Wali dan Jasanya Mengenalkan dan Mengamalkan Islam di Nusantara (Bagian Kedua)  

167

Oleh: Azim Amin, Ketua Yayasan

Najahiyah Palembang

 

Julukan Maulana, Wali, dan Sunan. 

Pertama yg menyandang gelar maulana dalam sejarah Islam di Indonesia adalah Syekh Malik Ibrahim (1345-1419) Sebelum kedatangan beliau, Gresik  merupakan salah satu wilayah pelabuhan dengan penduduknya berasal dr berbagai negeri, India, Arab, Cina, dll. dan sejumlah kerajaan, serta penganut bermacam agama; Kong Hucu, Hinduisme, Budhisme, dan Islam. Letaknya tak jauh betul dari  pusat kerajaan Majapahit.

Disana sudah ada beberapa makam keluarga raja Muslim. Tepatnya di Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Maka kehadiran Syekh Ibrahim yg dijuluki masyarakat Aceh sebagai Maulana/ Tuan penolong kami, berasal dari negeri Gujarat/ India, dipandang lebih mengenal dan memahami ajaran agama Brahmaniyah/ Hindu yang masih dianut oleh beberapa petinggi kerajaan.

Kata “Maulana” berarti Tuan/ Penolong kami (Mnjd 1021). Sejak di Pasai, julukan ini sudah melekat pada diri seorang Syaikh, baik sebagai bentuk penghormatan bagi seorang Alim, maupun selaku  pendamping Sultan atau penguasa Muslim pencinta umat/ rakyatnya dimana saja berada. Saat di  resik, Syekh Maulana Malik Ibrahim selaku utusan Sultan dari kerajaan Islam tanag Aceh, memimpin rombongan, beberapa lama kemudian, dijuluki Wali Gresik,

Wali Gresik, (الوالي) kata benda pelaku dengan bentuk jamaknya al-wulah; artinya Hakim atau  Pemerintah (Munjid; 1021);   Bentuk kata kerjanya (ولِيَ-يلي-ولَيًا) maknanya mengiringinya tanpa batas m Dalam makna mewakilkan kekuasaan, menggunakan (ولّى), “wallaa Umar ibnu al-Khotthobi R.A. Said ibna ‘Amirala Himshin: Kholifah Rasulillahi Amirul Muminin Umar bin Khotthob R,A mewakilkan kekuasaannya kepada Said bin Amir sebagai Waali, yakni Hakim di negeri Hims/ Homs Sirya; Untuk makna memberikan kekuasaan  bentuk kata kerja “ tawallaa”, (- تولّىtawallaa). -.(قاموس عربي إندونيسي ص 506-507) . Misalnya “wa tawallani fiiman tawallaita: berilah kekuasaan kepada Kami sebagaimana orang yg telah Engkau beri kekakuasaan. Ungkapan lainnya seperti “tawalla  as Sulthon fulanan”; Sultan menjadikan/ Fulan sebagai Wali dalam arti  Hakim, Pemerintah, maka dalam konteks ini, kepala utusan Sultan Aceh ke Gresik menyandang jabatan sebagai Wali (waalin/ waaliyun) Hakim, karena mengurus kepentingan rakyat beragam budaya, dan kaum Muslimin, seperti pernikahan, arah kiblat, bagi waris, harta wakaf, dll. Syekh Maulana Malik Ibrahim  merupakan Wali pertama di tanah Jawa.

Baca Juga:  KPU Kota Palembang Bidik Pemilih Pemula Di Kampus

Beda dengan kata “ (ولِيٌّ) Waliyyun”. Kalimat ini dpt disebut sebagai sifat almusyabbahah, lepas dr konteks waktu. Maknanya lebih dalam lagi “ beriman, bertaqwa, dan sangat patuh/ taat”. Misalnya kalimat “Al Muminu Waliyullah. Orang beriman itu mematuhi Allah. Terbentuk dari fiil tsulatsy secara simaan (tutur secara turun temurun): seperti kata “Hasanun, Kariimun, Layyinun, Sahlun wa Sobun. (Mnjd Tho).

Maka  bentuk kata jamanya adalah “auliya”. Sehingga sebagian ahli bahasa mengatakan, bahwa ” Wali dalam pandangan kaum Muslimin, mirip dengan pandangan kaum Nashoro terhadap Petinggi Gereja/ Paus dll nya. Dalam surat azzumar/39:3;

“… ألا لله الين الخالص،  و الذين اتخذوا من دونه أولياء …..”, kata auliyadapat diterjemahkan sebagai  “ para pemuka/ tokoh agama yg sangat mematuhi Allah, juga sebagai “Penolong/ Tuhan. “ Ketahuilah, bagi Agama yg tulus (suci dari syirik) Berkata orang-orang yg menganbil Tuhanselaun daripadaNya.Kai tiada menyembah mereka (auliya/ berha-hala)  melainkan supaya mereka menghampirkan kami kepada Allah sehampir-hampirnya (Mahmud Junus dan H.M.K .Terbitan ke-7; 1957-1376. H: 385, Tafsir Qur`an Kariim, Pust.Mahmudiyah Djakarta);  Sedangkan kalimat Waliyul ‘Ahdi: putra mahkota, Waliyul yatim: pengasuh anak yatim.  (Mnjd 919).

Seorang yg amat dekat dengan seseorang disebut Waliy dan jamanya auliya. Waliyuha: keluarga dekatnya; Maka Ulamayg berjihad  atau berusaha keras mendekatkan dirinya kepada Allah dalam semua urusan hidupnya dengan iman dan taqwa yg sebenarnya dapat digolongan sebagai  Wali-wali/ Auliaya.   Jika kata Wali disini dikaitkan dengan firman Allah SWT pada surat SabaAhzab /33;65:   ..laa yajiduuna waliyyan wa la nashiran”. Tiada didapati pemimpin dan pembantu yang sangat dipatuhi. Demikian pula pada surat Saba/34:41; “Anta Waliyunaa…” Engkaulah yang memimpin kami…;

Baca Juga:  Tiga Pengedar Sabu ditangkap

Kalimat ini tertera dlm firman Allah surat al Maidah/05: 51: hai orang-orang yg beriman, janganlah kamu angkat orang Yahudi dan orang Nasrani menjadi wali-wali – sekelompok orang dekat/ pemimpin  yg dipatuhi,- sebab sebagian mereka menjadi wali wali oleh yang lain, barang siapa mengangkat mereka itu, adalah ia masuk golongan mareka. Allah tiada menunjuki kaum yang aniaya”. Kalimat itu didapati pula dalam surat Yunus/10:62-64: ” ketahuilah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tiada takut dan tiada pula berduka cita yaitu orang-orang beriman dan takut kepada Allah* Untuk mereka kabar kesukaan waktu hidup didunia, dan di akhirat, tiada bertukar-tukar kalimat Allah, demikian itulah kemenangan yg besar ”. Maksudnya, jika Wali-wali ini mendapat/ ditimpa malapetaka (bala/ ujian berat), mereka terima dg hati yg sabar dan iman yg  teguh, sehingga kedukaannya itu dengan sebentar, lenyap dari dalam hatinya.

Tingkat keteguhan iman dan taqwa wali-wali itu, menurut Allah swt seperti terpapar dalam al Qur`an surat Fathir/35: 32 “ Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yg Kami pilih diantara hamba-hamba Kami, lalu diantara mereka ada yang menganiayai diri mereka sendiri. ada yang pertengahan dan ada (pula) yang lebih cepat; tanggap berbuat kebaikan “  dengan izin Allah. Yang demikian itu  adalah karunia yg amat besar.”;

Adapun salah satu bentuk taqwanya, melaksanakan perintah pengenbangan dakwah dan pendidikan,  dg berbagai macam cara dan bentuk pendekatan.  Selalu  berkreasi dan bervariasi membuat sarana/ media bermanfaat untuk mendukung  kegiatan tersebut diatas sambil mengawasi dan menjauhi perbuatan yg dilarang Allah. jika hasil kreasi awalnya kurang tepat, karena terbentur waktu, tempat materi dan keadaan, tetap mendapatkan satu pahala dalam berkreasi, jika sudah tepat dan bermanfaat, dapat doble pahala.

Keberadaan Wali-wali ini di berbagai negeri dibawah kekuasan raja Hinduieme di tanah Jawa,  sangat membantu Raja, terbina masyarakat yang taat menjalankan Islam, dan hasilnya  menjadikan rakyat kerajaan Majapahit hidup rukun/ damai. Tak ada paksaan menganut ajaran agama Islam atau Hinduisme. Peran wali-wali ini telah semakin mengokohkan persahabatan antara dua kerajaan yg bercorak Hinduieme dan Islam. Maka penduduk Jawa lebih pasih menyebutnya Sunan, sebagai gelar untuk jabatan Raja (KBM 2624).  Sunan penguasa di negeri Gersyik ini, mudah dijumpai para pembesar kerajaan manapun, baik di psantren yg dibangunnya, maupun pada setiap hari jumuat di masjidnya.

Baca Juga:  Hibah Untuk Puslatpur  TNI AD di Martapura Terealisasi Hanya Rp 7 Miliar

Langkah pertama para Sunan selalu bermusyawarah dalam mengambil keputusan sesuatu. Tugas pokoknya adalah usaha mencerdaskan keluarga bangsawan, dan rakyat setempat maka disusunlah beberapa rencana dan waktu serta tempat yg tepat untuk kegiatan diluar Gresik. Rencana menjawab rencana, sarana, kapan, dimana, keadaan, seperti apa yg perlu diadakan;  dan siapa pula yg tepat dan ahli mengamalkannya,  agar lahir generasi tunas muda yg mahir membaca, mengarang, melukis, mengukir, berhitung dengan huruf al Qur`an dan angka Arab. Langkah kedua, dengan melatih beribadah dan memberikan keterampilan melalui kursus, bela diri, bertani; bersawah, berladang, berternak, berkebun, melaut, bertukang, berkerajinan membantik, memahat,  mengukir, dls.

Masa para Sunan memberikan penyuluhan/ pencerahan dan pendidikan/ pengajaran serta kursus keterampilan kepada rakyatnya diawali di Gersyik, Jawa Timur pada akhir abad 15 M (1370-1400); tahun 1405.M, kaisar dinasti Ming Yung-Lo mengirim kapal-kapal ke negeri-negeri pelabuhan yg ramai dikunjungi orang-orang Muslim; Dengan kebijakannya, telah mengangkat seorang walinya; Haji Bong Tak Keng selaku pemimpin Masyarakat Tionghoa Muslim di Champa (kini Vietnam). Pada th ini pula, Parameswara mengirim walilnya menghadap Kaisar, namun belum berhasil, Selanjutnya, Laksamana Zheng Ho, mengunjungi negeri Palembang (Murodi, 1993:14), Puluhan tahun Palembang dibawah kekuasaan Chen Si Yu hingga Liong Tau Ming, yg dapat ditangkap Zheng dan menyerahkannya kepada Kaisar. Dalam perjalanannya pulang ke negeri China, setelah membentuk Komunitas di Vietnam, membentuk pula di pelabuhan Palembang, dan beberapa pelabuhan di tanah Jawa. Dua tahun kemudian, 1407.M.#

Komentar Anda
Loading...