
Palembang, BP- Dalam upaya keterlibatan dan partisipasi perempuan pada pesta Politik tahun 2004 menurut aktivis perempuan dan anak Sumatera Selatan (Sumsel) Yeni Roslaini Izi maka partisipasi dilakukan sejak tahapan persiapan, yakni dalam proses perencanaan penganggaran pemilu/pilkada yang berbasis kebutuhan masyarakat khususnya bagi perempuan (perencanaan transparan dan partisipatif).
“Konsolidasi kelompok-kelompok perempuan untuk mengawal pemilu/ pilkada dari tahap awal hingga akhir agar pemilu/pilkada lebih berintegritas,” kata Yeni saat menjadi narasumber Diskusi Publik yang di gelar Forum Jurnalis Parlemen (FJP) dengan tema “Perempuan dan Politik ditahun 2024” dilaksanakan di Lantai 3 gedung DPRD Sumsel, Sabtu (4/3).
Selain itu menurutnya perempuan secara aktif dan sistematis, terlibat langsung dalam setiap tahap pemilu/pilkada baik sebagai calon legislatif, calon kepala daerah/wakil kepala daerah, penyelenggara pemilihan, pemantau dan lain-lain
“Perempuan sudah ‘terbiasa’ berpolitik karena politik dimaknai sebagai pengambilan keputusan sehari-hari, kapan saja, dan dimana saja , selain itu perempuan berpolitik untuk membawa isu perempuan dalam pengambilan keputusan yang berdampak luas bagi masyarakat,” katanya.
Dia juga melihat ketimpangan keterwakilan politik perempuan dalam hal jumlah masih menjadi persoalan penting.
“Kebijakan afirmatif saja tidak cukup memperbaiki ketimpangan tersebut karena kebijakan publik masih belum sensitif terhadap kepentingan perempuan dan sangat penting bagi calon perempuan untuk mengenali & memahami isu perempuan di daerah pemilihannya, kebijakan di daerahnya yang mendiskriminasi perempuan dan berdampak pada kesejahteraan masyarakat,” katanya.
Apalagi menruutnya makma politik bagi perempuan adalah Politik dapat dipahami sebagai proses pengambilan keputusan yang terjadi di mana saja, kapan saja.
“Politik berlangsung dalam kehidupan sehari-hari dan juga berlangsung dalam ruang privat (the personal is political) dan bagi perempuan, politik formal dan informal selalu terkait (misalnya kenaikan harga BBM berpengaruhnya dalam rumah tangga),” katanya.
Selain itu dunia politik sering mengabaikan kebutuhan dan aspirasi perempuan yang dianggap wilayah privat, bukan formal.
“Manfaat perempuan berpolitik agar bisa membawa isu perempuan dalam pengambilan keputusan yang berdampak luas bagi masyarakat,” katanya.#udi