Palembang Berpeluang Tuan Rumah Tunggal Asian Games
Pernyataan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menjadi pernyataan yang kontroversial mengenai Asian Games 2018. Bahkan secara mengejutkan, DKI Jakarta menyatakan mundur dari tuan rumah Asian Games 2018. Lantas, apakah ini menjadi politik saja, waktulah yang akan menjawabnya.
Wakil Ketua Komite Olimpiade Indonesia (KOI) Muddai Madang sendiri mengatakan Provinsi Sumatera Selatan untuk tidak berandai-andai terlebih dahulu setelah Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama menyatakan akan mundur sebagai tuan rumah Asian Games ke-18 tahun 2018.
Muddai yang dihubungi dari Palembang, Jumat (4/12), menyatakan bahwa pernyataan Ahok itu lantaran dipicu kesulitan untuk memanfaatkan lahan milik negara untuk pembangunan Wisma Atlet Kemayoran setelah dijegal Komisi II DPR RI.
Jika melihat hal tersebut, Palembang memang berpeluang besar menjadi tuan rumah tunggal dalam event terbesar se Asia itu.
“Palembang memang progres pembangunan berlangsung sangat baik. Tapi, kita tidak boleh berandai-andai. Palembang terus saja membangun dan meningkatkan semua hal baik masalah venue, maupun nom venue,” ujar Muddai.
Dikatakan pria yang juga menjabat Ketua KONI Sumsel ini, memang akan ada penambahan cabang olahraga yang akan bertanding di Palembang. Jika sebelumnya Palembang hanya mendapat jatah 11 cabor, akan digenapkan menjadi 15 cabor.
“Akan ada tambahan beberapa cabor, tapi untuk hal lain saya tidak ingin berkomentar,” ucapnya
Namun, terlepas dari persoalan itu, Muddai tidak menampik bahwa Sumsel lebih siap jika dibandingkan Jakarta karena telah memiliki Kompleks Olahraga Jakabaring di Palembang dengan dilengkapi 15 arena olahraga internasional serta wisma atlet.
Namun, hingga kini renovasi arena di Jakarta belum berjalan, malahan rencana peletakan batu pertama pembangunan Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta, yang dijadwalkan pada September lalu diundur ke Februari 2016.
Wisma Atlet yang menjadi tanggung jawab Pemeritah Provinsi DKI Jakarta itu akan menyediakan tempat menginap bagi atlet dengan daya tampung 14.000 atlet, yang terdiri atas tujuh menara apartemen dengan tinggi 24 hingga 32 lantai.
Proyek itu sudah dibuat, tapi belum bisa ditenderkan karena menunggu persetujuan DPR. Selain membangun wisma atlet, Jakarta sebagai kota utama juga telah menyanggupi akan membangun arena balap sepeda (velodrome), arena pacuan kuda (equestrian), arena akutik, dan perenovasian Stadion Gelora Bung Karno.
Sementara itu, Ahok di Balai Kota, Jumat, mengatakan, jika infrastruktur Jakarta tidak siap, tuan rumah terancam jatuh ke tangan Tiongkok. Pemerintah DKI akan mempercepat proses bangunan pendukung acara tersebut. “Kami khawatir, karena Tiongkok sangat siap untuk menggantikan kita. Sudah lampu kuning. Posisi infrastruktur kita meragukan,” kata Ahok.
Salah satu yang mengkhawatirkan, kata Ahok, masalah pembangunan Wisma Atlet yang direncanakan dibangun di Kemayoran. DPR belum merestui pembangunan wisma tersebut. “Kami minta Setneg dan Wapres lobi DPR. Karena bisa masalah nanti,” ujar Ahok.
DPR belum memberi persetujuan kepada Pemprov DKI lantaran alihfungsi bangunan tersebut. Pemerintah Pusat memberi hibah kepada DKI lahan di Kemayoran untuk dijadikan rusun. Namun, Ahok berencana meminjam sebentar untuk membangun wisma atlet. “Padahal kita sudah janji akan kembalikan ke rusun kalau Asian Games sudah selesai,” tegas Ahok. #sug
