowongan Gunung Gajah, terowongan kereta api sepanjang 365 meter yang dibangun tahun 1928–1929, dan Klinik MULO yang dulu bagian dari sekolah MULO (kini SMP Santo Yosef Lahat).
Sekolah-sekolah warisan kolonial seperti SD, SMP, dan SMA Santo Yosef Lahat juga dikunjungi. Ketiganya tergolong sebagai Obyek Diduga Cagar Budaya (ODCB) karena usianya yang sudah lebih dari 50 tahun dan memiliki nilai historis tinggi.
Perjalanan ditutup dengan kunjungan ke rumah kayu setengah panggung yang kini menjadi kantor Polisi Militer, tugu perjuangan di depan Polres Lahat, serta rumah tua yang pernah disinggahi Presiden Soekarno dan menjadi rumah pertama para suster dari Belanda pada 1936.
“Kegiatan ini menjadi media pembelajaran sejarah di ruang terbuka yang menyenangkan. Sambil berjalan kaki, masyarakat diajak mengenal warisan sejarah yang selama ini mungkin terabaikan,” ujar Mario Andramartik, Selasa (13/5/2025)
Sementara itu, Sri Hastuti dari SMAN 4 Lahat menyebut kegiatan ini sebagai sarana belajar sejarah secara langsung. “Dengan hati gembira, sehat karena jalan kaki, dan ilmu juga didapat. Jasmerah!” katanya penuh semangat.
Senada, Eliza Setyawati dari SMPN 2 Merapi Barat menyampaikan harapannya agar kegiatan ini bisa menjadi agenda rutin yang lebih besar dan melibatkan lebih banyak pihak. “Antusiasme masyarakat sangat luar biasa. Ini langkah awal yang menjanjikan,” ujarnya.#udi