Ultimate magazine theme for WordPress.

Indeks Kualitas Air  Sungai Musi Dalam Kondisi Baik

#Launching dan Bedah Buku Sungai Musi (Jejak Perjalanan dan Pembangunan Berkelanjutan)

Launching dan Bedah Buku Sungai Musi (Jejak Perjalanan dan Pembangunan Berkelanjutan) karya Dr. Sulistiawati  Msi  yang merupakan Dosen Universitas  PGRI Palembang di lantai IV Kampus Universitas PGRI Palembang, Rabu (29/6).(BP/Dudy Oskandar)

Palembang, BP- Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan (DLHP) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel)  menilai berdasarkan ukuran Indeks Kualitas Air (IKA) Sungai Musi  kini masih dalam kondisi yang baik  dan bagus.

“Tapi status Sungai Musi dulu khan kelas satu atau nilainya 58 dimana nilai airnya peruntukan  untuk air minum, rekreasi , kalau sekarang kita evaluasi lagi ini  tapi ini baru batas kajian kami belum kita publis, “ kata Kabid Pengendalian Pencemaran  Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 , Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan Provinsi Sumsel Aris Safrizal usai Launching dan Bedah Buku Sungai Musi (Jejak Perjalanan dan Pembangunan Berkelanjutan) karya Dr. Sulistiawati  Msi  yang merupakan Dosen Universitas  PGRI Palembang di lantai IV Kampus Universitas PGRI Palembang, Rabu (29/6).

Kajian ini menurutnya masih diuji lagi dan baru bisa di publis jika sudah dalam bentuk kebijakan.

“ Kalau dari hasil pemantauan kita , kalau IKA air kita ada peningkatan dari tahun ke tahun  tapi meningkatnya tidak banyak  tapi sedikit-sedikit , ada perbaikan  karena ada upaya-upaya kita yang kita kontrol di sumbernya, cuma susahnya kadang-kadang kita ini  yang tidak bisa kontrol, kita kontrol  di masyarakat seperti buang sampah ke sungai itu yang susah kita kontrolnya nah ini yang mempengaruhi beban sungai kita,” katanya.

Baca Juga:  Jerman Bakal Kelola Sampah Palembang

Mengenai kewenangan sungai menurutnya sebagai besar kembali ke pemerintah pusat.

“ Inilah sekarang kita lagi agak susah menata lingkungan kita  karena semuanya kembali ke pusat, hubungan lintas kabupaten sekarang  kita hanya koordinasi ,” katanya.

 

Dia mencontohkan jika terjadi pelanggaran masalah lewat baku mutu  harus kembali kekewenangan  Kementrian Lingkungan Hidup (KLHK) lalu setelah itu pihaknya terjun ke lokasi dan memberikan rekomendasi.

“ Kita minta KLHK agar cepat ditindaklanjuti, kita merekom, terjun kelapangan cek , benar , KLHK itu punya Gakkum  ada balainya, seperti itu KLHK  bisa langsung terjun, kadang aduannya lewat kita , kita tidak  bisa diam karena ini wilayah kita , kita harus bergerak juga,” katanya.

Baca Juga:  Subsidi Untuk Petani Karet

Sedangkan Dr. Sulistiawati   mengatakan, tujuan pembuatan buku ini untuk mengedukasi masyarakat  pentingnya sungai , dari dulu kita hidup dari sungai.

“ Kalau bisa sungai yang ada sekarang dipelihara dengan baik, dibersihkan dan kedepannya bagaimana , jangan sampai sudah rusak sungainya baru nak berbuat apa-apa,” katanya.

Dalam buku ini menurutnya mengupas sejarah Sungai Musi dan dulu dipergunakan untuk apa , pembangunan di zaman Belanda apa , pembangunannya sekarang apa yang terjadi.

“ Bagaimana solusi, walaupun itu hanya sekedar  solusi di atas kertas , karena untuk edukasi  ke masyarakat operasionalnya belum jelas,”katanya.

Sedangkan Direktur Penerbit Aksara PenaWanda Lesmana, MPd mengucapkan selamat kepada Dr. Sulistiawati Msi yang telah menerbitkan buku Sungai Musi  (Jejak Perjalanan dan Pembangunan Berkelanjutan).

Baca Juga:  Ekspedisi Pedalaman Palembang (Goenoeng Merakso)

“ Kami selaku penerbit lokal di Sumatera Selatan mengapresiasi kegiatan ini dan berharap  semakin banyak ruang  diskusi dan bedah buku dan peluncuran buku semacam ini  sebagai fungsi kita akademisi  untuk meningkatkan literasi dan indeks pengetahuan di Sumatera Selatan, tentunya mengajak para penulis lokal untuk berkegiatan  menciptakan karya dan produk ,”katanya.

Dan dia berharap buku ini bisa menjadi referensi untuk pengambil  kebijakan seperti DPRD , pemerintan daerah.

Sejarawan Sumsel Dr Dedi Irwanto menilai buku ini sangat menarik .

“Saya berpikir apa yang di tulis ibu Dr. Sulistiawati Msi dengan pendekatan lingkungan ini  adalah pendekatan yang mendasar, dalam perspektif pendekatan sejarah dia sangat visioner sekali, artinya melihat  masa kini  berdasarkan masa lampau, itu sangat menarik sekali,”katanya.#osk

 

Jangan Lewatkan
Komentar Anda
Loading...