Ratusan Masyarakat Palembang Bagikan 289 Telok Abang di Simpang Lima Lampu Merah DPRD Sumsel, Desak Pemerintah Daerah dan Pusat Hentikan Pembangunan Gedung Tujuh Lantai di BKB

16
Ratusan masa dari Zuriat Kesultanan Palembang Darussalam , Aliansi Penyelamat Benteng Kuto Besak (BKB), Aliansi Masyarakat Penyelamat Cagar Budaya (AMPCB) , Sejarawan, budayawan kota Palembang dan masyarakat Palembang menggelar aksi pembagian 289 butir telok abang di simpang lima lampu merah dekat kantor DPRD Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) , Jumat (2/1/2026).(BP/udi)

Palembang, BP- Ratusan masa dari Zuriat Kesultanan Palembang Darussalam , Aliansi Penyelamat Benteng Kuto Besak (BKB), Aliansi Masyarakat Penyelamat Cagar Budaya (AMPCB) , Sejarawan, budayawan kota Palembang dan masyarakat Palembang menggelar aksi pembagian 289 butir telok abang di simpang lima lampu merah dekat kantor DPRD Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) , Jumat (2/1/2026).

 

Aksi tersebut dilakukan terkait penolakan terhadap pembangunan gedung baru 7 lantai Rumah Sakit (Rs) dr. Ak Gani di kawasan cagar budaya BKB dan meminta pemerintah pusat untuk menyikapi permasalahan ini.

Hadir diantaranya, Ketua Aliansi Penyelamat BKB yang juga Ketua Aliansi Masyarakat Penyelamat Cagar Budaya (AMPCB) ,Vebri Al Lintani sejarawan Palembang Dr Kemas Ar Panji Spd Msi, koordinator kegiatan Raden Genta Laksana, , Kiagus M Fashehulisan SH (Zuriat Kiagus), R.M.Rasyid Tohir,S.H, Dato’ Pangeran Nato Rasyid Tohir, (Pembakti Kesultanan Palembang Darussalam/ Zuriat) Seniman Palembang Ali Goik, Ketua Dewan Kesenian Palembang M Nasir, RA Dimyati, konten kreator Palembang Mang Dayat, Susan , Hardi Bubut, kerabat Kesultanan Palembang Darussalam Isnayanti Safrida, Levi.

Baca Juga:  Polda Sumsel, Bedah 38 Rumah Warga

Dalam aksi tersebut para peserta aksi membagikan langsung telok abang dan membagikan selebaran berisikan ajak untuk penyelamatkan BKB sebagai cagar budaya nasional yang kini di bangun gedung 7 lantai pengembangan Rumah Sakit dr Ak Gani yang akan merusak cagar budaya nasional BKB kepada setiap pengendara motor dan mobil yang stop di sejumlah titik lampu merah di simpang lima kantor DPRD Sumsel tersebut.

 

Koordinator kegiatan Raden Genta Laksana, mengatakan, makna 289 telok abang itu adalah usia BKB didirikan hingga sekarang.

“ Telok abang juga bermakna sesuatu yang baru , artinya semangat yang baru dengan maksud seperti filosofi telur yang akan menetas, , dimana kita menginginkan Benteng Kuto Besak kembali ke masyarakat dan di fungsikan sebagai cagar budaya,”katanya.

Baca Juga:  DPRD Sumsel Minta Pemprov Sumsel Serius Jaga Aset

Ketua Aliansi Penyelamat BKB yang juga Ketua Aliansi Masyarakat Penyelamat Cagar Budaya (AMPCB) ,Vebri Al Lintani menambahkan pembagian telok abang ini bermakna alat tradisi di Palembang yang biasa di gunakan dalam acara resepsi acara seperti khitanan, pernikahan dan juga telok muncul di perayaan di hari kemerdekaan 17 Agustus bersama mainan kapal laut dan kapal terbang.

“Maknanya adalah telok abang itu tentang kelahiran, tentang produktiviitas dan tentang kemerdekaan kalau dikaitkan dengan hari kemerdekaan Indonesia, dan itu kita gunakan untuk menyentuh emosi masyarakat Palembang agar juga paham bahwa Benteng Kuto Besak adalah cagar budaya yang selama ini dimanfaatkan TNI untuk bisnis rumah sakit ,”katanya.

Selain itu pihaknya khawatir , BKB terancam keberadaannya karena pembangunan gedung tujuh lantai pengembangan Rumah Sakit dr Ak Gani dalam BKB yang dibangun tanpa izin.’

Baca Juga:  Kadin Serahkan Oksigen Generator Senilai Rp 1,3 M ke RSUD Siti Fatimah

“ Dan kita sudah lama menginginkan agar Benteng Kuto Besak itu di revitalisasi, ” katanya.

Aksi ini menurutnya menjadi momen yang baik untuk mensosialisasikan kepada masyarakat tentang sejarah dan penyelamatan cagar budaya BKB.

“Kami juga mohon dukungan masyarakat agar revitalisasi BKB dapat diwujudkan dan tentu kebijakan ini tidak cukup sampai di pemerintah provinsi tapi kebijakan ini kita harapkan juga menjadi kebijakan pemerintah pusat, Presiden, Panglima TNI, Kementrian Pertahanan, Menteri Kebudayaan untuk memberi perhatian dengan Benteng Kuto Besak yang tidak bisa di manfaatkan secara maksimal baik untuk kepentingan wisata , kepentingan edukasi budaya dan sebagainya,”katanya.

Sementara menurut Vebri, benteng-benteng di tempat lain di Indonesia rata-rata sudah di manfaatkan dan sudah di Kelola oleh masyarakat sipil.#udi

Komentar Anda
Loading...