Duduk di Komisi VII DPR RI, H Alex Noerdin Janji Perhatikan Masalah Lingkungan di Dapil Sumsel

22
BP/IST Anggota Komisi 7 DPR RI Daerah Pemilihan Sumsel H Alex Noerdin saat memberikan paparan pada pertemuan yang mengusung tema ‘Sinergi Peran Laboratorium Dalam Rangka Mendukung Early Warning System Bencana Lingkungan’ di Ballroom Hotel Novotel, Kamis (24/10).

Palembang, BP–Anggota Komisi VII DPR RI Daerah Pemilihan Sumatera Selatan H Alex Noerdin menilai masyarakat berhak tahu kondisi udara yang sebenarnya. Mirisnya, Alex mendengar ada yang berkata ke media bahwa kondisi udara Kota Palembang belum berbahaya.
“OKI dan OI penyumbang asap terbesar. Sampai saat ini lahan masih terbakar. Alhamdulillah saya ditugaskan di Komisi VII. Jadi bisa memperhatikan dapil Sumsel untuk masalah lingkungan,” kata mantan Gubernur Sumsel dua periode ini saat memberikan paparan pada pertemuan yang mengusung tema ‘Sinergi Peran Laboratorium Dalam Rangka Mendukung Early Warning System Bencana Lingkungan’ di Ballroom Hotel Novotel, Kamis (24/10).
Acara ini dihadiri Wakil Gubernur Sumsel Mawardi Yahya yang membuka acara, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten/Kota dan OPD terkait, anggota legislatif, dan aktivis lingkungan hidup.
Dikatakannya, pencemaran udara di Kota Palembang sungguh luar biasa. Bukan hanya kabut asap, tapi juga oleh asap kendaraan bermotor dan asap pabrik.
“Kalau ada yang mengatakan bahwa udara di Palembang belum berbahaya, berdosa dia. BMKG mengatakan bahwa kemarin 351 dari maksimum 500, pagi ini juga berbahaya. Harusnya masyarakat diberitahu, dan masyarakat berhak tahu kondisi udara yang dihirupnya,” kata Alex.
Tak hanya udara, ia melanjutkan, Sungai Musi pun telah tercemar limbah industri rumah tangga dan pabrik. Kemudian pencemaran tanah oleh residu pupuk, pestisida, dan pertambangan, serta deforestasi (kegiatan penebangan hutan).
Untuk itu ia mengimbau masyarakat agar menjaga lingkungan hidup karena itu tanggung jawab kita pada generasi berikutnya.
Sementara itu Pemerintah Pusat melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Kemen LHK) menganggap Sumatera Selatan perlu mobil laboratorium, yang beroperasi berdasarkan laporan dari masyarakat.
“Kita nanti akan buka web, SMS Centre. Setelah laporan disampaikan kepada kabupaten/kota dan provinsi, kami akan verivikasi. Barulah mobil lab akan bergerak ke lokasi,” kata Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Kualitas dan Laboratorium Lingkungan Badan Litbang dan Inovasi (P3KLL-BLI) Herman Hermawan di sela pertemuan.
Dikatakan Herman, tidak semua pencemaran di daerah bisa melalui uji laboratorium di mobil lab. Untuk akurasi data, sampel akan dikirim ke Jakarta atau lab setempat.
“Untuk mengangkat status oknum pelaku pencemaran jadi tersangka perlu ada uji lab yang terakreditasi. Mobil lab ini untuk mengidentifikasi pencemaran, baik pada air, udara, dan padatan, termasuk bahan berbahaya dan beracun (B3) dengan 30 parameter yang diteliti,” katanya.
Mobil laboratorium berteknologi tinggi ini, ia melanjutkan, investasinya Rp4,2 miliar per unit. Seluruh alat yang ada di mobil itu portabel dan impor. “Kita perlu inden karena ini teknologi tinggi,” katanya.
Dikatakan dia, lantaran teknologi tinggi yang digunakan, pihaknya akan melatih para analis di Jakarta selama seminggu, baik pengemudi maupun analis per mobil.
“Untuk menjangkau wilayah geografis Sumsel yang besar, saya pikir kita perlu tambah analis. Jangan hanya dua orang per mobil. Perlu diperhatikan pula keamanan mereka selama di perjalanan. Tempat yang dituju kan lumayan jauh,” ujarnya.
Sumsel menjadi salah satu dari lima provinsi yang akan dapat bantuan mobil lab. Adapun empat provinsi lainnya, yakni Jawa Timur, Kalimantan Timur, Banten, dan Riau.
“Kita memilih lima provinsi ini berdasarkan penilaian daya dukung dan daya tampung lahan. Daerah aliran sungai yang rusak karena pencemaran, ISPU, dan indeks kualitas lingkungan hidup,” katanya.
Sementara itu, Wakil Gubernur Sumsel Mawardi Yahya mengapresiasi bantuan Kemen LHK melalui Pusat Penelitian dan Pengembangan Kualitas dan Laboratorium Lingkungan Badan Litbang dan Inovasi.
“OPD-OPD akan kita mintakan untuk menjaga mobil lab ini. Kita berharap Kemen LHK dapat melatih petugas yang akan menggunakan alat tersebut. Mudah-mudahan dananya dari APBD kita,” katanya.
Terkait masalah keamanan mobil lab, ia menyatakan akan meminta bantuan pemerintah kabupaten/kota. #osk

Komentar Anda
Loading...