Ultimate magazine theme for WordPress.

Cerita Panji Kelana di Palembang

Suasana sejarawan Sumatera Selatan (Sumsel)  yang juga akademisi dari UIN Raden Fatah Palembang Kemas Ari Panji dan budayawan Sumsel Vebri Al Lintani  saat menjadi narasumber dalam Webinar  berjudul Relevansi dan Aktualisasi Budaya Panji, Seri Ke-19 , Kamis, (20/1).(BP/Dudy Oskandar)

Palembang, BP- Panji merupakan kisah tradisional Jawa Timur berlatar zaman Kediri (1104-1222) yang kemudian menyebar ke beberapa wilayah dan negara lain. Cerita Panji sendiri juga mengalami anakronisme, yakni mencampurkan latar belakang Singasari (1222-1293).

Sulit untuk memaparkan cerita Panji, karena banyaknya versi yang terus ditulis tiap zamannya maupun satu wilayah ke wilayah lain. Belakangan diketahui terdapat beberapa versi, dan diduga ada delapan versi tentang cerita Panji. Misalnya Panji Kuda Sumirang, Panji Kamboja, Panji Serat Kanda, Angron Akung, Jayakusuma, Panji Angreni Palembang, Panji Kuda-Nurawangsa, Malat. Ini juga belum dihitung versi cerita rakyat seperti Ande-ande Lumut, Ketek Ogleng, Ragil Kuning dan lain sebagainya.

Hal tersebut dikemukakan sejarawan Sumatera Selatan (Sumsel)  yang juga akademisi dari UIN Raden Fatah Palembang Kemas Ari Panji dan budayawan Sumsel Vebri Al Lintani saat menjadi narasumber dalam Webinar  berjudul Relevansi dan Aktualisasi Budaya Panji, Seri Ke-19 , Kamis, (20/1).

Narasumber lain adalah promotor budaya panji, Prof Dr Ing Wardiman Djojonegoro dengan moderator Ketua Komunitas Seni Budaya Brang Wetan, Hendri Nurcahyo.

Baik Kemas Ari Panji dan Vebri menjelaskan mengenai penulisan naskah Panji Palembang tertua, tersimpan di Perpustakaan Nasional RI yakni naskah asal Palembang berjudul Panji Angreni. dengan kode BR.214 Naskah ini berangka ahun 1795. selain itu ada juga beberapa naskah lainnya yang teracata dalam Katalog Naskah Palembang antara lain ; Hikayat Abdullah, Hikayat Banbang Adi Birama, Hikayat Dewa Mandu, Hikayat Dewa Raja Agus Melila, Hikayat Gulbakawali, Hikayat Jatuhnya Negeri Pendara, Hikayat Jauhar Manikam, Hikayat Mahmud Badaruddin, Hikayat Martalaya, Hikayat Palembang, Hikayat Pandawa Lebur, Hikayat Raja Alit, Hikayat Raja Babi, Hikayat Raja Budak, Hikayat Syekh Muhammad Samman, Hikayat Syekh Samman, Hikayat Tuan Puteri Johan Manikam, Hikayat Zaman Iskandar Zulkarnain, Hikayat Galuh Digantung.

Suasana sejarawan Sumatera Selatan (Sumsel)  yang juga akademisi dari UIN Raden Fatah Palembang Kemas Ari Panji dan budayawan Sumsel Vebri Al Lintani  saat menjadi narasumber dalam Webinar  berjudul Relevansi dan Aktualisasi Budaya Panji, Seri Ke-19 , Kamis, (20/1).(BP/Dudy Oskandar)

Penamaan “cerita Panji” didasarkan pada beberapa tokohnya, termasuk tokoh utamanya, yang memakai gelar “Panji”. Ini adalah gelar kebangsawanan di Jawa yang sudah dikenal sejak masa Kediri. Istilah tersebut merupakan nama gelar atau jabatan yang masih berhubungan dengan lingkungan istana yang mengacu kepada tokoh ksatria laki-laki yaitu seorang raja, putra, mahkota, pejabat tinggi kerajaan, kepala daerah, dan pemimpin pasukan.  Istilah “panji” atau ‘apanji” atau “mapanji” ini terus digunakan secara umum hingga masa Singhasari dan Majapahit. Cerita panji di Palembang secara lisan dikenal dengan judul Raden Panji Inu Kertapati (baca; Hikayat Galuh Digantung) atau, Panji Angreni, serta Panji Palembang.

Baca Juga:  DWP Dinas PU Pengairan Gelar Pasar Bedug

Dari catatan berbagai literatur, dan penelitian satu diantaranya yang dilakukan oleh Prof. Poerbatjaraka.  Beliau mengatakan, cerita Panji telah ditulis dalam bahasa Jawa pertengahan sebelum atau sekitar tahun 1400, yakni pada zaman keeamasan Majapahit. Naskah aslinya tidak ditemukan, tetapi “terjemahan” ditemukan dalam naskah melayu berjudul Panji Semirang. Selain itu, cerita Panji juga telah ada pada relief di zaman Majaphit tahun 1413 berisi bagian dari cerita Panji, seperti di Candi Penataran Blitar dan Situs Gambyok di Banyakan Kediri. Pendapat ini sesuai dengan berita Pararaton dan Negarakertagama yang mengisahkan Raja Hayam Wuruk menari topeng (1350-1389). Sehingga kisah Panji telah ada sebelum 1400 bahkan sebelum 1350. Cerita Panji diduga berasal dari Kakawin Smaradahana karya Mpu Dharmaja dari Zaman Kadiri. Pada bagian akhir kakawin ini diceritakan tentang kisah perkawinan Kameswara dari Madyadesa (Kadiri) dengan Putri Kirana dari Wajradrawa (Janggala).

Masih menurut Poerbatjaraka bahwa cerita Panji merupakan suatu bentuk revolusi kesusastraan terhadap tradisi India yang berawal dari zaman keemasan Majapahit dan ditulis dalam bahasa jawa Tengahan. Banyak disebutkan bahwa penyebarannya cerita Panji ke luar Jawa terjadi lebih banyak dilakukan dengan cara lisan. Dalam perkembangan selanjutnya, cerita tersebut ditulis dengan huruf Arab-Melayu. Kemudian dalam bentuk naskah Arab Melayu itulah diperkenalkan ke wilayah Asia Tenggara daratan.

Cerita Panji tersebar ke daerah di Nusantara meliputi seluruh Jawa dan Bali, Nusa Tenggara, dan berbagai daerah Sumatra. Sedangkan di luar negeri, cerita Panji juga santer didengar di wilayah di Asia Tenggara, meliputi Thailand, Kamboja dan Myanmar. Perkembangannya melalui berbagai aspek kehidupan dan bentuk seni, seperti seni tari, sastra, teater, wayang, seni lukis dan seni pahat. Cerita Panji meski terdiri dari berbagai versi, inti cerita Panji selalu bercerita tentang kehidupan tokoh Raden Panji (Panji Asmorobangun) dari Kerajaan Jenggala dan Putri Candrakirana (Dewi Sekartaji) dari Kerajaan Daha atau Kediri.

Sekedar informasi bagi yang ingin meminjam dan mengetahui lebih lanjut. Dapat meminjam buku transliterasi di Perpustakaan Daerah Provinsi Sumatera Selatan. Mengingat buku ini diterbitkan proyek kementrian Pendidikan. Kemungkinan dapat dijumpai di setiap perpustakaan daerah di Seluruh Indonesia terutama di Perpustakaan Nasional Pusat.

 

 

“Panji adalah Cerita dengan tokoh utama (laki-laki) Panji (Inu Kertapati) berikut variannya (misalnya Kudawaningpati, Raden Putra, Raden Ino, Inao, dan seterusnya) dan Galuh Candrakirana atau Sekartaji berikut variannya, dengan latar Kerajaan Jenggala (Keling), Kadiri (Daha), Gagelang, (ng)Urawan, dan Gagelang (Gelang-gelang), serta kadang-kadang ditambah Singasari,” kata Kemas Ari Panji.

Baca Juga:  Ade Indra Chaniago Tegaskan Hanya Kritik Kebijakan Herman Deru Sebagai Gubernur Sumsel Bukan Sebagai Pribadi

Kisahan terjadi seputar pengembaraan salah satu tokoh utama—yang diikuti kadean untuk tokoh Panji dan emban ‘dayang-dayang’ untuk tokoh Candrakirana—karena mencari tokoh utama lain yang oleh suatu sebab meninggalkan kediamannya. Tokoh utama tersebut bersalin rupa dan atau berganti nama dan nama samaran salah satu tokoh utama menjadi judul teks, misalnya Panji Angronakung, Wasengsari, dan Hikayat Panji Semirang; kecuali Panji Angreni (Angreni bukan nama samaran, tapi salah satu tokoh utama). Berdasar kesamaan tata susun kisahan berikut nama tokoh dan latar, Robson (1971: 12–13) menyebut cerita Panji sebagai suatu genre.

“Cerita Panji merupakan cerita yang terkenal pada zamannya, terbukti dengan keanekaragaman bentuk tekstual dan luas daerah persebarannya. Purwarupa teks Panji berbentuk lisan, kemudian muncul sebagai artefak berupa relief yang dipahatkan di beberapa dinding candi di Jawa Timur.  Teks yang “lebih bergaya” muncul dalam bentuk seni pertunjukan wayang beber ,  wayang gedhog, reog (jathilan), pranasmara, kethoprak, dan wayang wong,  baik sebagai barangan ‘pertunjukan keliling’ maupun pertunjukan yang berlangsung pada waktu-waktu tertentu dan kadang-kadang bertaut dengan kegiatan (adat) tertentu. Kelisanan cerita Panji ada dalam bingkai dongeng, cerita rakyat ‘budaya lisan’,” kata Vebri.

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) sendiri menurutnya memiliki lebih dari seratus buah naskah yang mengandung teks Panji, meliputi naskah-naskah Jawa, Bali, Lombok, dan Melayu. Kelompok naskah Panji pertama adalah naskah-naskah Panji Jawa, meliputi sembilan subkorpus atau judul dan lima buah yang tidak ditemukan judul baik di luar maupun di dalam teks, yang secara keseluruhan berjumlah 47 buah naskah.

Kesembilan judul atau subkorpus tersebut adalah Panji Jayakusuma (Br 150a, Br 150b, Br 150c, dan KBG 139),  Panji Angreni (KBG 185, Br 214a dan Br 214b), Panji Angronakung (Br 379 dan G 99), Panji Jayalengkara (Br 76, CS 104, CS 110,  KBG 226, Br 353, Br 628a, Br 628b, Br 628c; Br 423, KBG 362, KBG 370, KBG 236, G 101, dan KBG 596), Panji Dewakusuma (Br 611a, Br 611b, dan Br 611c), Panji Dewakusuma Kembar (KBG 19 dan CS 86), Panji Murtaswara (G 103), Panji Suryawisesa (KBG 692), serta Panji Kuda Narawangsa (Br 295a dan Br 295b).

Baca Juga:  29 Orang di Jalan Ki Marogan Kehilangan Tempat Tinggal

Di samping itu terdapat empat naskah (Br 644a, Br 644b, Br 644c, serta Br 159) mengandung teks Panji namun tidak secara tersurat judulnya, baik di luar maupun di dalam teks, serta sebuah naskah (KBG 46) yang disebut Panji Cirebon pada kelopak depan.

Sebagian besar naskah-naskah Panji Jawa koleksi Perpusnas menggunakan alas tulis kertas Eropa dan hanya sebagian kecil menggunakan alas tulis kertas tela. Di samping itu hanya sedikit naskah yang menyebut nama penulis dan/atau penyalin serta skriptorium tempat penulisan dan/atau penyalinan. Padahal informasi ini sangat penting hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan Pigeaud bahwa cerita Panji (tulis) merupakan sastra pesisir utara Jawa.

Beberapa di antaranya sudah dialihaksarakan, baik dengan ataupun tanpa prinsip filologis, serta dibicarakan dalam kaitan penelitian akademis. KBG 185 oleh Poerbatjaraka (1968) disebut sebagai salinan dari suatu naskah yang diterima sebagai hadiah dari residen Palembang—sehingga naskah ini kemudian oleh disebut sebagai “panji Palembang”—tetapi naskah babon dari Palembang tidak diketahui keberadaannya. Naskah KBG 185, yang kemudian disalin ke dalam Br 214a dan Br 214b, menyebut sengkala ‘kronogram’ guna paksa kaswareng rat (1723 AJ atau 1795 AD) pada Manggala yang merujuk pada penggubahannya. Naskah ini sudah dialihaksarakan oleh Karsono (1998), meski tanpa edisi kritis, sebagai pijakan untuk menganalisis aspek kesastraannya.

Dan jumlah naskah Panji yang menjadi koleksi Perpusnas membuktikan, setidaknya, bahwa cerita Panji merupakan teks sastra yang digemari pada masanya, sekaligus Perpusnas terlibat dalam pendokumentasian cerita Panji tulis Melayu, Jawa, dan Bali. cerita Panji yang termaktub dalam naskah-naskah Panji koleksi Perpusnas terdiri atas puisi (syair) dan atau prosa (hikayat), ditulis dengan aksara Jawi (aksara Arab yang direkayasa untuk menuliskan bahasa Melayu), dan dengan alas tulis kertas Eropa. Beberapa di antaranya menyebut titimangsa penyalinan atau penulisan serta penyalin atau penulisnya. Contoh naskah semacam itu misalnya Syair Ken Tambuhan ML 247.

Kolofon pada  hlm. 115 menyatakan naskah bahwa  teks selesai ditulis pada malam Sabtu jam 1 malam, 26 Ruwah 1314 tahun Jumadil Akhir, bertepatan dengan 30 Januari 1897.   #osk       

 

Jangan Lewatkan
Komentar Anda
Loading...