JPPR: Jadi Golput Juga Cerdas

93
Koordinator Nasional Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR) Nurlia Dian Paramitha. BP(/ist)

PALEMBANG, BP – Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR) menilai, masyarakat yang tidak memilih saat pemilihan umum (pemilu) atau menjadi golongan putih (golput) termasuk juga masyarakat cerdas. Selain itu, JPPR berharap masyarakat berperan aktif menjadi pemantau saat pemilu.
Pernyataan ini dilontarkan Koordinator Nasional JPPR Nurlia Dian Paramitha dalam podcast di kanal YouTube Bawaslu RI dengan tema ‘Pemilu Sudah Dekat, Nyoblos Aja Cukup ?’. Nurlia mengatakan, masyarakat yang cerdas itu bisa jadi tidak memilih atau menjadi golput. Karena masyarakat sudah kehilangan trust / kepercayaan terhadap yang dipilihnya.
“Defenisi cerdas itu bisa jadi kemudian dia melakukan tugasnya sebagai pemilih yang tidak hanya memilih saja, tapi dia tahu bahwa orang yang akan dipilih sesuai tidak dengan program kerjanya dan visi misinya. Masyarakat cerdas belum tentu memilih itu menurut pengamatan kami,” katanya yang dikutip BeritaPagi Rabu (10/8).
Selain itu, ia mengakui partisipasi pemilih dalam pemilu dari catatan KPU memang cukup tinggi, yang dalam data di pilkada terakhir rata-rata 70 persen. Namun kenyataan yang diamatinya setelah calon terpilih, dampak terhadap masyarakat seperti tidak ada perubahan.
Karena faktanya indeks pembangunan manusia masih standar, dan berdasarkan data badan pusat statistik kemiskinan bertambah yang sebelumnya diprediksikan berkurang. “Kenapa tidak ada perubahan ? gitu-gitu aja,” ucap dia.
Untuk itulah JPPR yang merupakan konsorsium lembaga dan concern (konsentrasi) kapasitas pada pendidikan pemilih, untuk penguatan politik masyarakat sipil dan sendi-sendi demokrasi di Indonesia ini terbentuk, untuk memastikan kebenaran sesuai undang undang dan pemilu menjadi jujur dan adil (jurdil).
Pemilu jurdil sangat penting, mengingat saat ini demokrasi di Indonesia sudah menjadi demokrasi transaksional, yang berkaitan dengan pemberi modal dan orang kuat. Padahal diawalnya adalah demokrasi prosedural. “Ini mengganggu kita,” kata Nurlia.
JPPR ingin mendidik masyarakat yang berpengetahuan dan partisipatif. “Goals kami ingin mewujudkan masyarakat yang berdaulat, pemilih berdaulat,” ujarnya.
Selain itu, Nurlia juga berharap masyarakat berperan aktif menjadi pemantau saat pemilu mendatang, proses memantau itu bagian proses untuk mengerti kebutuhannya dan bertanggung jawab sebagai pemilih.
Hal kecil yang dapat dilakukan masyarakat untuk memantau, seperti melaporkan jika ada nama di daftar pemilih sementara (DPS) yang ternyata orangnya sudah meninggal dan hal lain. “Saat ada informasi tentang hak pilih, pastikan masyarakat apakah sudah terdaftar atau belum, dengan melihat papan pengumuman,” ia menuturkan. #gus

Komentar Anda
Loading...