Mencari Jejak Sejarah Pers di Sumatera Selatan

Baturaja, BP–Bupati OKU Drs H Kuryana Azis meyerahkan bantuan masker dalam rangka Pencanangan Gerakan Sejuta Masker bagi Masyarakat OKU, di Rumah Dinas Bupati OKU, Sabtu (11/4) kemarin.
Pada kesempatan itu Bupati OKU Drs H Kuryana Azis mengatakan di tahap awal dibagikan sebanyak 200 ribu masker untuk empat Kecamatan diantaranya Kecamatan Lengkiti, Lubuk Raja, Pengand kabar pertama yang terbit di Palembang bukanlah hal yang harus diperdebatkan dengan membuang-buang energi sehingga keinginan Dudy Oskandar untuk bisa hadir buku sejarah pers di Sumsel menjadi sia-sia karena tidak terwujud.
Dalam buku “Sejarah Pers Nasional dan Pembangunan Pers Pancasila” (1988) menyebutkan di Palembang pada masa kolonial Hindia Belanda terbit beberapa surat kabar yang diterbitkan dikelola warga pribumi. Diantaranya surat kabar “Teradjoe,” “Obor Rakjat,” “Tjahaja Palembang,” dan surat kabar “Pertja Selatan.”
Dari tujuh seri tulisan Dudy Oskandar yang telah disiarkan, ada tiga surat kabar atau media cetak pada zaman kolonial Hindia Belanda yang belum masuk dalam tulisan tersebut, yaitu surat kabar “Teradjoe,” “Tjahaja Palembang” dan “Berita.” Untuk bisa memperoleh data dan informasi tentang tiga surat kabar tersebut Dudy Oskandar harus lebih giat menghimpun berbagai informasi dari berbagai sumber dan literatur.
Surat kabar “Teradjoe” yang diterbitkan Sarekat Islam (SI) Palembang. Surat kabar yang mengusung tagline “Pers jang Djoedjoer Moestika Negeri,” Weekblad atau surat kabar mingguan “Teradjoe” edisi perdananya terbit pada Maret 1919. Alamat redaksi/ kantor di 17 Ilir Sajangweg (sekarang Pasar Sayangan) Palembang. Sebagai directeur adalah Raden Nangling, Presiden SI Palembang. R.M. Zen menjabat sebagai redacteur dan dibantu administrateur T.E. Zahidal Abidin.
Surat kabar “Teradjoe” terbit menjadi pers pergerakan yang professional pada masanya. Beritanya bukan hanya berisi propaganda politik SI banyak juga tersaji berita pro rakyat dan kemajuan bangsa. Pada banner halaman “Teradjoe” memasang tulisan dengan huruf hitam tebal, “Organ boeat kaoem jang tertindas dan jang lemah.”
Kemudian pada 1925 di Palembang terbit surat kabar “Tjahaja Palembang.” Edisi perkenalan atau proefnummer “Tjahaja Palembang” terbit pada 2 November 1925. Pada edisi perkenalan tersebut redacteuren RMA Tjondrokoesoemo menulis, “Kami poenja toedjoean jang tetap jaitoe: “berani karena benar, takoet karena salah.”
“Tjahaja Palembang” awal terbit bernama “Tjahja Palembang” dicetak di Goenoeng Sari, Weltevreden oleh N.V. Indonesische Drukkerij. Pada tahun kedua, 1926 berubah nama menjadi “Tjahaja Palembang” yang dicetak di Palembang oleh Drukkerij “JAKOEB.”
Pada 1928 di Palembang terbit surat kabar “Berita.” Surat kabar “Berita” terbit empat halaman dengan format yang sederhana. “Berita” yang terbit perdana pada 3 September 1928 merupakan ekspresi kaum boemipoetra yang bergelora dalam semangat zamannya pada masa itu. Surat kabar “Berita” dipimpin Directeur dan Hoofdredacteur Soekar dan Administrateur Kiagoes Tajib memiliki kantor redaksi 13 Ilir, Palembang.
Untuk bisa membaca surat kabar “Berita” pembaca membayar iuran sebesar 75 lima sen/ bulan. Selama terbitnya surat kabar “Berita” dicetak di percetakan. Typ. Drukkerij “JAKOEB” selama 2 edisi. Edisi nomor 3 “Berita” dicetak oleh Typ. Drukkerij “DEMPO”.
Mari bersama-sama terus menghimpun fragmen-fragmen sejarah pers di Sumsel untuk dijahit menjadi sebuah buku dengan judul “Jejak Sejarah Pers di Sumatera Selatan” atau Jejak Sejarah Pers di Bumi Sriwijaya.”∎