Mau Tahu, Bagaimana Awal Mula Masterplan Kawasan Talang Semut, ini Jawabannya…!

Berpoto bersama usai acara diskusi yang di gelar komunitas Heritage Walk Palembang, kelas duduk, Sabtu ( 27/4) di Kenanga Coffee dengan judul Awal Mula Masterplan Kawasan Talang Semut.
Palembang, BP
Dosen Arsitektur Universitas Sriwijaya (Unsri) Rizka Drastiani, S.T.,M.Sc menilai potensi heritage tourism kota Palembang sangat besar.
Untuk itu menurutnya Dinas Pariwisata kota Palembang bisa lebih lagi mengembangkan kawasan bersejarah yang ada di kota Palembang.
“Kita bisa menonjolkan sisi yang kita punya tidak perlu, kita mencari cari jati diri lagi, kita sudah punya jati diri sendiri yaitu menjadi kota tertua yang harusnya heritage itu yang ditonjolkan,” katanya saat menjadi pemateri dalam acara diskusi yang di gelar komunitas Heritage Walk Palembang, kelas duduk, Sabtu ( 27/4) di Kenanga Coffee dengan judul Awal Mula Masterplan Kawasan Talang Semut.
Dia bisa membayangkan kalau orang-orang Belanda datang ke Palembang untuk napak tilas melihat kota Palembang kembali.
Selain itu menurut Rizka , Kawasan Talang Semoet di Desain oleh Arsitek dan Perencana Kota asal Belanda bernama Ir. Thomas Karsten (Arsitek dan Perencana Kota) dengan konsep Kawasan Real Estate pertama di Palembang ini adalah Garden City .
Karsten menurutnya dianggap sukses dengan konsep tersebut dan bisa dirasakan bahkan sampai saat ini yang artinya perencanaan kota efeknya bukan hanya untuk 1 atau 2 tahun melainkan perencanaan/desain yang baik akan membawa efek jangka panjang yang mungkin akan terasa 50 – ratusan tahun kedepan •
“Karsten berusaha untuk tetap responsif terhadap lingkungan karakteristik geografis kota Palembang yaitu lahan basah/rawa dan beberapa wilayah berkontur,” katanya.
Selain itu menurutnya, pola permukiman di Indonesia pada zaman penjajahan Belanda dibagi berdasarkan ras. Permukiman arab, cina, maupun pribumi dipisahkan.
“Namun, sejak kedatangan Thomas Karsten di Indonesia pola permukimannya berganti berdasarkan prinsip ekonomi masyarakat. Karsten membangun beberapa permukiman di Indonesia dengan konsep “Garden City”, yang telah disesuaikan dengan iklim tropis di Indonesia.,” katanya.
Prinsip utama Garden City menurutnya lahan dikuasai dan dikendalikan oleh pemerintah, didesain lengkap dan cermat unsur-unsur kotanya, serta ada jalur hijau yang mengelilingi kota secara permanen yang fungsinya untuk membatasi pertumbuhan fisik kota. Konsep Garden City ini pertama kali dicetuskan oleh Ebenezer Howard.
“Karsten adalah salah satu tokoh yang mempopulerkan konsep Garden City di Indonesia melalui karya rancangannya. Konsep Garden City sendiri pertama kali dicetuskan oleh Sir Ebenezer Howard Konsep Garden City,” katanya.
Sedangkan sejarawan Sumsel Kemas Ar Panji dalam kesempatan tersebut menambahkan Kawasan Talang Semut (KTS) adalah kompleks perumahan terpadu yang dibangun oleh pemerintahan Belanda di Palembang.
Dengan sentuhan seorang aksitektur Belanda yang cukup ternama saat ini Thomas Karsten mulai mengenalkan konsep “Gardencity” Yang juga dibangun di beberapa kota-kota besar di Indonesia,” kata Kemas A.R. Panji.
Konsep ini menurut Ari dapat di contoh pemerintah kota saat ini dimana pembangunan yang dilakukan selain memperhatikan Analisis Dampak Lingkungan juga harus memperhatikan analisis dampak sejarah.
“ Analisi dampak sejarah ini yang selalu di tinggalkan dalam pembangunan di Palembang, “ katanya.
Selain itu konsep Garden City yang dikembalikan Karsten menurutnya tidak berjalan di Palembang, hal ini bisa di lihat dikecamatan yang ada di Palembang tidak memiliki Garden City untuk masyarakat.#osk