Ultimate magazine theme for WordPress.

Kedukan Bukit dan Talang Tuo Cikal Bakal Literasi di Sumatera Selatan

Kepengurusan Persatuan Penulis Indonesia (Satupena) Sumatera Selatan (Sumsel)  resmi di kukuhkan oleh Koordinator Satupena Sumatera Anwar Putra Bayu mewakili Ketua Umum Satupena Indonesia Denny JA, di Balai Bahasa Provinsi Sumsel, Sabtu (26/3) sore.(BP/DUDY OSKANDAR)

Palembang, BP- Kepengurusan Persatuan Penulis Indonesia (Satupena) Sumatera Selatan (Sumsel)  resmi di kukuhkan oleh Koordinator Satupena Sumatera Anwar Putra Bayu mewakili Ketua Umum Satupena Indonesia Denny JA, di Aula Amran Halim, Balai Bahasa Provinsi Sumsel, Sabtu (26/3) sore.

Acara dilanjutkan dengan Bedah Buku Fiksi (Antologi Puisi “Dibias Cahaya” karya Anto Narasoma yang dibahas Wanda, M. Pd dan Kumpulan Cerpen “Lelaki Penari” karya Enny Hidayati) dibahas Dr. Haryadi, M.Pd dan Non-Fiksi (Etnoekologi Komunikasi karya Dr. Yenrizal) dibahas oleh Dr  Tarech Rasyid, M.Si.

Baca Juga:  Tanah dan Hutan Adat di Sumsel Harus Diberikan Pengakuan Melalui Perda

Selain itu juga ditampilkan pembacaan puisi oleh Vebri Al Lintani dan Indah Rizki, dan live musik oleh Jimi Delvian dari Hutan Tropis serta pemberian tanda mata kepada narasumber bedah buku dan kepada peserta yang bertanya.

Turut hadir diantaranya Kasubag Balai Bahasa Sumsel , Sukamto SE , budayawan Sumsel Vebri Al Lintani dan Heri Mastari, sejarawan Sumsel Dr Dedi Irwanto, sosiolog  Saudi Berlian dan sejumlah seniman lainnya.

Menurut Anwar Putra Bayu , melihat Sumsel ini sudah menjadi wilayah literasi 600 tahun yang lalu dengan dibuktikan gua batu, prasasti  kedukan bukit dan Talang Tuwo.

Baca Juga:  Di Belitung, Menpar Bicara Destinasi Waktu

“ Dan tulisan itu  untuk dibaca masyarakat , atau rakyat di zaman raja-raja dulu, artinya ada  hal tulisan, ada hal pembacaan  itu semua sudah dikenal sejak zaman Kerajaan Sriwijaya dengan literasi,” katanya.

Dengan tulisan tersebut menurutnya orang mengetahui masa lalu dan susunan tulisan dalam prasasti tersebut mengandung unsur sastra yang cukup tinggi yang berisikan doa.

“ Kalau itu doa, semakin benar sastra itu memiliki unsur religitas ,” katanya.

Apalagi dia melihat  ibu melayu  pusatnya  ada di Palembang “Ibu melayu yang melahirkan anak-anak melayu, itu yang mau kita perkuat,” katanya.

Baca Juga:  The 38th Annual Bali Art Festival Bakal Guncang Pulau Dewata

Menurutnya tujuan berdirinya Satupena Sumsel untuk meningkatkan kesejahteraan penulis, meningkatkan kapasitas, penguatan profesi.

Dia berharap, Satupena Sumsel menjadi organisasi yang dapat mewadahi para penulis tanpa membedakan usia, dan genre kepenulisan dan dengan Satupena Sumsel ini menguatkan

“Kami menerima dengan terbuka bagi para penulis atau penulis muda yang ingin berkarya bersama, dan semoga dapat saling membantu untuk kemajuan literasi di Sumsel,” katanya.#osk

Jangan Lewatkan
Komentar Anda
Loading...