Trend Kasus Positip Covid-19 di Sumsel Cenderung Menurun

Anggota DPRD Sumatera Selatan (Sumsel) Dapil Sumsel II kota Palembang menggelar reses di Dinkes Sumsel, Jumat (25/3).(BP/Dudy Oskandar)
Palembang, BP- Anggota DPRD Sumatera Selatan (Sumsel) Dapil Sumsel II kota Palembang menggelar reses di Dinkes Sumsel, Jumat (25/3).
Hadir dalam reses Muhammad Yansuri SIP (Partai Golkar), Ir H Zulfikri Kadir (PDI Perjuangan), Antoni Yuzar SH MH (PKB), H M Anwar Al Syadat SSi MSi (PKS), Dr H Budiarto Marsul SE MSi (Partai Gerindra), Tamtama Tanjung (Partai Demokrat) dan H Nopianto SSos MM (Partai Nasdem).
Koordinator reses Sumsel II DPRD Sumatera Selatan (Sumsel) H Budiarto Marsul menilai selama dua tahun tidak ada mudik karena Covid-19 maka dia memperkirakan tahun ini banyak masyarakat akan mudik.
“Tentu kita harus antisipasi supaya masyarakat yang berkeinginan mudik, yang ingin bersilaturahmi dengan jumlah yang banyak ini merasakan kebahagiaan , merasakan kenikmatan, kelancara dan tidak ada rasa takut, kelancaran ini menyangkut aturan-aturan , bagaimana aturan baru pemerintah didalam menanganan Covid-19 saat ini , karena di bandara tidak perlu lagi antigen tapi di mall-mall kadang-kadang masih di minta , ini seperti apa ini ada perbedaan perlakuan itu,” katanya usai mengikuti reses anggta DPRD Sumsel Dapil Sumsel II kota Palembang di Dinkes Sumsel, Jumat (25/3).
Selain itu menurutnya hotel-hotel ada memberlakukan antigen dan ada yang tidak .
“ Kami anggota DPRD Sumsel ini ingin berpartisipasi mengedukasi masyarakat memberikan penjelasan aturan-aturan yang sekarang diberlakukan dan antisipasi lonjakan mudik Idul Fitri yang akan datang ini, sehingga apapun kebijakan itu masyarakat mengerti, kami keliling banyak sekali ketemu kelompok –kelompok masyarakat, tokoh-tokoh masyarakat yang kadang-kadang tidak paham, bagaimana aturan yang berlaku saat ini, “ kata politisi Partai Gerindra ini.
Pihaknya meminta penjelasan dari Dinkes Sumsel terkait mudik dan situasi ramadhan dan bagaimana kebijakannya dan berdasarkan informasi Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumsel kasus Covid-19 di Sumsel menurun.
“ Mudah-mudahan kita akan merayakan bulan puasa dan Idul Fitri nanti dalam kondisi yang cukup baik , jadi kita mengapresiasi kerja keras dari Dinkes Sumsel yang semakin baik,” katanya.
Pihaknya berharap masyarakat tetap patuh pada aturan-aturan, protokol kesehatan (Prokes) harus tetap di jalankan, walaupun kini pemerintah sudah memberikan kemudahan-kemudahan dan mengizinkan pulang mudik nantinya.
“ Kalau kita lihat di Sumatera Selatan, alhamdulilah dalam beberapa minggu terakhir trend kasus sudah menurun sangat siknifikan , kalau biasanya kemarin satu minggu 6000 -an kasus pada saat puncak, sekarang seminggu kasus kita hanya 400-an , kita harapkan terus menurun ,” kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Sumsel H Fery Yanuar SKM Mkes .
Seperti yang disampaikan oleh Presiden Jokowi dan Menteri Kesehatan (Menkes) menurutnya arahnya adalah untuk ramadhan untuk kegiatan keagamaan akan di longgarkan tetap penekannya kepada penerapan prokes tetap di jaga.
“ Kita harus paham bahwa kita belum keluar dari masa pandemi, jadi ini masih masa pandemi tetapi kondisinya memang sangat baik , bukan berarti tidak pandemi tapi masih pandemi tapi kondisi penurunan kasus sangat siknifikan,” katanya.
Kasus tertinggi menurutnya tetap Palembang karena jumlah penduduknya cukup banyak dan Palembang adalah pusat kegiatan dan pintu masuk Sumsel.
“ Untuk Idul Fitri sesuai apa yang disampaikan oleh Kementrian Kesehatan dalam rilis Menkes , untuk kebijakannya melonggarkan seperti yang berlaku saat ini, bahwa tiap perjalanan tidak lagi menggunakan antigen dan PCR tapi dengan persyaratan kalau dia baru dua kali vaksin masih mewajibkan untuk antigen, kalau sudah dengan booster tidak perlu pemeriksaan antigen dan PCR,”katanya.
“Kalau belum di vaksin atau baru satu kali di vaksin , harus mengajukan PCR,” katanya.
Semua itu menurutnya upaya pemerintah untuk percepatan vaksinasi, karena saat ini pekerjaan rumah (PR) dosis dua dan booster .
“Dosis dua walaupun sudah 70 persen tapi memang masih ada kelompok-kelompok yang beresiko yang memang belum maksimal tervaksinasi untuk mendapatkan dosis lengkap yaitu dua kali penyuntikan,” katanya.#osk