Ultimate magazine theme for WordPress.

Inilah Mengapa Ratu Kalinyamat Layak Sebagai Pahlawan

Jepara, BP- Pemerintah Kabupaten Jepara memperingati hari jadi Kota Jepara yang ke-473 dengan mengadakan kirab bertajuk “Prosesi Kirab Buka Luwur” , Sabtu (9/4)  pukul 09.00,bersamaan dengan itu  Historia Agsi menggelar diskusi #11 dengan mengangkat tema pengusulan Ratu Kalinyamat sebagai pahlawan nasional. Sebenarnya kesamaan hari dan tanggal itu hanya kebetulan saja karena diskusi Agsi ini sifatnya bulanan dan kebetulan mendapuk Muhammad Ali Burhan putra Jepara sebagai narasumbernya.

Ratu Kalinyamat merupakan putri dari Sultan Trenggono, raja ketiga Kesultanan Demak. Dia dinikahkan dengan Sultan Hadirin dan berkuasa di Jepara yang saat itu masuk vasal Kesultanan Demak.Sultan Trenggono meninggal dunia dan takhta Demak dikuasai oleh Sunan Prawata yang masih kakak Ratu Kalinyamat. Tetapi sayang Sunan Prawata meninggal karena dibunuh oleh penguasa Jipang Arya Penangsang.

Kematian Sunan Prawata membuat Ratu Kalinyamat dan Sultan Hadirin tidak terima, sehingga melakukan protes kepada Sunan Kudus gurunya Arya Penangsang di Panti Kudus. Karena protes tidak diindahkan Sunan Kudus, Ratu Kalinyamat pulang ke Jepara dengan tangan hampa.Dalam perjalanan pulang, Sultan Hadirin terbunuh oleh anak buah Arya Penangsang penguasa Jipang (sekarang di Kabupaten Blora). Sejak itu Ratu Kalinyamat bersumpah untuk melakukan tapa wuda atapih rambut di Bukit Danaraja, sampai Arya Penangsang terbunuh demikian tuturan historiografi Jawa, kata Lilik Suharmaji yang saat itu sebagai host. Lilik menambahkan bahwa tapa wuda atapih bisa diartikan dua hal yakni bertapa sambil telanjang dengan menutupi rambutnya yang panjang, tetapi juga diartikan Ratu Kalinyamat meninggalkan segala sesuatu yang berbau duniawi dengan meninggalkan istananya.

Baca Juga:  Gratis Periksa Kesehatan dan ISPA

Sementara itu Burhan mengatakan, Ratu Kalinyamat menyerang Malaka yang dikuasai Portugis dengan sistematis. Dia menyerang pada tahun 1551 walaupun serangan itu gagal tetapi membuat Portugis kewalahan menghadapi gempuran pasukan Jepara yang dipimpin oleh Ratu Kalinyamat. Rupanya Ratu Kalinyamat tidak menyerah. Dia tahun 1564 menginstruksikan membantu Hitu untuk menyerang koloni Portugis di Ambon.Pada tahun 1564-5 dia membantu Aceh untuk menyerang Malaka pada 1568. Pada tahun 1569 dia membantu Hitu dan Ternate menyerang Portugis di Teluk Ambon. Terakhir, sang ratu mengumpulkan segala daya upaya untuk menyerang Malaka.

Baca Juga:  Menpar Arief Yahya Incar MICE Tourism

Dari sikap anti kolonial itulah sewajarnya apabila Ratu Kalinyamat memang pantas diangkat sebagai pahlawan nasional karena sepanjang hidupnya penguasa Jepara itu sebagai wanita perintis anti kolonial di Nusantara. Burhan menambahkan Ratu Kalinyamat memang sosok yang dijadikan panutan dan teladan rakyat Jepara. Bahkan Awal kekuasaan Ratu Kalinyamat yang ditandai dengan candra sengkala trus karya tataning bumi (1549) tepatnya  12 Rabiul Awal 956 Hijriah atau 10 April 1549 Masehi ditetapkan sebagai Hari Jadi Jepara oleh Pemda Kabupaten Jepara.

Candra sengakala yang dibaca terbalik sehingga berbunyi 1549 itu ditulis pada sebuah tugu di depan pintu masuk Kota Jepara. Menurut Lilik, sayang sebagian  orang Jepara tidak mengetahui maksud candra sengkala itu sehingga pemerintah Kabupaten Jepara harus tetap mensosialisasikan kepada masyarakat Jepara karena terkait dengan sikap kepahlawanan Ratu Kalinyamat.

Sebenarnya Ratu Kalinyamat tidak berputra tetapi dia menjadikan kemenakannya yang bernama Pangeran Aria, putra Hasanuddin dari Banten menikah dengan saudara Ratu Kalinyamat sebagai anak angkat dan dijadikan putra mahkota. Tahun 1579 Ratu Kalinyamat wafat dan Jepara diperintah oleh Pangeran Aria. Ratu Kalinyamat berhasil membawa Jepara pada puncak kejayaan. Pada masa itu, wilayah Jepara dan sekitarnya aman dan bebas dari ancaman manapun. Sumber Portugis menyebutkan bahwa Jepara saat itu sudah menjadi kota pelabuhan terbesar di Pantai Utara Jawa danmemiliki armada laut yang besar dan kuat, tandas Burhan.

Baca Juga:  Kabid Humas Polda Sumsel Raih Penghargaan dari Kapolda Sumsel

Jasa lain Ratu Kalinyamat adalah membangun Masjid Mantingan. Menurut candra sengkala memet yang berbunyi rupabrahmanawarnasari dapat diketahui bahwa Masjid dan makam Mantingan didirikan pada 1559 Masehi. Sebagai wanita perkasa Ratu Kalinyamat memang perempuan tangguh di zamannya. Untuk itulah seorang Portugis yang bernama Diogo do Couto menulis Ratu Kalinyamat sebagai “Rainha de Japora” atau secara lengkap sebagai “Rainha de Japora, Senhora Poderosa e Rica”, artinya Ratu Jepara, seorang wanita yang sangat kaya dan berkuasa. Tulisan itu diabadikan  dalam sebuah buku yang berjudul Da Asia Decada da Asia.#osk

Jangan Lewatkan
Komentar Anda
Loading...