AMPCB Minta  Pemkot Palembang dan Polisi  Tindak Pelaku Pengrusakan Komplek Pemakaman Pangeran Kramajaya

71
Puluhan orang dari Aliansi Masyarakat Peduli  Cagar Budaya (AMPCB) berziarah ke Komplek Pemakaman Pangeran Kramajaya  yang terletak di di Jalan Segaran, Lr Kambing, Kelurahan 15 Ilir, Palembang, Jumat (17/3) siang. Sebelum komplek Pemakaman ini telah dirusak hingga rata dengan tanah oleh orang tidak bertanggungjawbab  dan di pasang seng di sekelilingnya. (BP/IST)

Palembang, BP- Puluhan orang dari Aliansi Masyarakat Peduli  Cagar Budaya (AMPCB) berziarah ke Komplek Pemakaman Pangeran Kramajaya  yang terletak di di Jalan Segaran, Lr Kambing, Kelurahan 15 Ilir, Palembang, Jumat (17/3) siang. Sebelum komplek Pemakaman ini telah dirusak hingga rata dengan tanah oleh orang tidak bertanggungjawbab  dan di pasang seng di sekelilingnya.

Selain berziarah rombongan AMPCB juga sempat melakukan orasi dan berdoa bersama dengan di kawal aparat kepolisian dan TNI.

Koordinator AMPCB , Vebri Al Lintani mengatakan, kalau pihaknya mendapatkan informasi dari media kalau Komplek Pemakaman Pangeran Kramajaya ini sedang menghadapi sengketa lahan, namun kini kondisi komplek pemakaman ini sangat miris lantaran di hancurkan  dan rata dengan tanah oleh orang yang mengklaim tanah tersebut berinisial AC.

“ Ungkonan  itu komplek pemakaman  kata orang Palembang , ungkonan apapun  jangankan ungkonan biasa tidak boleh di jual , lah ini dijual  dan menjadi sengketa , oke kita tidak masuk dalam unsur sengketa  tapi kita menggugat siapapun yang  memiliki  lahan ini bertanggungjawab dan wajib mengamankan  lahan, tapi ini tidak diamankan , malah makamnya di hancurkan ,” katanya.

Karena itu pihaknya melakukan ziarah  dan melihat nisan di Komplek Pemakaman Pangeran Kramajaya sudah habis semua dan hancur.

“ Kita sudah layangkan surat ke Polresta agar  menindaklanjuti surat itu  agar datang ke sini dan melalui undang-undang cagar budaya  segera memproses dan mempidanakan orang yang merusak Komplek Pemakaman Pangeran Kramajaya,” katanya.

Baca Juga:  Satgas Terima  Sejumlah Material di Lokasi TMMD

Selain itu pihaknya mendesak Pemkot Palembang mengerahkan Polisi Pamong Praja untuk membongkar seng –seng yang menutupi areal Komplek Pemakaman Pangeran Kramajaya.

“ Dan itu bisa masuk karena undang-undang memungkinkan untuk melakukan tindakan pengamanan seperti itu dan kembali memasang nisan-nisan itu dan menjaga dan jangan dirusak lagi,” katanya.

Dan kepada pihak yang menguasai lahan Komplek Pemakaman Pangeran Kramajaya  menurut undang-undang cagar budaya wajib mengamankan Komplek Pemakaman Pangeran Kramajaya.

“ Jika tidak di realisasikan kami akan datang kesini dengan massa yang lebih besar , yang kita khawatirkan  kasus ini akan memicu persoalan dan masalah sosial lain  karena kita tahu kondisi  sekarang , kita tahu itu akan memicu lebih besar lagi , istilahnya orang Plembang ini sudah di ampuk , betul-betul ngampuk , sudah diperingatkan Dinas Kebudayaan , sudah tahu ada merek cagar budaya masih di rusak, itu namanya ngampuk,”katanya.

Sedangkan Korlap AMPCB, Qusoi berharap Pemkot dan DPRD Palembang  turun tangan dengan kasus perusakan Komplek Pemakaman Pangeran Kramajaya ini .

“ Kami tidak ikut konflik internal zuriat ini , tapi yang kami perjuangkan adalah undang-undang cagar budaya  siapun menguasainya , harus dilindungi , kalu nak di bongkar  ngapo tidak kompromi dengan TACB dan Pemkot Palembang, dengan kami , ini malah di hancur leburkan , kita lihat nisan disingkirkan jauh-jauh, plang nama Dinas Kebudayaan  di hancurkan, gilo yang beli ini , tidak waras,” katanya sembari meminta Polisi Pamong Praja kota Palembang membongkar seng-seng yang menutupi Komplek Pemakaman Pangeran Kramajaya ini.

Baca Juga:  Pulang Umrah, Gubernur Siap Bertugas Lagi

Anggota AM PCB, Ali Goik menambahkan kalau mau membongkar Komplek Pemakaman Pengeran Kramajaya seharusnya pihak yang menguasai lahan Komplek Pemakaman Pangeran Kramajaya  tahu tata caranya    bukan sembarangan dengan melakukan pengrusakan seperti saat ini.

“ Kedepan Pemkot Palembang  harus menindaklanjuti kasus ini dan polisi harus tegas  menindak pelaku pengrusakan Komplek Pemakaman Pangeran Kramajaya ini,” katanya.

Sebelumnya Raden Abdul Azim Nato Dirajo, atau lebih dikenal Pangeran Kramajaya, Panglima Perang Kesultanan Palembang, yang tangguh dan tak mudah ditaklukkan Kolonial Belanda.

Era Kesultanan Palembang, Pangeran Kramajaya, jadi salah satu tokoh yang sangat berpengaruh dalam perlawanan terhadap Kolonial Belanda.

Kramajaya, dilahirkan di Palembang, pada 1207 Hijriah atau 1792 Masehi.

Pangeran Kramajaya merupakan anak dari Pangeran Natadiradja Raden Muhammad Hanafia. Zuriyatnya bersambung dari Sultan Muhammad Mansyur Jayo Ing Lago Ibn Susuhunan Abdurrahman Khalifatul Mukminim Syaidul Imam.

Pangeran Kramajaya juga salah satu menantu dari Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II, yang kala itu mempersunting R A Kramo Jayo Khotimah dan dikaruniai lima putri dan dua putra.

Putra dan putri beliau yakni, R A Azimah, R A Syaikho, R A Zakiah, R.A. Fatimah, R A Zubaidah, Pangeran Nata Diraja Abdul Hafiz, dan Pangeran Wira Menggala Abdur Roqib.

Selain itu, dari istri yang lain, Pangeran Kramajaya memperoleh 18 orang anak.

Baca Juga:  Koper Berisi Ganja, Sapira Ditangkap Polisi

Saat SMB II diasingkan ke Ternate, Pangeran Kramajaya menjadi penguasa terakhir di era Kesultanan Palembang.

Karena satu-satunya kerabat dari SMB II, hanya Pangeran Kramajaya yang tak diasingkan dan diberi amanah untuk meneruskan Kesultanan Palembang.

Pada masa Keresidenan, Pangeran Kramajaya, diangkat menjadi Perdana Menteri oleh Kolonial Belanda.

Pengangkatan itu lantaran Kolonial Belanda ingin memperalat dan menjadi Pangeran Kramajaya sebagai peredam gejolak pemberontakan yang dilakukan Pribumi.

Kendati dijadikan Perdana Menteri oleh Kolonial Belanda, Pangeran Kramajaya tetap tak mengindahkan perintah dan bersikeras menentang penjajahan Belanda di Bumi Sriwijaya.

Hal ini didasari kesetiaan dan kepatuhan Pangeran Kramajaya, terhadap perintah SMB II untuk tetap mempertahankan Kesultanan Palembang.

Sebelum diasingkan, SMB II memanggil empat pangeran yakni, Pangeran Kramajaya (Palembang) Pangeran Syawaluddin (Baturaja), Pangeran Abdurrahman (Tebing Tinggi-Lahat) dan Pangeran Cik Hasan (Musi Banyuasin, Sekayu).

Pada 1819, Pangeran Kramajaya dipercaya sebagai Komandan Buluwarti Timur di Benteng Kuto Besak dalam perang Menteng, dan Komandan Benteng Tambakbaya di muara Sungai Komering Plaju dengan senjata pusaka yang paling ampuh yaitu ‘Meriam Sri Palembang’.

Karena keberanian Pangeran Kramajaya, menentang Kolonial Belanda, Pada Agustus 1851, malam Pangeran Kramajaya ditangkap dan diasingkan

Pangeran Kramajaya wafat di usia 70 tahun. Kemudian jenazahnya dikubur di kampung 15 Ilir, Palembang.#udi

 

 

 

 

 

 

Komentar Anda
Loading...