Ultimate magazine theme for WordPress.

DPRD Sumsel Dialog dengan Pengusaha dan Distributor Migor

nggota DPRD Sumatera Selatan (Sumsel) asal daerah pemilihan I Kota Palembang, melakukan dialog dengan pengusaha dan distributor minyak goreng di Palembang.
Pertemuan yang dipusatkan di kantor dinas perdagangan Kota Palembang ini, dipimpin langsung oleh Koordinator Dapil I, Hj RA Anita Noeringhati didampingi H Chairul S Matdiah, Mgs H Syaiful Fadli, H Kartak SAS, Prima Salam, dan Dedi Sipriyanto, Senin (21/3).

Palembang, BP- Menindaklanjuti keluhan masyarakat terkait harga dan stok minyak goreng dipasaran, Anggota DPRD Sumatera Selatan (Sumsel) asal daerah pemilihan I Kota Palembang, melakukan dialog dengan pengusaha dan distributor minyak goreng (Migor) di Palembang.

Pertemuan yang dipusatkan di kantor dinas perdagangan Kota Palembang ini, dipimpin langsung oleh Koordinator Dapil I, Hj RA Anita Noeringhati didampingi H Chairul S Matdiah, Mgs H Syaiful Fadli, H Kartak SAS, Prima Salam, dan Dedi Sipriyanto, Senin (21/3).

Koordinator dapil I yang juga Ketua DPRD Sumsel, Hj RA Anita Noeringhati menanyakan soal kelangkaan migor saat HET Rp 14 ribu per liter ditetapkan. “Kami ingin menanyakan, berapa sebetulnya produksi migor dari perusahaan sehingga sempat terjadi kelangkaan migor. Terutama saat HET masih berlaku,” kata Anita.

Baca Juga:  DPD RI Alat Representasi Kepentingan Rakyat Daerah

Selanjutnya, politisi Partai Golkar ini juga menanyakan, mengapa saat HET dicabut dan harganya melambung, migor malah marak dipasaran. “Karena migor masuk kebutuhan pokok. Maka pada kesempatan ini, kami minta kerjasama dan dukungan semua pihak, agar bisa menjual migor dengan harga lebih terjangkau, tetapi petani dan pengusaha tidak rugi,” katanya.

Kepala Dinas Perdagangan Kota Palembang, Raimon Lauri mengatakan, kebutuhan migor masyarakat Palembang sekitar 60 ribu liter perhari. Untuk saat ini, stok migor di Palembang masih cukup.

Baca Juga:  Terdakwa Kasus Minyak Sulingan Divonis 1 Tahun

Terkait harga sembako yang terus meningkat, Raimon menjelaskan, pihaknya akan menggelar pasar murah dan operasi pasar. Didalamnya terdapat hampir semua kebutuhan pokok, termasuk minyak goreng.

Wijaya Citra dari PT wilmar mengatakan, dari dulu baik sebelum adanya kebijakan HET maupun setelah dicabutnya HET oleh pemerintah, produksi minyak goreng diperusahaanya tetap sama yakni 11 ribu ton per bulan atau 12 juta liter per bulan.

Jadi kalau saat harga murah terjadi kelangkaan, dan saat HET dicabut migor berhamburan, pihaknya tidak mengerti. Karena, produksi minyak tidak alami perubahan.

Baca Juga:  MPR Gandeng Motivator Sosialisasikan Empat Pilar

Terkait kelangkaan migor yang pernah terjadi, Wijaya mengatakan, selama migor langka, pihaknya bersama pemkot Palembang, rutin melakukan operasi pasar. “Dalam sehari kita alokasikan 5000 liter migor untuk OP,” katanya.

Sementara itu, distributor migor MM dan Suco, Ico Hariza mengatakan, dari dulu sampai sekarang migor Sunco memang dijual dengan harga lebih tinggi. “Saat ini kita jual minyak Sunco ke toko Rp 25 ribu perliter, sedangkan MM dijual ke toko Rp 18.900 per liter. Nah nanto toko anak jual dengan harga lebih tinggi, karena mereka juga mau dapat profit,” katanya.#osk

Jangan Lewatkan
Komentar Anda
Loading...