Ultimate magazine theme for WordPress.

Kreatif, Pemuda Desa Muara Ikan Siasati Kedelai Mahal Dengan Biji Karet

Tulus Foundations juara III lomba inovasi daerah dengan tempe biji karet.

PALI, BP – Limbah biji dari pohon karet ternyata dapat diolah menjadi makanan kuliner keripik tempe, hal ini telah dilakukan atas kreatifitas Kelompok Pemuda Desa Muara Ikan, Kecamatan Penukal Utara, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), yang dikenal dengan nama Tulus Foundation

Menurut salah seorang perajin limbah biji karet, pembuatan tempe biji karet telah berlangsung semenjak 2 tahun terakhir atas kreativitas pemuda desa setempat, setelah melihat limbah biji karet yang dibuang begitu saja serta untuk mengisi waktu kosong setiap hariinya.

Apalagi selama ini masyarakat mengenal kedelai sebagai bahan dasar pembuat tempe, maka hal berbeda yang dilakukan Kelompok Pemuda Desa Muara Ikan yang dikenal dengan nama Tulus Foundation mereka membuat dari bahan dasar biji karet. Ya, biji karet!

Baca Juga:  Harga Telur Ayam Negeri Meroket Tajam

Biji karet yang terkenal bila salah cara penggunaan dan pengelolaan dapat menyebabkan kematian, karena mengandung sianida, di tangan Tulus Foundation menjadi bermanfaat dan bernilai jual.

Mereka pun menuturkan muasal inovasi yang dilakukannya. Ketika bercengkrama tentang harga karet yang selalu anjlok dengan guru yang ada disekolah di Desa Muara Ikan, berdasarkan informasi dari guru tersebut sebenarnya biji karet jika diolah dengan benar akan dapat mendatangkan nilai jual dan menghasilakan uang.

Selama ini biji karet didesa hanya dibiarkan tanpa ada yang mengolah menjadi produk olahan pangan, tulus foundation membuat hipotesis (dugaan) bahwa bakteri Rhizopus sp untuk fermentasi untuk membuat tempe juga bisa untuk memfermentasikan biji karet.

Baca Juga:  Semburan Api dari Pipa Pertamina Kagetkan Warga

Pembina Tulus Foundation Adu Upik, SE, mengatakan, “Kami mengumpulkan biji karet dari kebun-kebun masyarakat didesa dan mendapatkan 10 kg dalam sehari secara cuma cuma. Lalu biji karet dibuang kulit luarnya, trus tapi di bersihkan lapisan kulitnya, kemudian dicuci dengan air bersih dan direndam di air selama 48 jam dengan air kapur dan diganti setiap 4 jam,” ujarnya.

Proses berikutnya kemudian direbus selama 1,5 jam sehingga menyisakan daging biji karet dan dipotong berbentuk dadu.

“Tinggal dikeringkan dengan cara diangin-angin dan jangan kena sinar matahari. Proses selanjutnya diberi ragi tempe yang bisa dibeli di pasar,” tambahnya.

Baca Juga:  Gubernur Sumsel H Herman Deru Peringati Hari Jadi PALI Secara Virtual

Proses terakhir dibungkus dengan daun pisang atau plastik. Namun, bungkus plastik harus dilubangi kecil kecil untuk memberikan udara agar proses peragian berlangsung sempurna.

Setelah itu diolah menjadi tempe kriuk tanpa minyak dengan berbagai rasa. Masih kata Adu Upik, SE. meyakini, biji karet bisa menjadi alternatif pengganti kedelai untuk membuat tempe apabila harga kedelai sedang naik tinggi.

“Kami meneliti selama enam bulan, dari Januari hinga Juni. Hasil penelitian kami membuahkan hasil, sehingga kami  bawa ke lomba Inovasi daerah tahun 2022  kategori umum kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir dan alhamdulillah mendapatkan juara ketiga,” katanya. #habib

Jangan Lewatkan
Komentar Anda
Loading...