Wali  dan Jasanya Mengenalkan dan Mengamalkan Islam di Nusantara (Bagian Pertama)

274

Oleh : Azim Amin , Ketua Yayasan Najahiyah Palembang

 Pendahuluan

SEBELUM  muncul nama Indonesia pada akhir abad ke 19 M hingga awal abad 20 M. Negeri ini  lebih dahulu dikenal sebagai negeri Jawa. Dalam sejarah masuk dan berkembangnya ajaran agama Islam, disebut  sebagai juzur khotthu al istiwa` (negeri kepulauan dilintasi garis edar mata hari).

Kalimat juzur disingkat ja; sedangkan kata al istiwadisingkat wa, sehingga disebut oleh bangsa Arab sebagai Jawah/ Jawa, terutama beberapa pulau besar; Sulawesi, Kalimantan, Sumatera dan lainnya. Kata ini terungkap pada sepotong bait dalam sebaris syiir  oleh penyair sungai Nil terkenal; Jenderal Hafiz Ibrahim (1872-1932) dalam diwannya menyambut abad ke 13 Hijri berjudul “alAm al Hijry sbb:

“ … wa fiihi badat fii ufuqi jaawa lamhatun# adloo`at liajlihaa s sabiilu fabakkaruu”; Pada abad ke 13 ini, cahaya Islam yang  terang benderang itu akan muncul dari ufuk tanah Jawa/ Nusantara. yang telah menyinari perjalanan bangsanya, maka segeralah kalian kaum Muslimin sedunia menyongsongnya;

Hafiz Ibrohim adalah salah seorang ustaz/ guru penulis bernama Prof. Husin Achmad, (Bukit Tinggi) yg kuliah  di Jami’ah ‘Ainissyam Mesir bersama dua sahabatnya; Ustaz Kiyai Malian Jaman, Palembang, dan ustaz Prof. Muchtar Jahja (Bukit Tinggi). semasa kuliah di IAIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta. Selanjutnya nama tanah Jawa dapat disebut “bumi Nusantara” sebagai salah satu Negara berpenduduk mayoritas Muslim terbesar di dunia.

Keberhasilan menjadikan bumi Nusantara berpenduduk mayoritas Muslim, tak lepas dari peran Ulamanya. Kata “Ulama” bentuk jamak dari kata ‘Aalim, secara etimologis/ bahasa berarti mencakup semua ahli dan cendikiawan dalam berbagai bidang, temasuk montir misalnya (baca surat Fathir/35: 28).  Sedangkan secara terminologis, dalam artian yang umum adalah yang mengerti agama Islam (Ulama Islam). Dengan demikian, “Majelis Ulama Indonesia (MUI) berarti Majelis Ulama Islam, bukan yang lain (Set. MUI, Mesjid Agung Al Azhar, Kebayoran Baru, 1976, 102).

Baca Juga:  Fraksi-Fraksi DPRD Sumsel Nilai Raperda RPJMD Sumsel  tahun 2018-2023 Masih Banyak Masalah

Sejak dahulu, mereka mendapat kehormatan tinggi sebagai pendamping Sultan/ Raja/ Hakim atau Penguasa di wilayahnya masing-masing. Kedudukannya digelari Syaikh, aktivitasnya bukan saja telah mendidikkan ajaran agama Islam bermazhab ahlus Sunnah wal jama’ah, dg beberapa alirannya, melainkan juga telah membina adat istiadat masyarakat setempat menjadi cikal bakal tumbuhnya benih peradaban bangsanya yang bermanfaat utk memajukan kebaikan hidup rakyatnya hingga sekarang terus dilanjutkan dan dirawat dengan sebaik-baiknya agar tetap kokoh.

Kata syaikh/ syekh dalam Al Quran disebut “syaikhun kabir” , surat  al Qoshos/ 28: 23. Kisah dua putri nabi Syuaib AS yang menjawab keheranan nabi Musa AS, mereka baru dapat air utk meminumkan ternak kambingnya setelah selesai para lelaki pengembala lainnya itu “. “Sedangkan bapa kami seorang yg sangat tua”.  Maksudnya adalah “ayah kami seorang Nabi yg sudah berusia sangat tua”. Kalau semakin tua, tak dapat menjadi Alim/ Ulama, maka dikenal masyarakat kita sebagai “tua bangka”, artinya: tua keras dan kaku (KBM. h.222), dalam bahasa Arabnya menurut penulis, dapat disebut sebagai syaikhun ahmaq.

Mustafa Mumin (Dr.Ir) dalam tulisannya “qosamatul alam al Islami al maashir”, (Cairo, 1394/ 1974: 269), mengatakan, “ajaran Islam masuk ke Nusantara/ Indonesia dikenalkan oleh Syekh Abdullah Arif (w.1290.M) berasal dari negeri Arab. Beliau menginjakkan kakinya di kerajaan Islam Samudera Pasai; dekat negeri Perlak; Aceh, yang masa itu dipimpin Sultan Malik Saleh, hal ini dikuatkan sumber yg ditulis  sejarawan Marcopolo, pada tahun 1292.M.

 

Pada abad 13 M ini, kerajaan Sriwijaya yg berpusat di Jambi dan Palembang Sumatera bagian Selatn mulai melemah, muncul kerajaan Majapahit yg berpusat di Jawa Timur yang didirikan Raden Wijaya, raja pertamanya, bertahta 1294-1309 M. Saat Syekh Maulana Malik Ibrahim tiba di Gresik, Kerajaannya dipimpin raja IV, Hayam Wuruk (Rojosonegoro), bertahta 1351-1389, dan rajanya yg ke-5 dipimpin raja Wikromo Wardhono, bertahta 1389-1427.

Baca Juga:  Alex Diberi Gelar Pangeran Natadiraja Utama

 

Masa ini pula, dinasti Ming Islam lahir di Cina/ Tiongkok (1368-1644). Masa ini, selain raja Wikromo Wardhono, mengirim armada lautnya ke Palembang dibawah pimpinan Laksamana Adytiwarman untuk mengambil alih kekuasaan pelabuhan Kukang/ Fo lin-fong (Palimbang) dari tangan Chen Su-yi, kepala penguasa  laut Cina Selatan, Wardhono juga sudah menjalin persahabatan  dengan penguasa dan Ulama kerajaan Islam di Aceh untuk membantu pencerdasan rakyatnya di pelabuhan Gresik, Kadipaten kerajaan Majapahit.

Seperginya Syekh/ Maulana Malik Ibrahim menuju Gresik, beberapa sahabatnya yang lain pergi berkelana ke berbagai  daerah lain pula, untuk mengenalkan dan mengajak penduduk setempatnya masing-masing agar menjadi cerdas. Beberapa abad kemudian, lahirlah tokoh Syekh al ‘Allamah sebagai Wali di wilayah Kudus, tanah Jawa  dijuluki Sunan Kudus w. 1560.M. gelar ini melekat dalam diri beliau karena ilmu Islamnya luas, menguasai ilmu Tauhid, Ushul, Hadits, Fiqh, Adab/ Kesenian, tasawuf, dan ilmu Mantik. Karya Tulis ilmu Adabnya  tentang Gending Mijil (lirik/ instrumen) musik  gamelan, dan t embang Pangkur.

Julukan inipun diberikan kepada salah seorang putra Sunan Gunung Jati; tokoh pendiri Kesultanan Banten, yang dinobatkan sebagai Sultan tahun 1525. Resmilah sebutan nama lengkapnya Asy-Syaikh Sultan Syarif Maulana Hasanuddin Al-Azhamatkhan Al-Husaini Al-Bantani di tanah Sunda, bertahta dalam rentang tahun 1525-1570.M. Demikian pula lahir generasi Syekh di tanah Aceh, semisal Syekh Hamzah Fansyuri (1589-1604.M), Syekh Abdurro`uf (1615-1623.M), Syekh Syamsuddin as Sumatrani (1570-1630.M), dan Syekh Nuruddin ar Raniri (wf. 1658), Syekh Burhanuddin di Padang Pariaman.

Sedangkan di Palembang antara lain dikenal Syekh Abdusshamad al Falimbani (w.1790.), dan Syekh Kemas Haji Muhammad Azhari bin Abdillah bin Ahmad Alfalimbani (w 1874). Syekh Muhammad Azhari ini keturunan Sunan Kudus. Nama tambahan Azhari, karena menuntut ilmu  beliau bukan hanya di Hijaz (Makkah dan Madinah) melainkan juga sampai ke Jami’ah al Azhar di Mesir. Gelar ini hanya diberikan kepada mereka yg menguasai beberapa vak ilmu agama seperti disebutkan diatas, dan memberikan fatwanya atas masalah yg hangat dan ramai dibahas di tengah masyarakat, terutama pada zaman kerajaan Turki Usmani. Hingga kini, gelar Syekh disandangkan para petinggi jami’ah al Azhar Mesir, seperti dijabat Grand Syekh Al-Azhar Ahmad Ath-Thayyeb dan Mufti Mesir Syekh Syauqi Ibrahim Abdul Karim ‘Allam.

Baca Juga:  PDIP Sumsel Belum Tentukan Sikap di Pemilukada Sumsel 2020

Dapatlah dipahami, peranan Syekh Maulana Malik Ibrahim mengenalkan, mengembangkan dan membangun pencerdasan umat yg dibinanya itu merupakan usaha membangun peradaban Islami pertama di tanah Jawa yg dimulai dari Kadipaten Gersik setelah berhasil melakukan hal yg sama di tanah Aceh sangatlah besar jasanya.

Adapun sejarah mulai berkembang Islam di pulau Jawa, antara lain diawali dengan kedatangan utusan Sultan kerajaan Islam Pasai Aceh ke negeri pelabuhan Gresik. atas permintaan raja Majapahit untuk mempererat persahabatan antara rakyat Aceh dan Gersyik. Letaknya dekat dengan pusat kerajaan di Mojokerta, Jawa Timur, Utusan ini dipimpin Syekh Maulana Malik Ibrahim (1345-1419) guna memenuhi menolong pengadaan tenaga pendidik dan penyuluh ajaran Islam, terutama guru Bahasa.

Dalam perjalanannya menuju Gersik, sengaja singgah seperlunya ke pelabuhan Palembang, karena   waktunya sudah mendesak, juga pelabuhan Palembang masih dikuasai penuh oleh penguasa laut Cina Selatan seperti disinggung diatas. Dalam tulisan ini akan memaparkan gelar Maulana sebagai Syekh di Aceh menjadi Wali diberbagai wilayah di Jawa dan gelar Sunan sebagai wali, dan peranan mereka dalam mengajarkan agama Islam Sunni, serta makna ziarah terhadap mereka.#

Komentar Anda
Loading...