Dua Abad Kepahlawanan SMB II

29
Oleh : Rd. Muhammad Ikhsan
(Dosen Universitas Sriwijaya, Penelusur Sejarah Palembang)
Raden Muhammad Hasan Pangeran Ratu dinobatkan menjadi raja dengan gelar Sultan Mahmud Badaruddin pada hari Selasa 22 Zulhijjah 1218 (1803 M).
Ia menggunakan gelar yang sama dengan buyutnya Sultan Mahmud Badaruddin Jayawikrama. Sultan Mahmud Badaruddin yang pertama ini dimakamkan di pasarean Lemah Abang (RHM. Akib : 1979).
Seiring dengan naiknya Sultan Mahmud Badaruddin ke tahta, terciptalah iklim politik dan pola kebijakan baru.
Segera dengan integritas kepribadian yang ksatria, cekatan dalam tindakan (trengginas) berdedikasi, istiqamah, berilmu,
berpembawaan sabar dan beriman taqwa, sang pangeran ratu (crown prince) memimpin negeri ini.
Sementara itu pada waktu yang hampir bersamaan, kompeni Belanda atau persekutuan dagang Hindia Belanda (VOC) baru saja dibubarkan pada 31 Desember 1799. Kekuasaannya kemudian beralih ke kerajaan Belanda.
Sekitar waktu itu pula kerajaan Inggris yang berpengalaman dalam pelayaran samudra mulai melakukan plot strategi dan taktik kolonisasinya di daerah yang lebih dahulu dikuasai Belanda.
Sultan yang menurut syair Perang Palembang bagaikan “harimau yang
bergerak bebas seperti kucing” (Mahbub Djunaidi : 1984) itu melihat peluang emas yang dimunculkan oleh friksi antara hegemoni Belanda dan hasrat ekspansi Inggris.
Hal itulah picu dari gejolak politik dan pergolakan menentang
imperialisme di bumi Sembilan Batanghari.
Empat hari sebelum terjadi timbang terima pengalihan kekuasaan Belanda kepada Inggris sebagai implikasi kapitulasi Tuntang, terjadi peristiwa perebutan dan pembumihangusan loji Belanda di sungai Aur. Tepatnya kejadian itu 14 September 1811.
Peristiwa inilah yang kemudian merupakan awal dari
perlawanan Sultan Palembang yang didukung oleh rakyatnya.
Reaksi perlawanan baik secara perang terbuka maupun pola bergerilya, yang berlangsung lebih dari sepuluh tahun. Silih berganti perlawanan heroik terjadi.
Pasca peristiwa loji sungai Aur, beliau menghadapi armada elite kerajaan Inggris di antara tahun 1812 – 1816. Kemudian kembali menghadapi kolonialis Belanda di
rentang 1819 – 1821.
Perang di tahun 1819 dicatat sebagai perang Palembang
karena Palembang dapat mematahkan serangan penjajah. Perang melawan Belanda
yang dikomando oleh Muntinghe ini dalam lafal atau lidah wong Pelembang ini disebut juga sebagai perang Menteng.
Sebagian besar episode perang melawan pasukan Muntinghe ini
terdokumentasi dalam syair perang Menteng. Syair tersebut merupakan “moment opname” kemampuan Sultan Mahmud Badaruddin Hasan ini dalam menghalau
nafsu imperialisme Belanda.
Guna menebus rangkaian kekalahan di negeri Batang Hari Sembilan ini,
pemerintah Hindia Belanda di Batavia mengerahkan segenap kekuatan militernya
baik matra laut maupun matra darat. Ekspedisi ini tidak tanggung-tanggung, dikomando langsung oleh Jenderal Baron de Kock, inilah serangan militer Belanda
ketiga kalinya di Palembang.
Perang berlangsung dahsyat, trik serangan demi serangan dari pihak Belanda dapat dilumpuhkan oleh pasukan Palembang. Dalam satu tutur cerita lisan turun temurun yang penulis dengar tentang keberanian pasukan Palembang ini, bahwa para syuhada tidak tewas karena peluru meriam dan bedil Belanda, namun syahid karena “mabok darah” (genangan simbah darah Belanda yang tewas).
Akhirnya dengan tipu dayanya juga, Jenderal yang tersohor dalam peperangan besar di Nusantara ini dapat menduduki kraton Kuto Besak sebagai pertahanan terakhir
Palembang.
Sultan Mahmud Badaruddin patah secara terhormat. Beliau
sekeluarga harus meninggalkan negeri Palembang.
Lawang Burotan
Suatu sessi dramatis ketika beliau terakhir menginjakkan kaki di kraton Kuto Besak melangkah melalui Lawang Burotan, gerbang pintu kraton di sebelah barat
menuju kapal perang Belanda yang berlabuh di tepi sungai Musi di dekat kediaman pangeran Adipati di muara sungai Sekanak. Selanjutnya pemimpin negeri yang dicintai rakyatnya ini dibawa ke Batavia dan kemudian diasingkan ke Ternate.
Bagi kerajaan Belanda, prestasi Jenderal de Kock ini merupakan kemenangan besar.
Dentuman meriam sebanyak 101 kali di negeri di bawah permukaan laut itu, membuktikan penghargaan Belanda terhadap reputasi ini. Para perwira dan anggota ekspedisi angkatan perang yang ikut dalam “perang Palembang 1821 itu
dianugerahi bintang jasa “Militaire Willemsorde”. Tidak ketinggalan sidang istimewa “tweede kamer” Parlemen Belanda dibuka dengan amanat raja Willem I yang mengumbar “pidato selamat” kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda beserta jajarannya.
Menggambarkan ketokohan Sultan Palembang ini, Dr. WO Woelders dalam disertasinya bertajuk “het Sultanaat Palembang 1811 – 1821”, menyebutkan : “Tokoh utama dari drama yang menghasilkan sebagian sejarah historiografi
Indonesia ini tidak disangsikan lagi adalah Mahmud Badaruddin, yang menurut kesaksian pihak kawan dan lawan adalah orang besar (“een man van format”), seorang raja yang agung dengan amalan-amalannya yang baik, Karena kepribadiannya yang kuat maka baik Ahmad Najamuddin maupun anggota-
anggota keluarga lainnya sepenuhnya berada di bawah pengaruhnya”. (Pemprov Dati I Sumsel : 1986).
Pengaruh kharisma dan semangat perjuangan inilah sepeninggal Sultan Mahmud Badaruddin II membakar semangat dan mengobarkan gejolak
perlawanan di pedaleman Palembang. Pemberontakan Prabu Anom pada garnizun
Belanda di Palembang 1824, perlawanan terus menerus secara diam-diam oleh Pangeran Kramajaya sampai tahun 1851, pemberontakan rakyat di Komering Ulu (1854) di bawah pimpinan Depati Tihang Alam, perlawanan rakyat di Pasemah, Empat Lawang dan Empat Petulai. Melihat pengaruh beliau, tepatlah jika seorang pewarta asing bernama RA Lovell dalam tulisannya “Never a Tame Tiger”, sang Sultan berjuang untuk kemerdekaan negaranya sampai detik nafas terakhir.
Baca Juga:  Pembawa Cuka Para dan Pengkomsumsi Narkoba diangkut Polsek SU I
Komentar Anda
Loading...