Melepas Burung Pipit Untuk Kebebasan
Palembang, BP
Selain bagi-bagi angpao, ada satu lagi tradisi yang dilakukan masyarakat Tionghoa saat Imlek, yakni melepas burung pipit.
Biasanya, masyarakat Tionghoa menjelang perayaan Imlek mengunjungi vihara atau klenteng untuk memanjatkan doa. Namun, beberapa dari jemaat melakukan tradisi melepas sekumpulan burung pipit di halaman vihara.
Seperti yang dilakukan beberapa jemaat di Vihara Dharmakirti di Jalan Papera, Palembang, Senin (8/2).
Pantauan, sekumpulan burung pipit di dalam sebuah kotak persegi panjang ada juga sangkar kawat segi empat dibawa oleh jemaat ke halaman vihara Dharmakirti, Palembang.
Selanjutnya, kotak tersebut dibuka oleh salah seorang jemaat hingga satu persatu burung pipit berterbangan ke angkasa.
Bikku Vihara Dharmakirti Palembang, Badra Murti menjelaskan melepas burung pipit dalam kacamata Agama Budha, artinya burung itu ikut membantu mendapatkan kebebasan karena burung itu ibarat hidup yang lumrah itu dialam bebas bukan di sangkar.
“Kita melepaskan burung pipit tadi dengan harapan kita yang melakukan kebaikan membebaskan burung tadi mendapatkan berkah, karena kita melakukan karma baik pasti mendapatkan kebaikan juga,” katanya.
Sementara itu penjual burung pipit di samping Viraha Dharmakirti, Ujang (60), warga Desa Jejawi, OKI mengaku rutin menjual burung pipit di Vihara Dharmakirti, “Satu burung aku jual Rp2.000, sekali jual kadang habis kadang tidak,” katanya saat berjualan di samping Vihara Dharmakirti.
Sedangkan Romli (50) di tempat yang sama menjelaskan makna melepas burung pipit untuk membuang sial, “Harus 10 burung pipit yang dilepas,” katanya.
Sedangkan dia mengaku untung menjual burung pipit sehari antara Rp100 ribu hingga Rp150 ribu.
Sedangkan burung ambil di Desanya Desa Jejawi dari para pengumpul burung pipit, lalu sekitar 50 ekor burung pipit dibawa ke Palembang untuk dijual. #osk