Ultimate magazine theme for WordPress.

Menggapai Puncak Sejati

Dr Makson Parulian, MARS

PUKUL 21.57, Kamis 9 Juni 2022 telepon genggam saya berbunyi. “Dokter Makson kondisinya gawat, .di RSUD Sekayu,” dokter Azmi mengabarkan singkat. Saya segera luncur semenit kemudian ditemani Supriyanto, kawan yang selalu sigap di segala situasi.

Pukul 22.05 kami, saya dan Supriyanto tiba di RSUD Sekayu. Selang lima menit kemudian Pj Bupati Muba H Apriyadi datang. Kami masuk barengan ke lobby rumah sakit. H Apriyadi langsung naik ke lantai dua menuju kamar nomor 5 Petanang. Saya balik kanan ke warung senggol samping rumah sakit. Saya tak kuat menyaksikan perjuangan akhir seorang karib. Apalagi di saat gawat begini tentu orang-orang dekat berkumpul mengingat yang sakit direktur rumah sakit dan dirawat di rumah sakit yang dipimpinnya.

Di warung senggol saya bertemu Nizar, pegawai RSUD yang saya kenal baik. Baru dua seruputan kopi dan ngobrol ringan, datang kabar dari grup WhatsApp: kabar duka, doker Makson meninggal dunia. Saya bergegas ke lantai 2 menuju blok Petanang diantar Apat pegawai RSUD Sekayu lainnya.

Di lobby rumah sakit sempat berpapasan dengan Pj Bupati Muba H Apriyadi. Saya menghampiri di samping mobil dinasnya.

“Kita sedang giat memberikan pelayanan terbaik. Lagi di puncak kerja. Dia pergi… di tengah banyak capaian menuju perwujudan pelayanan terbaik. Susah nyari gantinyo. Dio ini smart, pemikirannya luar biasa maju. Susah nian cari gantinyo…_

Rentetan kalimat emosional penuh duka meluncur dari Apriyadi, Kamis jelang pukul sebelas malam. Ia baru saja menyaksikan kepergian anak buahnya, 22.45 wib.

Kembali meneruskan langkah, saya diantar Apat, staf RSUD Sekayu lainnya yang juga saya kenal baik. Bersama kami ada anggota intel yang hendak mencari detil info buat laporan ke instansinya. Sampai di lorong Petanang, di luar kamar nomor 5, saya melihat kerumunan duka. Di situ sempat bertemu dan bertegur sapa dengan Humas RSUD, Andodi, Bambang serta dua Wadir RSUD, Rere dan dokter Ira. Saya mengenalkan anggota intel kepada mereka untuk mengambil data mutakhir jelang kepergian dokter Makson. Petugas intel ini juga sempat menanyai langsung dokter UGD yang menangani, dokter B dan dokter C.

Kepada Rere dan dokter Ira, saya sempat menunjukkan percakapan via WhatsApp dengan dokter Makson pada tanggal 4 Juni 2022. Rere dan dokter Ira guncang. Kami saling bertatapan. Lalu Rere dan Ira berkisah tentang sore penuh semangat sebelum, atasannya, dokter Makson dilarikan ke UGD pukul lima lebih tiga menit. Inikah firasat yang tak kami tangkap?

Baca Juga:  Plt Bupati Beni Lantik dan Sumpah Pejabat, Sekretaris DPRD Dimutasi Jadi Staf Ahli

Kami lanjutkan berbincang singkat hingga kereta peti mati yang mengangkut almarhum tiba di depan kami. Rere dan dokter Ira bergabung dengan iringan kereta peti. Keduanya menggandeng dokter Siska, istri almarhum mengikuti arah kereta peti mati.Pelan-pelan saya menuruni tangga menuju lantai dasar, menjauhi kerumunan di instalasi kamar jenazah. Sendirian saya buka kembali obrolan panjang sepekan sebelum maut menjemput.

Februari 2007 adalah hari yang menggembirakan. dr Makson Parulian Purba, MARS, dilantik sebagai Direktur RSUD Sekayu. Makson senang menerima tantangan itu meski untuk sementara waktu harus memupus mimpinya jadi dokter spesialis bedah.

Makson muda yang memulai karir di Puskesmas Ngulak Sanga Desa punya label dokter teladan versi Pemkab Muba. Ia punya ambisi menambah ilmu demi meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat.

“Bantu saya mewujudkan RSUD Sekayu menjadi rumah sakit berstandar Internasional,” kata Makson mengenang masa awal menjabat direktur RSUD Sekayu, lewat pesan pribadi handphone, Sabtu, (4/6/2022).

Malam itu saya dan Bang Makson larut dalam kenangan dirinya mulai berkarir di Musi Banyuasin. Dari tukisan oesannya nampak sedang senang dan bersemangat meski tak dipungkiri penyakit stroke sudah dua kali menyerangnya. Saya sempat menahan diri untuk tak melanjutkan obrolan lewat pesan pribadi dan telponan saja. Tapi saya tahu, Abang satu ini tak bisa dicegah jika sedang membeberkan pikiran dan rencana-rencananya.

“Dua atau tiga pekan lagi RSUD Sekayu mau operasi perdana by pass jantung melanjutkan prestasi pusat layanan jantung. Sudah 37 pasien bedah jantung kita sukses,” terang dia panjang lebar. Saya takjub obrolan via WhatsApp berlangsung lama dengan ketikan yang panjang-panjang. Untuk orang sehat jaman sekarang saja pasti butuh energi dan kemauan bisa menulis berhalaman-halaman di pesan WA.

“Saya terima perintah itu, sehingga masyarakat Muba khususnya dan Sumatera Selatan umumnya mendapatkan pelayanan kesehatan berkualitas dan memuaskan,” bunyi oesan selanjutnya.

Makson mengaku sedikit bimbang. Sebab, katanya, saat dirinya diangkat jadi direktur saat itu program berobat gratis dimulai. Banyak pihak meragukan. Dimana kesehatan menjadi layanan yang relatif mahal. Kondisi masyarakat Muba masih banyak yang hidup di bawah garis kemiskinan, infrastruktur tidak mendukung koneksitas antar kecamatan serta geografis Muba yang luas menyebabkan akses masyarakat mendapatkan layanan kesehatan menjadi sulit. Seabrek masalah di depan mata coba ditepisnya. Meski kepalanya serasa dihimpit beban, Makson perlahan mengurai perintah atasannya.

Baca Juga:  Beni Hernedi Berhenti Sebagai Wakil Bupati Muba

“Langkah awal yang diambil Bupati Alex Noerdin saat itu mengatasi salah satu hambatan dalam berobat. Nah bener ini. Dengan berobat gratis beban masyarakat diringankan. Kala itu bila sakit masyarakat masih harus berhutang bahkan menjual aset kepemilikannya demi berobat hingga sembuh dan bisa bekerja lagi.”

Tantangan lain muncul. Kali ini dari dalam, pihak tenaga kesehatan. Apabila gratis ini akan mengancam pendapatan mereka . Tetapi Makson melihat komitmen yang besar dari Bupati Alex untuk mewujudkannya.
“Saya ikut yakin. Buktinya alokasi anggaran kesehatan diprioritaskan. Peningkatan sarana prasara di bidang kesehatan ada, renovasi besar-besaran puskesmas serta membangun rumah sakit baru dengan fasilitas cukup baik dan teknologi kedokteran ter update. Untuk masalah pendapatan nakes dilakukan kerjasama dengan PT Askes sehingga nakes difasilitasi kesehatan seperti puskesmas , pustu, polindes memperoleh pendapatan sistem kapitasi oleh PT Askes. Sedangkan fasilitas kesehatan seperti rumah sakit mendapatkan pembayaran oleh PT Askes sesuai tarif rumah sakit yang berlaku. Dan inilah sistem yang di pakai oleh BPJS Kesehatan di tingkat nasional sehingga Muba menjadi role model dalam sistem pembiayaan kesehatan tingkat nasional.”

Gagasan dan langkah apik ini tak lantas menemui jalan pintas. Sebab meski kebijakan yang diambil berpihak langsung kepada masyarakat lagi-lagi tekad harus bulat. “Kita mesti ekstra keras bekerja. Karena warga yang sedang menghadapi masalah kesehatan apabila tidak ditangani berakibat meninggal dunia, kecacatan, semakin miskin karena tidak bisa bekerja / tidak produktif karena sakit.”

Makson sejatinya sudah paham karatker masyarakat sebab dia sudah di lapangan sejak tahun 1999. Saat itu
Makson yang masih dokter PTT di Puskesmas Ngulak Sanga Desa menghadapi langsung problem kesehatan masyarakat. Sebagai dokter PTT Kementerian Kesehatan, selama 3 tahun yakni tahun 1999 hingga 2002 ia jungkir balik ikut merogoh kantong untuk meringankan beban keluarga yang sakit. Dia tahan mengangkut indukan bebek dari Jawa untuk dibudidayakan bagi warga Ngulak. Dengan sistem ternak gratis bibit indukan ini ia berharap warga bisa menambal kebutuhan sehari-hari kala tulang punggung keluarga sakit dan harus dirawat.

Tidak sayang batal ambil spesialis bedah? Mendapati pertanyaan ini, Makson tegas menjawab, “Tidak. Sebab menjalankan perintah program berobat gratis dan mewujudkan rumah sakit internasional jauh lebih menantang. ”

Lalu Makson berkisah lagi. Masalahnya, kata dia, saat itu dokter spesialis sangat sulit di Muba sehingga saya bekerja sama dengan FK Unsri serta FKUI melalui residen spesialis serta melalui jaringan pertemanan dokter spesialis agar mau bekerja di Muba.”

Baca Juga:  Kelola Lingkungan yang Buruk Penyebab Banjir di Kota Palembang

Karir Makson naik. Dimulai jadi dokter PTT 1999- 2002 di Puskesmas Ngulak lalu memantapkan masuk PNS pada 2002. Tiga tahun di rumah sakit ini ia diangkat jadi Direktur RSUD Sekayu pada 2007- 2009.

Saat tak lagi jadi Direktur RSUD Sekayu, Makson meneruskan kecintaannya pada pelayanan kesehatan dengan mendirikan Klinik Smart Medica dan praktik dokter hingga 2016. Pada 2017 ia kembali diberi tugas sebagai direktur RSUD Sekayu sejak

2020 sampai sekarang. Ia adalah saksi betapa tahun 2000an awal sarana dan prasarana memprihatinkan, sumber daya manusia yang kurang baik kualitas dan kuantitas. Tetapi ia juga saksi sebuah komitmen nyata

Pagi, 12 Mei 2018 menjelang matahari terbit, saya melihat dokter Makson berjalan menuju danau di Ranu Kumbolo, taknjauh dari lereng Semeru Saya mendekat ke arahnya. Ini adalah acara next leader camp. Sebuah upaya mencari pemimpin terbaik di setiap departemen di RSUD Sekayu. Ada belajar di ruang kelas dan ke Semeru ini bagian dari belajar luar kelas. Salah satu rencana adalah summit di puncak Semeru. Sebelum ke Semeru diawali dengan outbound di arung jeram Pulau Timun, Tanjung Sakti Lahat.

Menuju summit, kami berhasil melewati wilayah non vegetasi setelah nge-camp dan bermalam di Kali Mati. Namun perjalanan summit malam itu tidak mulus. Kami, 50an pendaki peserta next leader camp harus turun. Diikat kesepakatan dan kesetiakawanan semua peserta kembali ke titik awal pendakian setelah seorang peserta tertimpa kecelakaan cukup serius.

Setelah Semeru, ada agenda summit di sejumlah gunung antara lain Rinjani, Kerinci dan lainnya. Summit ke gunung Kerinci gagal karena gempa. Sedangkan ke Rinjani butuh persiapan. Untuk warming up, tim lalu menjajal melemaskan otot dengan naik ke Bukit Kaba, Curup Bengkulu. Sayang usai pemanasan, pandemi COVID-19 melanda.

Di bibir danau Ranu Kumbolo, Makson mulai bicara, “kita tuntaskan step by step. Satu persatu puncak kita lalui. Dari yang terdekat dan mudah. Nanti begitu kita sampai puncak tertinggi baru sadar ternyata sebelum sampai ke tahap ini, sudah banyak rintangan berhasil kita hadapi.”

Kini, dokter Makson sudah memuncaki semua tahapan. Bang Makson lebih dulu sampai di puncak sejati. Selamat jalan dok. Selamat Bang, kamu summit duluan. #Arif Agung

Jangan Lewatkan
Komentar Anda
Loading...