TP2GD Kabupaten Kota Di Kabupaten Kota Belum Terbentuk

Tuesday Dialogue Radio BP Trijaya Palembang. Selasa (12/2) pukul 15.00 “ Raden Hanan, Perjuangan Dan Pengabdiannya (Walikota Pertama kota Palembang periode 1945-1947) ” Bersama : # cucu Raden Hanan, RHA Sobri SE , Pengarang Buku “Raden Hanan, Perjuangan Dan Pengabdiannya”, Kemas Ar Panji, Pengamat Sejarah Sumsel Syafruddin Yusuf.
# Banyak Pahlawan Asal Sumsel Belum Dapat Gelar Pahlawan
Palembang, BP
Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) banyak memiliki pahlawan yang layak ajukan baik tingkat daerah dan provinsi sebagai pahlawan namun sayang Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD) yang menjadi lembaga merekomendasikan pahlawan tersebut baru terbentuk di tingkat provinsi sedangkan tingkat kabupaten kota tidak pernah terbentuk hingga kini.
Hal tersebut dikemukakan oleh sejarawan Sumsel Syafruddin Yusuf mengatakan,pengusulan nama pahlawan bisa dilakukan pihak keluarga dilengkapi dengan biografi dan data atau diusulkan oleh lembaga tertentu.
“Memang dalam aturan untuk pahlawan ini ada disebut namanya pahlawan daerah dan pahlawan nasional .Selama ini Kita selalu melihat pahlawan nasional sedangkan pahlawan daerah di lupakan, malahan tim penilai pahlawan daerah TP2GD sendiri tidak dibentuk di daerah, di kabupaten kota tidak ada tim daerah itu,” katanya Tuesday Dialogue Radio BP Trijaya Palembang. Selasa (12/2) pukul 15.00 “ Raden Hanan, Perjuangan Dan Pengabdiannya (Walikota Pertama kota Palembang periode 1945-1947) ” Bersama : # cucu Raden Hanan, RHA Sobri SE , Pengarang Buku “Raden Hanan, Perjuangan Dan Pengabdiannya”, Kemas Ar Panji, Pengamat Sejarah Sumsel Syafruddin Yusuf.
Menurutnya mestinya kalau ada usulan jadi pahlawan daerah itu harus masuk ke tim daerah ini , nanti tim ini memberikan pertimbangan dan disampaikan ke pemerintah setempat melalui dinas sosial.

3 Mei , 1947 , Letnan Jenderal S.H Spoor tiba di Bandara Talang Betutu, Palembang dan disambut Kolonel Mollinger dan Walikota Palembang Raden Hanan (berkopiah hitam).
“Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD) harus ada orang sejarah atau paham sejarah,” katanya.
Mengenai perjuangan Walikota Palembang pertama Raden Hanan menurutnya, Raden Hanan terlibat di awal setelah proklamasi , di Palembang.
Dia ikut dalam pertemuan dengan pemerintah Jepang di Palembang , lalu dalam konsep pemerintahan Dr Ak Gani , Raden Hanan dimasukkan bagian urusan pemerintahan daerah Palembang, bahkan nanti sampai ada SK dari Gubernur Sumsel Dr M Isa melantik Raden Hanan menjadi Walikota Palembang pertama.
Setelah tahun 47 Palembang dikuasai Belanda lalu terbentuk pemerintahan rekomba maka disusun badan penasehat pemerintah Sumsel, ada Raden Hanan disitu masuk di bagian penasehat selanjutnya pemerintahan rekomba ini menjadi negara Sumsel.
“Sebatas itu saya tahu setelah itu tidak tahu lagi kemana pak Raden Hanan , karena dalam masa perang kemerdekaan figur yang banyak muncul adalah pak Ak Gani lalu Tahun antara 1950-1951 walikotanya sudah lain,” katanya.
Sedangkan Pengarang buku , Raden Hanan, Perjuangan Dan Pengabdiannya (Walikota Pertama kota Palembang periode 1945-1947) Kemas Ar Panji menilai sudah selayaknya kalau Raden Hanan diberikan gelar pahlawan , jika tidak gelar pahlawan nasional menjadi pahlawan daerah dulu.
“Kita harus memberikan penghargaan kepada tokoh-tokoh ini sekelas walikota , kalau bisa walikota kota sampai sekarang ada biografinya dan ini peluang kalangan ademisi menulis itu bisa berkerjasama dengan pemerintah daerah hal sama untuk kabupaten kota juga,” katanya.
Kemas AR Panji menambahkan dalam pembuatan buku tersebut, dirinya hanya memulai sebagai perintis tulisan awal Raden Hanan dan dia mengharapkan pihak lain merespon tulisannya tersebut dan untuk masyarakat umum untuk bisa menghargai tokoh perjuangan dulu dengan lihat peranannya saat itu.
“Harapan saya ini menjadi tulisan awal nanti yang lain memperluas dan perbanyak tulisan ini dan pihak keluarga Raden Hanan juga bisa merespon tulisan ini apapun bahannya,” katanya.
Sedangkan cucu Raden Hanan, RHA Sobri SE menilai pantas kalau Raden Hanan diberikan gelar pahlawan karena perjuangan selama ini dalam memimpin kota Palembang.
“Gelar pahlawan sangat penting untuk Raden Hanan , beliau ini patut dianugrahkan gelar pahlawan disampimg beliau datanya sudah dibukukan , pak Raden Hanan ini adalah walikota pertama ini sangat langkah, sebaiknya nama Raden Hanan diusulkan pahlawan dari pihak berwenang,” katanya.
Setelah tidak jadi walikota Palembang, menurut Sobri, Raden Hanan aktif di kepengurusan Masjid Agung Palembang dan mengelola Hotel Sintera.
“Saat itu saya masih inget keatas hotel Sintera langsung kasih duit, oleh Raden Hanan,” kata sambil tersenyum.
Sebelumnya Nama Raden Hanan, tak pernah bisa dilepaskan dari perjalanan sejarah kota Palembang .Pria yang akrab di sapa Cek Hanan merupakan pejuang kemerdekaan Indonesia di masa penjajahan Belanda, Jepang dan di masa revolusi di Palembang.
Saat Proklamasi 17 Agustus 1945 atas nama Bangsa Indonesia oleh Sukarno-Hatta di Jakarta tidak dapat dimonitor oleh radio Palembang, pada saat yang sama. Hal ini disebabkan Studio Radio Jakarta di-black out oleh Jepang.
Isi pemberitaan dapat dimonitor oleh para pemuda dan isi berita tersebut disampaikan pada tanggal 18 Agustus 1945 kepada dr. A.K. Gani sebagai tokoh BKR (Badan Kebaktian Rakyat). BKR dibentuk menjelang keruntuhan Jepang sebagai wadah pemersatu kalangan pegawai pamong praja dan kalangan pemimpin pergerakan, baik yang berada di kota Palembang maupun di pedalaman.

Raden Hanan semasa hidup
BKR pada waktu itu telah menjadi satu-satunya Front Persatuan Nasional dari kalangan pemimpin-pemimpin daerah, yang nantinya akan melaksanakan peranan yang penting dalam menyambut awal kemerdekaan.
Tanggal 22 Agustus I945 pagi tokoh-tokoh BKR telah dipanggil oleh Cokan Myako Toshio. Didampingi oleh pembantu-pembantunya, Cokan menyampaikan dengan perasaan yang mendalam, bahwa Jepang telah menyerah. Untuk itu kepada yang hadir: Abdul Rozak, Noengtjik A.R., termasuk Raden Hanan, Asaari, lr. Ibrahim, Bay Salim, H. Cikwan, Salam Paiman, Parmono, dan Yap Tiang Ho — diajak untuk bersama memikul tanggung jawab tentang keamanan.
Pada tanggal 31 Oktober 1979, Raden Hanan meninggal dunia di Palembang dan dimakamkan di pemakaman Kawah Tekurep, Palembang. Cek Hanan merupakan sosok yang jarang ada di negeri tercinta saat ini.
Sosoknya yang rela berkorban demi kepentingan bangsa terutama masyarakat Palembang berbanding terbalik dengan para elite atau pejabat negeri kita saat ini yang banyak terjerat korupsi
Cek Hanan merupakan sosok sederhana yang tak memperkaya diri sendiri dari jabatan yang dimilikinya.
Padahal jika ia mau, tentu tidaklah sulit. Sebab, berbagai posisi penting pernah dijabatnya.
Begitu sederhana kehidupan Raden Hanan sampai-sampai Raden Hanan terpaksa menjualkan rumah pribadi miliknya untuk menghidupi dirinya dan keluarganya, hingga akhir hayatnya, dia tidak mampu membeli rumah sendiri dan terpaksa menumpang di rumah anaknya.#osk