Selamatkan Naskah Kuno di Sumsel

23
Sosialisasi Program Pengarusutamaan Naskah Nusantara sebagai Ingatan Kolektif Nasional (IKON) di Hotel Harper  Palembang, Selasa (30/4)  malam. Acara yang digelar oleh Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Republik Indonesia (RI) bekerjasama dengan Masyarakat Pernaskahan Nusantara (MANASSA) itu.(BP/udi)

Palembang, BP– Prof Dr Oman Fathurahman M Hum, yang juga merupakan Dewan Pakar Program Pengarusutamaan Naskah Nusantara sebagai Ingatan Kolektif Nasional (IKON) melihat ada  7  aspek agar pelestarian naskah kuno dapat berjalan dengan baik.

“Tujuh aspek tersebut  yaitu regulasi dan kebijakan,  pemilik manuskrip kuno, konservasi, restorasi, digitalisasi, jejaring global,  database berbasis big data dan Sumber Daya Manusia unggul berkualifikasi. Karena itu kami mengajak berkolaborasi dalam melestarikan, perlindungan dan pengembangan naskah kuno di Sumatera Selatan,” katanya ketika menjadi salah satu narasumber Sosialisasi Program Pengarusutamaan Naskah Nusantara sebagai Ingatan Kolektif Nasional (IKON) di Hotel Harper  Palembang, Selasa (30/4)  malam. Acara yang digelar oleh Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Republik Indonesia (RI) bekerjasama dengan Masyarakat Pernaskahan Nusantara (MANASSA).
Dia mengungkapkan jika Perpustakan Daerah Sumatera Selatan  juga telah melakukan beberapa kegiatan yang berhubungan dengan pelestarian naskah kuno.
Diantaranya kata dia memberikan pengetahuan dan pelatihan kepada mahasiswa tentang hurup dan membaca naskah kuno yang menggunakan huruf ulu atau hurup Kaganga. “Kemudian penggunaan huruf ulu untuk nama-nama jalan, intansi dan lainnya.
Ketua Dewan Pakar Program Pengarusutamaan Naskah Nusantara sebagai Ingatan Kolektif Nasional (IKON) Dr Mukhlis PaEni  mengatakan jika manuskrip atau naskah kuno nusantara adalah identitas lokal suatu daerah.
Menurutnya setiap daerah yang ada di Indonesia yang menjadi pusat tradisi besar pada masanya. Naskah memberikan endapan ingatan terhadap keunikan lokal yang ada di daerah tersebut.
“Naskah nusantara yang ada di Sumatera Selatan ini, keunikan apa yang ada di dalamnya,” katanya.
Pakar yang pernah  membuat micro film terhadap 5.600 naskah kuno di Sulawesi Selatan itu mencontohkan jika salah satu naskah kuno di daerah asalnya tersebut ada idetitas lokal di dalamnya yang di naskah nusantara daerah lain tidak di temukan.
“Misalnya saja naskah nusantara Bugis, yang membicarakan bagaimana perahu itu di bangun. Jadi ada salah satu transkip mengenai arsitektural mengenai perahu,” katanya.
“Saya kira, tidak ada satupun naskah nusantara di daerah lain yang membicarakan mengenai perahu,” katanya.
Dia mengatakan jika di Sumatera Selatan ini cukup banyak naskah nusantara yang dapat menjadi identitas lokal.
Mukhlis PaEni,   menjelaskan  jika naskah nusantara adalah endapan pikiran intelektual masa lampau yang terekam dalam naskah.
“Berbahagialah saudara-saudara yang ada di  Palembang, karena generasi masa lampau bisa mengkristalisasi pikirannya dalam naskah sehingga bisa sampai kepada kita,”katanya.
Sementara itu, Dr Aditya Gunawan MA, mewakili  Perpusnas RI mengatakan  Kegiatan ini di lakukan sebagai salah satu upaya membangkitkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya Naskah Nusantara atau manuskrip kuno yang masih banyak tersebar di Nusantara.
Selain itu, naskah yang diregistrasi sebagai IKON akan lebih mudah dikenali oleh masyarakat dan menjadi kebanggaan pemilik budayanya.
Bahkan naskah nusantara yang memiliki nilai-nilai signifikasi sosial, budaya yang kuat dan penting bukan hanya bagi masyarakat Indonesia bahkan masyarakat dunia saat ini sudah menjadi  Memory of the Wodr (MoW) yang tercatat di UNESCO.
Program ini akan diselenggarakan di 6 daerah, yaitu di  Kabupaten Badung, Bali, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Kota Bima, Nusa Tenggara Barat, Provinsi Sulawesi Selatan, Provinsi Sumatera Selatan dan  Provinsi Sumatera Utara.
Dalam Sosialisasi Program Pengarusutamaan Naskah Nusantara sebagai Ingatan Kolektif Nasional (IKON) di  Palembang, juga menghadirkan tiga pembicara lokal.
Ketiganya yaitu Ketua  Manassa Komisariat Sumatera Selatan, Dr. Nyimas Umi Kalsum, S. Ag., M Hum (Universitas Islam Negeri Raden Fatah), Ketua Masyarakat Sejarah Indonesia (MSI) Sumatera Selatan Dr. Farida Warga Dalem (Univeristas Sriwijaya) dan KH. Mal’an Abdullah, M.HI. (Ulama, Peneliti Naskah Kuno).
Ketiga narasumber tersebut sepakat pentingnya menyelamatkan naskah-naskah kuno yang ada di Sumsel .
Sebelumnya, sosialisasi IKON di  Palembang tersebut di buka oleh Kepala Dinas Perpustakaan Daerah Sumatera Selatan M. Zaki Aslam, S.IP., M.Si.#udi

Baca Juga:  25 Jenazah Korban PO Bus Sriwijaya Sudah Diambil Keluarga, 3 Jenazah Masih di Kamar Mayat
Komentar Anda
Loading...