Lawan ISIS, AS Bentuk Koalisi Kedua

19

ISIS 5Libya, BP

Tak cukup dengan koalisi utamanya dengan negara-negara Eropa, kini otoritas Amerika Serikat mencoba untuk membentuk koalisi kedua untuk melawan kelompok militan ISIS di Libya.

Dikutip dari VOA Indonesia, kini kekuatan ISIS di Libya semakin meningkat, apalagi pasca terjadinya serangan teror mematikan di Prancis pada November lalu. AS kemudian berpendapat diperlukannya pendekatan yang lebih luas dan komprehensif demi mengalahkan kelompok jihad tersebut.

Diskusi yang dilakukan oleh otoritas AS semakin memuncak ketika pihak intelijen menunjukkan adanya peningkatan jumlah anggota pejuang ISIS yang menyebar ke Libya, Afrika Utara, Afrika Timur, dan Sahel.

Baca Juga:  Visit ASEAN@50 Diperkenalkan di Booth Thailand

Libya merupakan negara yang dianggap sebagai salah satu wilayah afiliasi ISIS yang paling mematikan mengingat jumlah pejuang di daerah itu mencapai 5.000 orang. Tidak hanya itu, jumlah pejuang ISIS juga meningkat di wilayah kota Sirte.

Diperkirakan sebanyak 50 militan ISIS meluncurkan serangan di Ben Guerdan, perbatasan Libya-Tunisia dan menewaskan 55 orang. Pejabat-pejabat tinggi militer AS mengidentifikasi Inggris, Prancis, Italia, Jerman dan Spanyol sebagai mitra utama dalam perang melawan ISIS di Libya.

Wakil Presiden  Amerika Serikat (AS), Joe Biden mengatakan, untuk menumbangkan kelompok ISIS akan menghabiskan waktu yang cukup lama. Pernyataan tersebut ia sampaikan kepada tentara Amerika yang sedang melatih pasukan Jordania pada Selasa (8/3).

Baca Juga:  Jokowi-Zelensky Bahas Situasi Ukraina hingga Kesepakatan Laut Hitam

“Kita akan mengalahkan ISIS. Mereka akan kita musnahkan. Untuk kalahkan ISIS, butuh waktu yang lama,” ungkap wakil Presiden Joe Biden di pusat pelatahian luar Zarqa, Utara Kota Jordan, Amman.

Untuk meningkatkan kerja sama militer antarnegara, AS minggu lalu telah memberikan kepada Jordania delapan helikopter Black Hawk untuk memperkuat pertahanan di daerah perbatasan. Selain itu, Joe Biden juga mengadakan pembicaraan di Istana Kerajaan dengan Raja Abdullah II.

Baca Juga:  Dosen UII Hilang Kontak dalam Perjalanan Kembali dari Norwegia

Selama ini, diketahui bahwa Jordania adalah sekutu militer Barat yang merupakan anggota koalisi untuk melawan ISIS di Irak dan Suriah. Raja Abdullah II menekankan bahwa  Jordania perlu mendukung usaha pemerintah Irak untuk melawan ISIS.

Dalam pertemuan tersebut, Biden dan Abdullah juga mendiskusikan tentang konflik di Suriah dan proses perdamaian antara Israel dan Palestina. Raja Jordania menekankan supaya Israel menghentikan segala pelanggaran terjadi di kota suci umat Islam dan Nasrani, Jerussalem.#rda

 

 

Komentar Anda
Loading...