Spirit Nasionalisme Syekh Abdul Somad Al Palembani

507
BP/DUDY OSKANDAR
Pecinta manuskrip dari Yogyakarta, Aguk Irawan

Palembang, BP

Syaikh Abdus Somad Al Palembani  sebagai Ulama dari Palembang – dalam arti sesungguhnya justru memilih untuk merangkul otoritas politik dengan memberi spirit Jihad kepada para penguasa Nusantara yang tengah menghadapi prahara penjajahan VOC-Belanda.
Salah satunya ialah dengan mengirimkan surat pada Pangeran Pakunegara / Mangkunegara yang disertai dengan jimat berupa panji-panji.
Substansi surat itu berisi persuasi maupun motivasi pada penguasa Jawa itu agar jangan takut bila harus gugur dalam Jihad karena ganjaran yang diterima ialah surga. Selain ganjaran surga, Syaikh Abdus Shamad turut mengibaratkan kebaikan bagi Pangeran Mangkunegara yang teguh melawan penjajahan seperti “sekuntum bunga yang menyebarkan wewangiannya sejak matahari terbit hingga tenggelam sehingga seluruh Mekkah dan Madinah serta negeri-negeri Melayu akan bertanya-tanya tentang keharuman ini”.
Namun sayangnya, seruan jihad kepada para penguasa Jawa itu boleh dibilang gagal. Surat itu tidak pernah sampai kepada si alamat.
Bersama dua surat lainnya yang disita Belanda, setelah disalin – dan diterjemahkan – aslinya dihancurkan. Ternyata, Syaikh Abdus Shamad tetap mengakui eksistensi politik seorang raja sebagai pemerintah yang sah. Tidak lupa, ia juga menekankan kesadaran akan kecintaan pada tanah air dengan menyebut “negeri-negeri Melayu” dalam suratnya.
Meski surat kepada pemimpin Jawa itu tidak sampai kepada orang yang dituju, Syaikh Abdus Shamad tetap bersemangat dalam menerapkan ilmu yang ia miliki dengan tindakan yang semakin nyata.

Baca Juga:  Tim STQ Sumsel Optimis Masuk Lima Besar

Menurut pecinta manuskrip dari Yogyakarta, Aguk Irawan melihat dari Karya Syekh Abdul Rozak Al Baitar yang berjudul Khilatul Basyar (biografi orang-orang hebat ulama di dunia) banyak menyebutkan ulama-ulama nusantara termasuk dari Palembang termasuk ulama Palembang Syekh Abdul Somad Al Palembani lalu ada namanya Syekh Sihabuddin, Syekh Muhammad Muhidin adalah ulama nusantara yang jangkauannya sudah luas hingga keluar negeri.
“Syekh Abdul Somad Al Palembani reputasi beliau sudah internasional apalagi karir beliau ini tidak hanya di Indonesia juga di Thailand, Yaman sampai di Mekkah, sayangnya kitab yang sangat berpengaruh dalam melakukan perlawanan kolonialisme , kitab yang berkobar-kobar itu, salah satunya nasihat Muslim, kitab itu hampir dipelajari semua korekoh, berarti menunjukkan reputasinya yang luar biasa ditengah-tengah baik suni dan syiah, jadi Palembang ini selain mempunyai karya berbahasa arab juga berbahasa melayu, makanya kenapa langsung meloncat ke sumpah pemuda menggunakan bahasa melayu, karena pengaruhnya ulama-ulama yang menulis dengan berbahasa melayu, itu menjadi bahasa kesatuan dari Aceh sampai Papua,” katanya usai Forum Group Discussion (FGD) Palembang sebagai Pusat kajian manuskrip Keagamaan Nusantara berkerjasama dengan Puslitbang Lektur, Khazanah Keagamaan dan Manajemen Organisasi (LKKMO) Kementerian Pendidikan Agama RI, Fakultas Adab dan Humaniora UIN Raden Fatah Palembang dan Malay Islamic Civilization Institute (MIC-I) UIN Raden Fatah Palembang di gelar di aula lantai III Fakultas Adab dan Humaniora UIN Raden Fatah Palembang, Kamis (5/9).
Dirinya tidak bisa membayangkan meskipun Jawa merupakan bahasa terbesar tapi tidak bisa mempengaruhi dan itu karena figur-figurnya kurang melegenda.
Menurutnya sebanyak 112 pemberontakan di Indonesia itu menurutnya dipimpin guru tareqot, guru tareqot memiliki spirit nasionalismenya dari kitab Syekh Abdul Somad Al Palembani tarekat apapun.
“ Makanya ini tidak hanya berjasa untuk nasionalisme tapi membentuk NKRI, kalau kita berbicara kebangsaan jauh sebelum Majapahit, ini dihasilkan dari semangat penyebaran naskah-naskah ini yang bentuk nasionalisme dari guru tareqot,” katanya.#osk

Komentar Anda
Loading...