‘Batu Bersurat’ Kisahkan Kemakmuran Untuk Semua

221
#  Ditemukan Pertama Kali Oleh Warga OI
Alex-Noerdin-menyerahkan-miniatur-Prasasti-Talang-Tuwo-kepada-Kepala-BNPB-Pusat.-Foto-Berlian-Pratama
Gubernur Sumsel H Alex Noerdin saat menyerahkan miniatur Prasasti Talang Tuwo kepada Kepala BNPB Willem Rampangilei, beberapa waktu lalu.

Palembang, BP

17 November 1920, seorang petani asal Dusun Meranjat, Kabupaten Ogan Ilir (OI), Alwi Lihan  tengah menggarap kebun di Hutan Adat Talang Tuwo. Hutan adat milik marga Talangkelapa kala itu masuk keresidenan Palembang, tanpa sengaja pandangannya melihat ‘batu bersurat’ belakangan diketahui adalah prasasti Talang Tuwo.
            Namun dalam literatur sejarah fakta ini dibalik kalau yang menemukan Prasasti Talang Tuwo adalah  Louis Constant. Saat prasasti tersebut ditemukan, Louis Constant menjabat Residen Palembang pada tanggal 17 November 1920 di kaki Bukit Seguntang / Bukit Siguntang dan dikenal sebagai salah satu peninggalan Kerajaan Sriwijaya.
Sedangkan keadaan fisik Prasasti Talang Tuwo saat ditemukan masih baik dengan bidang datar yang ditulisi berukuran 50 cm × 80 cm. Prasasti ini berangka tahun 606 Saka(23 Maret 684 Masehi), ditulis dalam Aksara Pallawa, Berbahasa Melayu Kuna, dan terdiri dari 14 baris. Sarjana pertama yang berhasil membaca dan mengalihaksarakan prasasti tersebut adalah van Ronkel dan Bosch, yang dimuat dalam Acta Orientalia. Sejak tahun 1920 prasasti tersebut disimpan di Museum Nasional Indonesia di Jakarta dengan nomor inventaris D.145.p.
 
Namun bagi marga Talangkelapa, seperti diyakini Yahya, berdasarkan cerita kakek dan orangtuanya, penemu prasasti tersebut Alwi Lihan, seorang petani asal Dusun Meranjat. Dusun ini berada di Kabupaten Ogan Ilir (OI). Penemuan tersebut kemudian dilaporkan ke penguasa Palembang Louis Constant.
Beberapa bulan atau tahun setelah penemuan tersebut, Alwi Lihan bersama kakeknya H. Dungtjik dan punggawa Rozak membawa prasasti yang disebut masyarakat lokal “Batu bersurat” ke Bukit Siguntang. Lantaran tidak ada jalan darat seperti sekarang ini, mereka membawa prasasti berukuran 50 x 80 centimeter menggunakan perahu menyusuri sebuah anak sungai kemudian masuk ke Sungai Talang Tuwo, dan berlabuh di Bukit Siguntang. Saat ini jarak lokasi situs dengan Sungai Talang Tuwo sekitar tiga kilometer.
Namun, ironinya,lokasi situs prasasti Talang Tuwo tersebut kondisinya tidak seperti masa lalu. Jangankan di masa Kerajaan Sriwijaya, di bawah tahun 1970-an saja masih terdapat beragam jenis flora dan fauna khas Sumatera.
“Saat ini hanya babi yang ada,” kata Yahya Zakaria (76), cucu H. Dungtjik, Kriyo Talang Kelapa di masa pemerintahan Belanda yang turut berperan menyelamatkan Prasasti Talang Tuwo, Minggu (3/3).
Dulu, Talang Tuwo merupakan hutan adat milik marga Talangkelapa. Sebagai hutan adat, lahannya bukan dijadikan pertanian dan perkebunan oleh masyarakat, melainkan sebagai hutan rimba untuk hidup beragam satwa.
“Di masa kakek saya masih ada gajah. Tapi di masa saya yanga ada harimau sumatera. Hingga akhir tahun 1980-an masih ditemukan jejak atau keberadaan harimau sumatera. Kijang, beragam jenis kera, burung, kancil, dan lainnya masih ada, karena itulah warga dulu enggak mau berumah dalam kawasan ini dan lebih berumah dekat sungai ” kata Yahya.
Tanaman di hutan adat Talang Tuwo pun sama seperti yang tercatat di Prasasti Talang Tuwo. Misalnya kelapa, pinang, aren, juga beragam jenis bambu. “Buahan yang banyak antara lain manggis, kemang, dan rambutan hutan,” katanya.
Yahya menarik nafas. “Tapi,  semua tanaman tersebut habis saat sebagian besar hutan adat ini dijadikan perkebunan sawit, yang dimulai 1974. Harimau yang merasa terganggu beberapa kali menyerang warga. Ada yang terbunuh. Kini tidak ada lagi harimau sumatera yang melintas.
Menurutnya dulu areal hutan marga ini ada 150 hektar, tahun 1974 semuanya ditanam sawit. Tapi sekarang tinggal 50 hektar karena sudah dibuat perumahan. Yang 50 hektar ini juga akan segera dibangun perumahan. Sedangkan lahan untuk situs ini sebesar 20×20 meter merupakan wakaf dari keluarga kami,” kata H. Yahya  yang mempunyai 14 anak, 23 cucu dan 2 cicit ini.
Kerusakan bukan itu saja. Beragam anak sungai yang berada di sekitar Talang Tuwo juga sudah tidak ada. Padahal puluhan anak sungai di Talang Tuwo ini semuanya mengalir ke Sungai Musi, melalui sejumlah anak sungai lebih besar seperti Sungai Talang Tuwo, Sungai Sekanak, Sungai Tatang, dan lainnya.
Seperti Sungai Talang Tuwo yang berada sekitar tiga kilometer dari lokasi situs saat ini tidak lagi mengalir ke kaki Bukit Siguntang. Sebab sebagian badan sungainya sudah ditimbun untuk perumahan dan Jalan Soekarno-Hatta.
Budayawan Taufik Rahzen menilai Prasasti Talang merupakan satu modal kebudayaan yang luar biasa.
“Karena tidak ada satu prasasti yang jelas menggambarkan tentang satu gambaran masyarakat mana yang diidealkan. Prasasti Talang Tuwo lebih indah dari Declaration Of Independence di Amerika Serikat atau Piagam Hak Asasi Manusia. Yang dipersoalkan dalam prasasti ini bukan hanya hubungan manusia dengan manusia, tapi juga manusia dengan keluarganya, manusia dengan alam, manusia dengan hewan, manusia dengan alam semesta antar galaksi dan terakhir menjadikan manusia itu bersatu dengan alam,” katanya.
Menurut Redaktur Senior Jurnal Nasional ini, melihat prasasti Talang Tuwo bisa menjadi titik tolak untuk merubah dunia seperti apa yang diinginkan saat ini.
Dia mengusulkan Prasasti Talang Tuwo menjadi Hari Bumi Dunia, tinggal tanggalnya ditentukan.
“Pada 20 Maret atau 21 Maret, tanggal ini sudah diajukan dan diterima Hari Bumi oleh PBB, tinggal kita perkuat lagi,” ujarnya. Kebetulan artefak Talang Tuwo lengkap, menceritakan tanggal, tempat, niat, tujuan.
Sedangkan  arkeolog dari Balai Arkeologi Palembang, Nurhadi Rangkuti mengatakan, spirit dari penjagaan lingkungan hidup dari Prasasti Talang Tuwo yakni kemakmuran. “Kemakmuran! Itulah kata pembuka isi Prasasti Talang Tuwo yang diterbitkan oleh raja Sriwijaya, Dapunta Hyang Sri Jayanasa pada 23 Maret 684 Masehi. Sebelumnya kata yang sama tersebut pula pada Prasasti Kedukan Bukit bertarikh 16 Juni 682 Masehi ketika sang raja mengadakan perjalanan suci dari Minanga Tamwan dan sampai di ibukota kerajaan beliau meletakan batu pertama pembangunan   permukiman (vanua) baru. Kemakmuran menjadi kata kunci bagi raja Sriwijaya pada masa itu. Kemakmuran tidak sekadar kata atau janji, melainkan suatu  tindakan nyata yang dilakukan raja untuk membahagiakan semua makhluk yang hidup di muka bumi,.”
Artinya, guna mencapai kemakmuran tersebut, manusia harus memperlakukan alam atau lingkungan secara baik. “Prasasti ini  memuat peristiwa pembangunan Taman Sriksetra atas perintah raja. Di taman itu ditanam berbagai tumbuhan seperti  pohon kelapa, pinang, aren, sagu,  bambu haur, wuluh dan sebagainya. Taman Sriksetra menjadi acuan untuk pengembangan taman-taman atau kebun-kebun lainnya yang dilengkapi dengan bendungan-bendungan dan kolam-kolam,” kata Nurhadi
Pada masa itu taman, kebun, bendungan dan kolam tersebar di berbagai tempat. Semua itu untuk kebahagian semua manusia, tumbuhan dan hewan. Raja menginginkan semua kebun dengan berbagai tumbuhan hidup subur dan berlebih panennya, demikian pula ternak-ternak yang dipelihara penduduk terus bertambah.Raja mempunyai komitmen tidak ada lagi orang yang lapar, tidak ada lagi pencuri, pembunuh atau pezinah.
Amanat Dapunta Hyang Sri Jayanasa melalui Prasasti Talang Tuo sangat jelas, “Kelola lingkungan untuk kemakmuran semua mahluk. Andai amanat itu dilaksanakan di zaman ini, alangkah bahagianya semua mahluk yang hidup di bumi Sriwijaya sekarang,” kata Nurhadi.
Staf  Khusus Gubernur Sumsel bidang perubahan Iklim, Dr. Najib Asmani, menilai bangsa Indonesia, umumnya bangsa di Asia Tenggara, harus bangga telah memiliki amanah dari pemimpin Sriwijaya tersebut. “Prasasti Talang Tuwo jelas amanah bagi kita. Jika kita ingin selamat di dunia maupun akhirat, jagalah lingkungan, jagalah Bumi.”
Prasasti ini, kata Najib, sangat luar biasa. “Ketika hutan masih bagus, sungai masih banyak, hewan masih banyak dan beragam, bukan perintah mengeksplorasi yang dilakukan raja Sriwijaya tapi menatanya. Mereka jelas telah memikirkan kehidupan kita pada saat ini.”
Terkait dengan penyebaran miniatur Prasasti Talang Tuwo dikatakan Najib, Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin sangat mendukung. Bahkan dia telah menuliskan pesan di tapak miniatur tersebut yang isinya, “Semoga nilai-nilai luhur Sriwijaya ini menjadi pendorong semangat kita menjaga masa depan Bumi”.
“Souvenir miniatur Prasasti Talang Tuwo ini akan dibagikan dalam berbagai event di Palembang maupun event di luar Palembang yang melibatkan pemerintah Sumatera Selatan,” kata Najib.
Sebelumnya, Gubernur Sumsel H  Alex Noerdin mengatakan Gerakan Pengendalian Kebakaran Hutdan dan Lahan (Karhutla) di Sumsel  dijalankan dengan semangat Prasasti Talang Tuwo. Menurut Alex, semangat ini menunjukkan bila Pemerintah Sumsel tidak main-main menghadapi persoalan ini. “Ada ribuan relawan yang tergabung, mulai dari masyarakat, masyarakat peduli api, anggota TNI, Polri, BNPB, hingga jurnalis.” #osk
Baca Juga:  DPRD Sumsel Tuding Pemprov Sumsel Tak Ada Niat Baik Selesaikan Raperda RPJMD Sumsel 2018-2023
Komentar Anda
Loading...