Liputan Berujung Pengeroyokan di Depan Polda Sumsel, Dua Jurnalis Dilarikan ke Rumah Sakit

7
Palembang,BP-  Aksi demonstrasi terkait kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di depan Markas Polda Sumatera Selatan (Sumsel), Selasa (13/10/2026), berujung ricuh. Di tengah bentrokan antarkelompok massa, dua jurnalis yang tengah menjalankan tugas peliputan menjadi korban pengeroyokan hingga harus mendapatkan perawatan medis di RS Bhayangkara Moh Hasan Palembang.

Kedua korban tersebut adalah Rachmad Kurniawan, jurnalis Tribun Sumsel/Sriwijaya Post, dan Mulyadi, jurnalis PAL TV. Keduanya mengalami luka setelah berusaha merekam dan melaporkan situasi kericuhan yang terjadi di sekitar bawah flyover Simpang Polda.

Peristiwa bermula ketika Aliansi Mahasiswa Cipayung Plus Palembang berkumpul untuk menyampaikan tuntutan terkait penegakan hukum terhadap pelaku karhutla dan penanganan kabut asap yang melanda Sumatera Selatan.

Pada waktu yang hampir bersamaan, kelompok lain yang terdiri dari organisasi kemasyarakatan (ormas) dan komunitas pengemudi ojek daring berpakaian hitam menggelar aksi solidaritas dengan membagikan masker kepada pengguna jalan.

Dua kelompok dengan agenda berbeda itu berada di kawasan yang sama. Situasi yang semula berjalan kondusif kemudian memanas hingga berujung bentrokan fisik. Namun, pemicu pasti kericuhan tersebut belum dijelaskan secara terperinci.

Di tengah situasi yang semakin tidak terkendali, Rachmad berupaya mendokumentasikan kejadian melalui siaran langsung di media sosial menggunakan telepon genggamnya.

Baca Juga:  Reses Anggpta  DPRD Sumsel Dapil 1 Kota Palembang, Warga Curhat Soal ODGJ Hingg Sampah, 

Namun, aktivitas peliputan tersebut memicu kemarahan sejumlah orang dari kelompok berpakaian hitam. Rachmad disebut dikepung dan diintimidasi, bahkan dituduh hendak melakukan penusukan.

Sejumlah orang kemudian mendesaknya menghapus rekaman video yang sedang dibuat.

Rachmad menolak menghapus rekaman tersebut. Situasi pun memburuk hingga ia diduga dikeroyok oleh lebih dari lima orang. Ia mengalami pemukulan dan tendangan di sejumlah bagian tubuh.

Melihat rekannya menjadi sasaran kekerasan, Mulyadi berusaha mendekat untuk melerai sekaligus menyelamatkan Rachmad dari kerumunan.

Ia berulang kali menyatakan bahwa mereka merupakan wartawan yang sedang menjalankan tugas jurnalistik. Namun, upaya tersebut tidak menghentikan serangan. Mulyadi justru ikut menjadi korban pemukulan hingga mengalami luka robek di bagian wajah dan bibir.

Kedua jurnalis itu sempat berupaya mencari perlindungan dari aparat kepolisian yang berjaga di lokasi. Mereka akhirnya dievakuasi setelah mengalami luka akibat serangan tersebut.

Rachmad dan Mulyadi kemudian dibawa ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Bhayangkara Moh Hasan Palembang untuk mendapatkan penanganan medis. Keduanya dilaporkan mengalami luka di sejumlah bagian tubuh, termasuk wajah, kepala, dan kaki.

Di rumah sakit, petugas Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polda Sumsel mendatangi ruang perawatan korban untuk memfasilitasi proses pelaporan.

Baca Juga:  Pura-pura Nabrak, Minta Diantar Berobat, Motor Diembat

Langkah tersebut dilakukan dengan sistem jemput bola agar kedua jurnalis dapat memberikan keterangan awal dan membuat laporan polisi tanpa harus mendatangi kantor kepolisian dalam kondisi masih menjalani perawatan.

Selain dua jurnalis, kericuhan itu juga mengakibatkan tiga mahasiswa dan seorang anggota Polri mengalami luka-luka.

Peristiwa tersebut menuai kecaman dari kalangan pers di Sumatera Selatan. Kekerasan terhadap jurnalis saat menjalankan tugas kembali menjadi perhatian, terutama menyangkut keselamatan pekerja media ketika meliput aksi massa dan situasi berisiko.

Kapolda Sumsel Irjen Pol Rony Samtana menyatakan akan menindaklanjuti kasus pengeroyokan terhadap Rachmad dan Mulyadi. Ia menegaskan perlunya penyelidikan untuk mengetahui duduk perkara serta mengungkap pihak-pihak yang terlibat.

Pernyataan itu disampaikan setelah dirinya menerima informasi mengenai insiden tersebut dari perwakilan jurnalis melalui pesan singkat.

“Nanti kita akan investigasi ya, untuk ketahui permasalahan sebenarnya,” kata Rony.

Kapolda juga menginstruksikan jajarannya untuk memperhatikan kondisi kedua korban dan memastikan mereka mendapatkan penanganan medis.

Sementara itu Ketua DPD Asosiasi Driver Online (ADO) Sumsel , Muhammad Asrul Indrawan, menegaskan kegiatan pembagian masker di depan Mapolda Sumsel, Selasa (13/10/2026), merupakan bentuk dukungan terhadap pemerintah dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), bukan aksi tandingan terhadap mahasiswa.

Baca Juga:  Irwasda Polda Sumsel Pimpin Koordinasi Percepatan Swasembada Pangan

Penegasan itu disampaikan Asrul menyusul bentrokan antara kelompok mahasiswa Cipayung Plus Kota Palembang dan kelompok berbaju hitam di bawah Flyover Simpang Polda. Insiden tersebut juga menyebabkan dua jurnalis diduga menjadi korban pengeroyokan saat menjalankan tugas peliputan.

Asrul menjelaskan, kegiatan pembagian masker dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang terdampak kabut asap akibat karhutla di Sumatera Selatan.

“Intinya, kami hanya ingin melakukan pembagian masker dan bukan demo tandingan,”  Asrul kepada wartawan.

Menurutnya, kelompok mahasiswa Cipayung Plus tiba ketika pembagian masker sedang berlangsung. Ia mengaku sempat menemui mahasiswa dan meminta agar aksi mereka tidak digelar bersamaan dengan kegiatan tersebut.

Namun, situasi kemudian memanas setelah kelompok yang disebutnya sebagai ormas menyerang mahasiswa hingga bentrokan tidak terhindarkan.

Asrul mengaku telah berupaya melerai dan memediasi kedua kelompok yang diduga terlibat kesalahpahaman. Karena upaya tersebut tidak membuahkan hasil, pihaknya memilih menjauh dan melanjutkan pembagian masker di lokasi lain yang tidak jauh dari tempat kejadian.

“Karena tidak mau dimediasi, kami akhirnya menjauh dan melanjutkan pembagian masker di tempat lain yang tidak jauh dari lokasi,” ungkapnya.#udi

 

 

 

 

 

Komentar Anda
Loading...