Dokter Diperintahkan Bantu Korban Asap
Palembang, BP

Menteri Kesehatan Nila F Moeloek mengimbau masyarakat di daerah paparan asap tidak keluar rumah bila Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di atas 50. Dokter dan tenaga medis juga diperintahkan keluar kantor untuk mencari orang berisiko tinggi.
Hal itu disampaikan Nila dalam jumpa pers tentang hasil rapat dengan Menkopolhukam di kantor Kemenkes, Jalan HR Rasuna Sahid, Kuningan, Jakarta, Kamis (22/10). Rapat di kantor Kemenko Polhukam dipimpin Luhut Pandjaitan dan diikuti Mendikbud, Menristek Dikti, Menkominfo, dan Mensos.
“Rapat koordinasi di Kemenko Polhukam. Kami juga menyesalkan ada bencana kebakaran di Riau dan Sumatera Selatan. Dalam rapat itu kita diminta harus mengoptimalkan penanganan karena banyak jatuh korban karena tidak mendapat regulasi yang baik,” ujar Nila.
Menurut Nila, untuk menanggulangi beberapa penyakit akibat asap, pihaknya akan bekerja sama dengan perhimpunan dokter paru Indonesia. Dia juga meminta kepada masyarakat tidak keluar rumah jika ISPU di atas 50.
“Yang rentan terkena itu balita, untuk itu kalau ISPU di atas 50 lebih baik jangan keluar rumah. Kita juga meminta kepada Kemendiknas agar meliburkan SD dan SMP jika kondisi asap sangat memburuk. Karena jika kondisi asap di atas 300 kita minta liburkan dan di atas 500 masyarakat tidak boleh beraktivitas di luar rumah,” tegas Nila.
Menkes Nila juga mengatakan, pihaknya telah mengirimkan edaran agar pihak BNPB melakukan penentuan ISPU setiap 24 jam dan kepada semua fasilitas kesehatan agar memberikan pelayanan 24 jam kepada warga.
“Kita sudah kirim edaran agar penentuan ISPU dilakukan setiap 24 jam. Untuk masyarakat agar menggunakan exhause atau penjernih udara (air purifier) di dalam rumahnya. Dan untuk semua fasilitas kesehatan agar memberikan pelayanan 24 jam serta kepada Dinkes Provinsi dan Kabupaten Kota membuka pos. Dokter dan tenaga medis juga harus keluar mencari orang yang berisiko tinggi,” tegas Nila.
Bencana asap di Sumatera dan Kalimantan memang tercatat terburuk sepanjang sejarah. Menurut Menteri Kesehatan Nila F Moeloek sudah ada 10 orang yang meninggal akibat bencana asap. “Sebelumnya ada sembilan orang (yang meninggal dunia), tetapi kemarin ditambah satu jadi total ada 10 orang,” ujar Menkes Nila.
Di tempat terpisah, Mensos Khofifah Indar Parawansa menyebutkan pihaknya sedang mempersiapkan santunan kematian bagi korban yang meninggal di daerah terdampak asap.
Sementara itu, untuk kasus penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), Kepala Pusat Penanggulangan Krisis Kesehatan Achmad Yurianto menjelaskan hingga akhir September ada 272.001 orang terkena ISPA. Dan rata-rata kenaikan kasus berkisar 500 orang per minggu.
“Dari akhir September, untuk wilayah Kalimantan Tengah ada 52.213 kasus yang dilaporkan, Riau 65.232 kasus dan Jambi 9.747 kasus. Untuk Sumatera Selatan pencatatan dari Agustus sampai sekarang ada 101.332, Kalimantan Barat 43.477 dan Kalimantan Selatan 97.430,” terang Yurianto.
Untuk membantu para korban, Kementerian Kesehatan telah mengirimkan 33,8 ton bantuan berupa obat, masker oksigen, dan mobilisasi sumber daya kesehatan dari RSCM persahabatan untuk mengatasi masalah yang diperlukan. Pihaknya juga akan memanfaatkan dana bantuan kesehatan kepada wilayah yang membutuhkan.
Selain itu, pihak kampus di daerah juga diharapkan memberikan bantuan riil untuk warga. Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti) Muhammad Nasir mengimbau agar perguruan tinggi di daerah yang memiliki Fakultas Kedokteran (FK) ikut andil dalam membantu warga korban asap.
“Masalah kesehatan dan pendidikan, langsung kami koordinasi rektor se-Indonesia yang punya FK harus terlibat langsung di dalam menangani masalah-masalah kesehatan di daerah masing-masing. Nanti akan kami koordinasikan dengan Kementerian Kesehatan,” ujar Nasir usai rapat bersama Menko Polhukam, kemarin.
Selain itu, dia juga meminta agar kampus-kampus berinovasi dalam membuat alat untuk menjernihkan udara (air purifier). “Di ristek sendiri, menciptakan air purifier yang bisa menjernihkan. Terkait ristek, kami sudah melibatkan ruangan pembelajaran, dibantu peneliti yang bisa menjernihkan udara,” katanya. #idz