Harga Pertamax Cs Turun

11

pertamakPalembang, BP

Marketing Operasional Regional (MOR) II kembali mengumumkan penurunan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi. Head of Communication and Relation Pertamina MOR II Rico Raspati mengatakan, penurunan terhitung mulai hari ini, Rabu (30/3).

“Harga BBM nonsubsidi turun lagi, penurunan per liter mencapai Rp200. Seperti harga pertalite dari harga Rp7.500 /liter menjadi Rp7.300 /liter, pertamax dari harga Rp8.400 /liter menjadi Rp8.200 /liter. Begitu juga dengan harga pertamax plus dari harga Rp8.900 /liter menjadi Rp8.700 /liter,” katanya, Selasa (29/3).

Tidak hanya itu, untuk pertamax dex dari Rp9.000/liter menjadi Rp8.800 /liter, solar non subsidi juga turun dari harga Rp7.800 /liter menjadi Rp7.600 /liter. “Turun harga ini karena adanya penyesuaian dengan harga minyak dunia,” terangnya.

Baca Juga:  XL Luncurkan layanan XL Pass

Rico menyampaikan konsumsi di Sumatera Selatan pada Februari 2016 mencapai 58 kiloliter perhari, sementara konsumsi sepanjang Maret terhitung 1 Maret hingga 13 Maret 2016 ini mencapai 78 kiloliter per hari. “Ini khusus konsumsi pertalite yang memang terlihat jelas alami peningkatan setiap bulannya,” katanya.

Sementara itu, kebijakan penurunan BBM nonsubsidi yang diambil oleh pemerintah dinilai akan mampu mendongkrak pertumbuhan di sektor industri. Analis Bank Indonesia Perwakilan Sumsel Dhika Arya Perdana mengatakan, kebijakan mengenai BBM tentunya akan dapat mempengaruhi terhadap perekonomian secara umum.

Baca Juga:  Telkomsel Kembangkan Akselerasi Layanan Broadband

Meskipun kebijakan yang diturunkan kepada BBM nonsubsidi, tetap ada dampak positif yang akan dihasilkan. ”Dampak langsung akan dirasakan pada inflasi yang turun untuk komoditas bahan bakar seperti solar yang tentunya banyak digunakan di sektor industri,” kata dia, kemarin.

Dikatakannya, dengan turunnya BBM tersebut, akan dapat menurunkan biaya energi industri yang biasanya memang menggunakan bahan bakar nonsubsidi. “Jadi pengusaha bisa dana lebih untuk digunakan sebagai perawatan yang lebih baik atau investasi lainnya,” katanya.

Sejauh ini, masalah utama yang membebani dunia usaha ialah biaya produksi, termasuk bahan baku impor yang kian mahal karena pelemahan rupiah serta biaya energi lantaran tarif bahan bakar dan dasar listrik terus naik. “Karena itu, pemerintah didorong untuk menempuh langkah konkret untuk memberikan keringanan pada biaya energi,” terangnya.

Baca Juga:  SKK Migas Ajak Stakeholder Bangun Kolaborasi Strategis

Disinggung mengenai pengaruh terhadap target perekonomian, menurutnya, semua kebijakan saling mendukung perekonomian. Kalau iklim investasi dijaga, proyek-proyek infrastruktur selesai tepat waktu, nilai tukar rupiah juga stabil maka tidak akan sulit untuk mendongkrak ketertinggalan perekonomian dari tahun lalu. “Kami sendiri dari BI tetap optimis target pertumbuhan ekonomi akan sesuai dengan yang telah ditentukan,” katanya.#ren

Komentar Anda
Loading...