Ultimate magazine theme for WordPress.

Lilik: Bentuk Poros Pedagangan-Giyanti- Jatisari

Palembang, BP- Pusam (Pusat Studi Mataram) bekerjasama dengan AGSI DIY Minggu, (13/2)  melakukan kunjungan dan diskusi sejarah Giyanti bertajuk Membedah Perjanjian Giyanti. Acara ini dalam rangka  peringatan 267 tahun perjanjian Giyanti di  Dukuh Kerten, Desa Jantiharjo,Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Karanganyar. Turut hadir dalam acara itu anggota AGSI  Jawa Timur. Rombongan disambut oleh bapak Yohanes Sigit Pranowo, SH selaku pihak Yayasan Giyanti Kerten Karanganyar. Memang pada hari itu bertepatan dengan ulang tahun perjanjian Giyanti sehingga lokasinnya penuh dengan perayaan yang juga menghadirkan bazar dan wahana mainan anak-anak untuk menghibur warga di sekitar lokasi perjanjian Giyanti.

Lilik Suharmaji, selaku sejarawan yang didapuk sebagai narasumber dalam diskusi dan kunjungan ke Giyanti menuturkan bahwa ada baiknya poros Pedagangan Grobogan, Giyanti dan Jatisari ini dikembangkan dan dijadikan tempat sebagai saksi situs sejarah dalam perjalanan perjanjian Giyanti, sehigga dapat dikenal masyarakat luas. Lilik menambahkan bahwa tanpa adanya Desa Pedagangan Grobogan tentu tidak ada Perjanjian Giyanti karena di Desa Pedagangan Grobogan itulah tempat bertemunya Gubernur Pantai Timur Jawa Nicolaas Hartingh dengan Pangeran Mangkubumi berdiskusi tawar menawar untuk mencapai kesepekatan perdamaian yang diwujudkan dalam sebuah perjanjian Giyanti untuk mengakhiri perang Suksesi Jawa III selama 9 tahun.

Baca Juga:  387 Lulus Pendamping Desa Sumsel Diumumkan di 'BeritaPagi'

Sementara itu Giyanti adalah tepat penandatanganan antara pihak Surakarta, Yogyakarta dan Kompeni Belanda yang turut tanda tangan sebagai saksinya. Kedua kerajaan itu masing-masing diwakilkan olek para pembesarnya dan dipihak Kompeni Belanda diwakili oleh Gubernur Hartingh.

Desa Jatisari juga tidak kalah pentingnya, karena desa ini merupakan tempat bertemunya Raja Surakarta, Sunan Paku Buwono III dengan Raja Yogyakarta Sultan Mangkubumi atau yang dikenal dengan Sultan Hamengku Buwono I. Kedua raja penerus dinasti Mataram Islam itu bertemu untuk rekonsiliasi menuju perdamaian dan melupakan konflik yang selama ini berkecamuk. Bahkan di Desa Jatisari itu Sunan ketiga menyerahkan pusaka Keris Kanjeng Kyai Kopek kepada pamannya, Sultan Mangkubumi sebagai simbul perdamaian antara Surakarta dengan Yogyakarta.

Baca Juga:  Songket dan Kuliner Fokus Industri Kreatif Palembang

Berangkat dari tonggak sejarah itu maka Lilik Suharmaji mengusulkan antara poros Pedagangan-Giyanti-Jatisari perlu dihidupkan dan dikembangkan untuk pembelajaran genenerasi muda dan masyarakat luas agar mereka mengenal sejarah leluhurnya. Tentunya untuk menentukan lokasi Desa Pedagangan dan Desa Jatisari sebagai lokasi yang tepat, bukan pekerjaan yang mudah. Selain harus membebaskan lahan juga harus ada sinergitas pihak-pihak terkait untuk mencari titik lokasi yang tepat untuk dijadikan petilasan lokasi bersejarah tersebut, ujar Founder Pusam itu.

Baca Juga:  DPRD Sumsel Minta Program Sekolah Gratis di Perbaiki

Sementara itu Ketua Agsi DIY, Wahyudi  berpesan bahwa perjanjian Giyanti harus dikenalkan kepada peserta didik agar generasi muda mengenal dan mengerti sejarah lokalnya. Jangan sampai anak Yogyakarta dan Surakarta khususnya dan anak-anak Indonesia pada umumnya ketika ditanya perjanjian Giyanti tidak tahu. Sangat ironis jika anak-anak di Desa Giyanti dan sekitarnya ketika ditanya tentang perjanjian Giyanti dijawab tidak tahu, pungkasnya.

Sementara itu Lilik Suharmaji mengapresisi terbentuknya Yayasan Giyanti Kerten Karanganyar untuk terus berkiprah mensosialisasikan peristiwa perjanjian Giyanti baik di lingkungan lokasi sekitar Giyanti maupun masyarakat luas. Untuk itu Lilik berharap agar stakeholder turut berperan mendorong yayasan tersebut  bergerak lebih luas agar bermanfaat bagi masyarakat Giyanti dan sekitarnya.#osk

Jangan Lewatkan
Komentar Anda
Loading...