CURAHAN HATI SULTAN MAHMUD BADARUDDIN II DI PENGASINGAN

105

 

BP/IST
Vebri Al Lintani

Oleh: Vebri Al Lintani 

 

“Remuk dan redam rasanya hati

Lenyaplah pikir budi pekerti

Jikalau kiranya hamba turuti

Daripada hidup sebaiknya mati”

 

Seuntai syair di atas adalah cuplikan bait ke-8 dalam bait-bait “Syair Burung Nuri” karangan Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II yang semasa dia diasingkan ke Ternate.  Sebenarnya, “Syair Burung Nuri” ini  merupakan kisah cinta yang tak sampai, antara burung Simbangan dengan burung Nuri. Namun, jika menyimak isi 15 bait di bagian awal, agaknya Sultan Mahmud Badaruddin II menulis ungkapan perasaan hatinya yang dalam keadaan tidak berdaya, diombang-ambingkan nasib, sedih, pilu dan rindu dengan kampung halamannya.

Sebagaimana dalam warkah sejarah, SMB II adalah Sultan Palembang Darussalam yang ke -7. Nama kecilnya  Pangeran Ratu Raden Hasan bin Sultan Bahauddin. Dia lahir di Palembang pada 23 November 1767. Ketika berusia 37 tahun atau tepatnya pada 12 April 1804 dia naik tahta menggantikan ayahnya. Dia dinobatkan setelah 10 hari ayahnya wafat. Sejak itu, dia menjadi pemimpin Palembang Darussalam dengan gelar Sultan Mahmud Badaruddin. Untuk membedakan gelarnya  dengan buyutnya yang sama, maka pemimpin yang kharismatik ini populer dengan nama Sultan Mahmud Badaruddin II. Dalam kaidah bahasa Indonesia angka Romawi II dibaca ke-dua. Sedangkan buyutnya adalah yang ke satu dengan penanda angka Romawi “I” lengkapnya: Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikramo.

Semasa berkuasa, Sultan Mahmud Badaruddin II tercatat telah beberapa kali memimpin pertempuran melawan kolonial  Inggris dan Belanda, di antaranya adalah pertempuran di uluan melawan Inggeris (1811), perang sungai dahsyat yang disebut dengan  Perang Menteng pada tahun 1819. Dalam Perang Menteng, Palembang tampil sebagai pemenang. Peristiwa dramatis yang herois ini dapat disimak dalam histiografi “Syair Perang Menteng”. Menurut sejarawan Taufik Abdullah, melihat pililhan diksi yang indah dan keluasan isinya diduga kuat penulisnya adalah SMB II.

Selanjutnya,   Belanda yang sangat bernapsu menguasai Palembang melancarkan penyerangan kembali pada tahun 1821. Dengan kelicikan politik adu domba dan tipu daya, akhirnya Belanda berhasil menguasai Palembang pada Juli 1821. SMB II dan keluarga ditangkap dan diasingkan ke Ternate.

SMB II (BP/IST)

Menjelang tengah malam pada 3 Syawal 1236 Hijriyah  atau jika dikonversi dengan pertanggalan Masehi adalah 3 Juli 1821, SMB II, beserta sebagian keluarga dekatnya menaiki kapal Dageraad.  Pada 4 Syawal,  rombongan SMB II belayar menuju Batavia, dan selanjutnya diasingkan ke Pulau Ternate. Di Ternate, rombongan keluarga pembesar Palembang ini menempati satu kawasan yang kemudian dikenal dengan Kampung Palembang. Kehidupan Sultan dan keluarga di Ternate benar-benar dikontrol ketat oleh Belanda. SMB II menghembuskan  nafas terakhirnya pada 26 September 1852 dan dimakamkan di Ternate juga.  (Sketsa tempat tinggal Sri Paduka Sultan Mahmud Badaruddin II disimpan oleh Sultan Mahmud Badaruddin III Prabu Diradja).

Baca Juga:  Demo di Luar Ruang Sidang Musda Golkar Sumsel, Keinginan AMPI Akhirnya Diakomodir

SMB II dikenal sebagai Sultan sekaligus juga ulama yang cerdas, tegas, berani, al-hafiz (hapal alqur’an) berwawasan luas dan bijaksana. Ketika dia ditaklukan dengan siasat licik dan dalam keadaan dilematis,  dia memberikan pernyataan “menyerah tidak, melawan pun tidak”.  Dia dijuluki oleh pihak penjajah sebagai ”Harimau yang Tak Kenal Menyerah”.   Karena perjuangan dan jasanya, Negara telah menganugerahkan “Pahlawan Nasional”  berdasarkan SK Presiden RI No 063/TK/1984. Semasa dalam pengasingan di Ternate, SMB II menulis  Syair Sinyor Kosta, Hikayat Martalaya, Syair Nuri dan Pencuri.

Kendati demikian, sebagai manusia biasa, sudah tentu Sultan Mahmud Badaruddin II memiliki perasaan yang sama dengan manusia lainnya. Dia memiliki perasaan gembira, senang, duka dan sedih. Maka sangat wajarlah jika dalam satu tulisan sastranya ketika di pengasingan di Ternate, paduka Sultan pun menuliskan curahan hatin yang mengharukan.

Curahan hati itu ditemukan dalam karya sastra mansukrip (tulisan tangan beraksara Jawi atau Arab Melayu), berjudul “Syair Burung Nuri”, tersimpan dalam koleksi Bagian Naskah Museum Pusat dengan kode, bernomor  ML B:21×16 cm, 21 halaman, 20 bari. Manuskrip itu kemudian dialihaksarakan oleh Jumsari Jusuf, Departemen P dan K, Jakarta, 1978. Di Leiden, Belanda, syair ini hanya ada satu, yaitu Cod. 0r.33401.

 

CURHAT SANG SULTAN

Dalam tradisi kepengarangan masa lalu,  di awal tulisan,  sang pengarang lazim merendahkan hatinya. Dalam karangan “Syair Burung Nuri”, pengakuan keterbatasan pengarang itu  tampak dalam bait ke-1 hingga bait ke-4.     Pengarang menyebut dirinya seorang yang fakir dan  hina, sehingga kata-kata yang ditulisnya itu mungkin dianggap salah berdasarkan fikirannya yang kurang sempurna (bait ke-1). Seseorang itu dianggap hina jika dia tidak berakal, bersikap kurang sopan, berakhlak rendah, dan hidup dalam keadaan miskin (bait ke-2). Oleh karena itu, disampaikan permohonan maaf sekiranya perkara yang ditulis daripada perasaan kecewanya itu menghasilkan kata-kata yang kurang menarik dalam warkah tersebut (bait ke-3). Penyair menulis lembaran sebagaImana adab seseorang kepada pasangannya yang sedang bercinta, agar pasangan tidak kecewa maka dia menjadikan selembar surat sebagai saluran meluahkan perasaan.

Baca Juga:  UBD Sinergi dengan Pemkot Pagaralam, Rancang Pengembangan IT

Simaklah:

Bermula warkah  surat rencana

Ikatan fakir yang sangat hina

Sajak dan nazam banyak tak kena

Daripada pendapat kurang sempurna.

 

Gerangan sungguh amatlah lata

Perinya akal gelap gulita

Hemat pun rendah dha’if beserta

Tambahan badan miskin dan nista

 

          Beribu ampun kiranya tuan

Atasnya ulu fakir nistawan

Daripada masgul gundah merawan

Terperilah madah patik nan tuan

 

          Dituliskan sahifah supaya nyata

Barang yang ghairat di dalam cinta

Terpikir-pikir bukan menderita

Dakwat dan kertas tempat berkata

 

Pada bait-bait berikutnya, pengarang (SMB II) menceritakan nasib hidupnya yang dirundung malang, mengambah lautan berulang-ulang, banyak mudhorat dan selalu dalam kemalangan (bait ke-5). Hanyut ke sana ke mari tak tentu arah ke segenap pesisir, desa negeri, banyak penemuan yang baik dan ngeri, hingga tak selera makan dan minum (bait ke-6).

Pengarang mengatakan “bangun terjunun’ (“junun” dalam bahasa Melayu artinya majenun/gila).    Diksi bangun terjunun dapat ditafsir, bahwa pengarang bangun tergila (merasa gila), terpikir gundah tak menentu. Perasaannya itu dilukiskan dengan metafora “laksana cermin jatuh ke batu”, remuk dan redam jatuh ke situ (bait ke-7). Betapa remuk redamnya perasan hatinya, hingga hilanglah segala nilai pikir dan budi pekerti. Jika menurutkan perasaannya lebih baik dia memilih mati daripada hidup (bait ke-8).

Pengarang menyadari kehidupannya bagai tersesat di lautan bena, terombang-ambing oleh nasib dengan kondisi yang sangat dhaif dan hina (bait ke-9) . Sudah menjadi nasibnya mengalami segala kekurangan, berada di negeri orang, terasa begitu menderita. Penarang lukiskan perasaan itu “bagaikan perahu terhempas di karang” (bait ke-10).   Hancur dan luluh terasa setiap saat, terasa seperti “junun” (gila)  setiap saat, kesedihan bercampur ngeri. Pengarang menyadari bahwa nasib memang tak dapat dihindari (bait ke-11).

Pengarang merasakan mudarat senantiasa, kesedihan, kegembiraan tidak sentosa dirasakan. Menjelajah lautan, mengedari desa, hilanglah sekalian perasaan (bait ke-12). Penyair melukiskan penderitaan yang tiada lagi terkira, tertutup  akal, tak dapat bicara, jiwa dan raga amatlah sengsara,  sebagai “ikan di atas bara”  (bait ke-13).

Sudah nasib hidupnya, tidak pernah merasa senang, tertutup pikir (bait ke-14).  Meski demikian, Pengarang  menyatakan,  masih untung dia  dapat melipurkan diri dengan madah berita. Maka diapun mulai menulis cerita “Syair Burung Nuri” sebagai pelipur lara (15). Syahdan, pengarang memulai menceritakan isi atau kisah cinta yang kandas antara Burung Nuri dan Burung Simbangan.

Baca Juga:  Tentara Kodam Mengajar di Bina Darma

Lengkapnya, mari ikuti bait-bait syair curahan hati SMB II dalam sebagai berikut:

 

(5) Sudahlah nasib untung yang malang

Mengambah lautan berulang-ulang

Mudharatnya bukan lagi kepalang

Senantiasa di dalam nasib dan walang

 

(6) Anyutlah badan kesana kemari

Segenap pesisir desa negeri

Bertambahlah pula sopan dan ngeri

Santap nan tidak minum pun kari

 

(7) Bangun terjunun badan suatu

Gundahlah pikir tiada tertentu

Laksana cermin jatuh ke batu

Remuk dan redam jatuh di situ

 

(8) Remuk dan redam rasanya hati

Lenyaplah pikir budi pekerti

Jikalau kiranya hamba turuti

Daripada hidup sebaiknya mati

 

(9) Hidup nan sudah seperti fana

Bagaikan sesat di laut bena

Kesana kemari tiada berguna

Daripada sangat dha’if dan hina

 

(10) Sudah nasip badan yang kurang

Jatuh terselip di negeri orang

Sakitnya bukan sebarang-barang

Laksana perahu terhempas di karang

 

(11) Hancur dan luluh badan sendiri

Junun bergelut sehari-hari

Gundah gulana bercampur ngeri

Nasib nan tidak dapat diingkari

 

(12) Mudharatlah badan senantiasa

Pilu galabah tiada sentausa

Mengambah segara memidari desa

Hilanglah lenyap sekalian pengrasa

 

(13) Susahnya tiada lagi terkira

Tertutuplah akal habis bicara

Jiwa dan badan amatlah sara

Sebagai ikan di atas bara

 

(14) Sudahlah dengan nasib bilaka

Tidaklah sekali menaruh suka

Tertutuplah pikir tiada terbuka

Galiblah sahan di dalam duka

 

(15) Apakan pula hendak dikata

Sudahlah untung nasibnya beta

Dilipurkan dengan madah berita

Terperilah konon suatu cerita

 

Demikianlah, sepenggal karya SMB II yang merupakan curahan isi hatinya. Syair ini tidak kalah indahnya dengan karya para pujangga lainnya di Nusantara. Sayangnya, karya-karya SMB II sepi perhatian di kota tempat kelahirannya sendiri. Sementara ini, cukuplah membuat bahagia kita semua, karena karya SMB II ternyata lebih dikenal oleh masyarakat di negeri-negeri serumpun Melayu.  Namun, dapatkah kita merenungkan seberapa jauh kepedulian wong Palembang umumnya, terutama bagi zuriatnya terhadap karya-karya luhur SMB II.

 

Palembang, 4 Juni 2022.

Komentar Anda
Loading...