Landasan Rel LRT Roboh, Timpa Rumah dan Ruko
Akibat Pijakan Crane Amblas
Palembang, BP
Tak mampu menahan beban, tanah pijakan crane crauler yang mengangkat landasan rel (steel box) LRT ambruk menimpa rumah dan ruko di Jalan Gubernur H Bastari. Sejumlah penghuninya luka-luka.
Belum adzan Subuh, Selasa (1/8) pukul 3.30, robohnya crane itu mengejutkan warga yang tengah lelap tidur. Berdasarkan informasi yang dihimpun, kejadian berawal saat dua operator alat berat, yakni Suhandri alias Andri (26) dan Bachtiar (34) hendak mengangkat lintasan rel RLT menggunakan dua unit crane crauler.
Namun setelah gilder berada di atas, pijakan yang menjadi landasan crane dengan bobot 70 ton yang dibawa Andri amblas dan mengakibatkan landasan sekitarnya ikut retak.
Crane terjungkal ke depan dan diikuti boom crane dengan berat 80 ton yang dibawa oleh Bachtiar ikut terjatuh karena patah di bagian tiang atas. Lalu secara beruntun gilder menimpa rumah dan ruko yang ada di sekitar lokasi pembangunan.
Melihat kejadian itu, Andi dan Bachtiar langsung membantu mengeluarkan korban yang berada di dalam rumah yang berada di Jalan Gubernur H Bastari, RT20/2, Kelurahan Silaberanti, Kecamatan Seberang Ulu I Palembang.
Aparat kepolisian dari Polresta Palembang yang mendapat informasi tersebut langsung mendatangi lokasi kejadian dan petugas memasang garis polisi serta meminta pemilik rumah tidak masuk sampai selesai proses evakuasi.
Kapolresta Palembang Kombes Pol Wahyu Bintono Hari Bawono mengatakan, saat ini pihaknya masih melakukan penyelidikan dan telah memeriksa tiga orang operator crane serta sejumlah saksi.
“Belum diketahui unsur kelalaian atau tidak. Saat ini masih dalam pemeriksaan. Apabila memang ada bisa diproses secara hukum,” ujar Wahyu.
Harun (53), salah satu korban yang rumahnya hancur akibat tertimpa crane menuturkan, sebelum kejadian ia sudah mewanti-wanti pekerja agar berhati-hati saat melakukan pemasangan girder baja tepat di atas rumahnya.
Sebab, menurut pria yang sehari-hari bekerja sebagai pengurus masjid ini, tanah pijakan untuk crane tersebut diketahui tidak stabil dan terlihat amblas.
“Mereka (pekerja LRT) ini mulai bekerja jam 11 malam. Kami sudah wanti-wanti dan karena takut. Saat sudah terangkat sebagian, kami keluar rumah untuk melihat dari jauh,” tuturnya.
Andri (31), salah satu keluarga korban tertimpa crane terpaksa diamankan. Ia yang mengalami luka karena kejadian ini dianggap memprovokasi. Ia tak terima karena rumah keluarganya rusak berat dan membuat pemuda ini berteriak memaki serta menantang yang sedang berjaga.
Tak hanya itu, pria ini bersama anggota keluarga lainnya bahkan sempat melarang awak media melakukan peliputan. Bahkan beberapa orang dari mereka menepis kamera wartawan.
Sehingga, karena dinilai meresahkan Andre terpaksa diamankan. Namun sebelum diamankan, juga sempat terjadi ketegangan, lantaran ia terus memberontak dan diikuti keluarga lainnya.
Setelah diberi penjelasan, baru ia mau dibawa ke Polresta Palembang. Kabag Ops Polresta Palembang Kompol Maruly Pardede menerangkan, saat dilakukan olah TKP sempat terjadi selisih paham antara pihak keluarga dan Waskita.
“Saat kita olah TKP terjadi sedikit kericuhan, karena ada adu mulut antara keluarga dan pekerja. Satu orang diduga provokator terpaksa kita amankan,” terang Maruly.
Pantauan di lapangan, akibat peristiwa ini, warga yang penasaran ramai-ramai mendatangi lokasi kejadian dan sempat terlihat ramai menyaksikan dari fly over.
Serta kejadian ini juga membuat arus lalulintas menuju Jakabaring sempat dialihkan sementara. Pengendara yang hendak melintas di lokasi diarahkan menuju bawah Jembatan Ampera memutar di U-Turn dan menaiki jembatan fly over.
Selain diarahkan ke bawah Jembatan Ampera, pengendara juga diarahkan ke jalan kecil yang berada di samping Kampus Universitas Bina Darma Palembang dan keluar di samping Kantor DPRD Kota Palembang. #ris