Tukang Bangunan Temukan Tembok Keraton SMB II

17
sultanmahmudbadaruddinPalembang, BP
Seorang tukang bangunan proyek pembangunan air mancur di halaman Museum Sultan Mahmud Badarudin II menemukan batu bata dari zaman keraton kuto batu Palembang yang berumur 200 tahun, Sabtu, (5/12).
Batu bata ini memiliki panjang sekitar 30 centimeter dan ketebalan sekitar 10 centimeter.
Batu bata ini disinyalir bagian dari tembok keraton yang memisahkan halaman antara tempat raja, ratu, dan putri.
Darwiji, kepala tukang pembangunan air mancur Museum SMB II mengatakan batu bata itu berada di kedalaman 60 centimeter dari permukaan tanah.
Melihat  batu bata yang ukurannya tidak biasa itu ia lantas menghubungi orang museum.
“Aneh saja lihat batanya. Saya yakin ini benda bersejarah,” katanya.
Diperkirakan  batu bata itu bagian dari keraton kuto batu. Di mana tekstur bahan perekat antara bata satu dan lainnya sama sekali tidak menggunakan semen melainkan bubuk batu karang.
Selain itu Lokasi Museum Sultan Mahmud Badarudin (SMB) II saat ini dahulunya adalah keraton dan ada pada akhir abad 18 .Keraton tersebut lantas diratakan dengan tanah atas perintah Van Sevenhoven yang kemudian dibangun rumah Regeering Commissaris yang sekarang menjadi Museum Sultan Mahmud Badaruddin II.
Kepala Balai Arkeologi (Balar) Palembang Nurhadi Rangkuti membenarkan adanya penemuan tersebut.
” Saya sendiri belum lihat dan besok, Senin (6/12) saya mau ke lokasi,” katanya, Minggu (6/12).
Terkait penemuan tersebut dia mengaku belum dapat dipastikan yang ditemukan itu apakah bagian bangunan atau tidak, karena pihaknya belum menemukan denah bangunan istana dari hasil penggalian sebelumnya.
“Di halaman museum SMB II itu memang sering ditemukan struktur-struktur  bata dalam penggalian tapi belum bisa diketahui denahnya dan fungsi bagaimana dan peninggalan arkeologis di halaman museum SMB II itu adalah situs arkeologi yang perlu dilindungi. Jadi pembangunan air mancur agar dihentikan karena merusak situs cagar budaya,” katanya.
Terkait pembangunan air mancur di halaman Museum SMB II, Nurhadi mengaku belum pernah dihubungi pihak Pemkot Palembang.
Ketua Dewan Kesenian Palembang yang juga budayawan kota Palembang, Vebri Alintani mengatakan kalau sebelum Belanda membangun rumah siput, untuk kantor komisaris pemerintah residen di lokasi Museum SMB II saat ini , tempat itu memang benteng atau kuto batu, atau kuto kecik yang dihancurkan oleh Belanda.
“Penelitian Balar Palembang beberapa waktu lalu menguatkan keberadaan kuto tersebut. Untuk kepentingan penelitian lebih lanjut seharusnya jangan dulu dibangun Air Mancur dan bukan diambil alih tetapi diberi kesempatan penelitian lebih lanjut karena kawasan itu merupakan kawasan cagar budaya,” katanya.
Menurutnya sebaiknya memang penelitian cagar budaya dan kepurbakalaan diberi ruang seluas luasnya. Apalagi kota Palembang menjadi bagian sebagai kota pusaka
“Selama ini pemkot Palembang kurang berkoordinasi dengan Balar Palembang jika mau memugar cagar budaya, contoh perubahan bentuk kantor ledeng, pembangunan Hotel Sriwijaya yang banyak di rubah tanpa koordinasi dulu,” katanya. #osk
Baca Juga:  Update COVID-19 Muba: Bertambah 1 Kasus Positif
Komentar Anda
Loading...