Ultimate magazine theme for WordPress.

FKIP Unsri Antarkan Dua Dosen Teladannya Dalam Kegiatan Purnabakti dan Bedah Buku

Dosen, alumni dan mahasiswa Jurusan Pendidikan IPS FKIP Universitas Sriwijaya (Unsri)  menggelar acara  pelepasan purnabakti dua orang dosen senior dan teladan yang telah mengabdi hampir 40 tahun di Unsri. Kedua dosen ini Dra. Hj. Yunani Hasan, M.Pd. dan Drs. Supriyanto, M.Hum, Sabtu (15/1) di aula Gedung FKIP Unsri di Jalan Ogan, Bukit Besar, Palembang.Hadir lebih kurang undangan 100 peserta luring dan lebih dari 500 peserta daring. (BP/IST)

Palembang, BP- Dosen, alumni dan mahasiswa Jurusan Pendidikan IPS FKIP Universitas Sriwijaya (Unsri)  menggelar acara  pelepasan purnabakti dua orang dosen senior dan teladan yang telah mengabdi hampir 40 tahun di Unsri. Kedua dosen ini Dra. Hj. Yunani Hasan, M.Pd. dan Drs. Supriyanto, M.Hum, Sabtu (15/1) di aula Gedung FKIP Unsri di Jalan Ogan, Bukit Besar, Palembang.Hadir lebih kurang undangan 100 peserta luring dan lebih dari 500 peserta daring.

 

Dra. Hj. Yunani Hasan, M.Pd. adalah dosen yang memulai jenjang karir dari guru SD yang diangkat dari Sarjana Muda. Ketika melanjutkan kuliah S1 di Prodi Pendidikan Sejarah. Begitu selesai langsung diminta menjadi dosen PNS di FKIP Unsri tahun 1985.

 

Sedangkan Drs. Supriyanto, M.Hum. adalah alumni Jurusan Ilmu Sejarah UGM Yogyakarta. Ketika di masa akhir penyelesaian kuliah. Ditawari Program Penjaringan Dosen Luar Jawa Kemendikbud. Bersama Prof. Joko Siswanto, Prof. Slamet Widodo dan dosen lainnya dari UGM, Beliau ditempatkan di Fisipol Unsri tahun 1985. Namun setelah mengetahui ada Program Studi Pendidikan Sejarah. Beliau pindah ke FKIP Unsri.

“Saya ingat Pak Pri, (panggilan akrab Drs. Supriyanto, M.Hum). Adalah dosen penuh canda dan tidak pernah marah dengan mahasiswanya. Beliau orangnya sangat enjoy. Sehingga selama proses pembelajaran dan bimbingan dengan Beliau sangat enak dan momong sekali. Prinsip mengajar seperti Beliau ini saya terapkan ketika saya mengajar di sekolahsaat ini”, kata salah satu alumni, Andy Harry Kusuma, S.Pd. yang sekarang menjabat wakil kepala sekolah MAN 1 Prabumulih.

 

Pendapat ini diamini oleh kolega karib, Drs. Supriyanto, M.Hum

yaitu Drs. H. Alian, M.Hum dan Dr. Syafrudin Yusuf, M.Pd. serta dosen Jurusan Pendidikan IPS lainnya.

 

“Bunda Yunani dosen penuh tutur amanah sosial dengan mahasiswanya. Setiap kali mengajar dan bimbingan Beliau menyampaikan pesan-pesan moral dan sosial dalam banyak hal. Tidak saja dalam belajar di ruang kuliah. Namun juga wejangan untuk kehidupan sehari-hari. Saya kira, barangkali, masa sekarang sudah sulit mencari dosen seperti Beliau”, kata Merry Hamraeny, mahasiswa S1 pertama di Prodi Pendidikan Sejarah FKIP Unsri, yang turut melepas dan pernah dididik kedua dosen.

Baca Juga:  Terbentuk Jejaring dan Berbagi Informasi, FKIP Unsri Gelar Seminar Nasional IPS

 

 

Pada kesempatan ini, Wakil Dekan 2 FKIP Unsri, Dr. Nyimas Aisyah, atas nama pimpinan universitas dan fakultas menyampaikan ucapan terima kasih mendalam atas pengabdian yang tulus dari kedua orang dosen selama puluhan tahun di Unsri.

 

Walau sudah tidak bertugas. Namun selalu diharapkan sumbang saran dan ide-ide lainnya untuk kemajuan dan kebesaran Unsri. Bu Wadek juga memberi apreasiasi besar pada semua dosen Jurusan IPS yang telah menyelenggarakan kegiatan pelepasan purnabakti secara formal seperti ini.

Ke depan tradisi ini menurutnya perlu dijaga dan selalu diadakan.  Selain mengadakan acara pelepasan dengan inti kegiatan pada pesan dan kesan terhadap kedua orang dosen.

 

Kegiatan ini diikuti acara ilmiah Bedah Buku“Syair Komering” karya besar Dra. Hj. Yunani Hasan, M.Pd. Hadir sebagai narasumber Dr. Farida R. Wargadalem dan Drs. Ikbal Barlian, M.Pd. kedua narasumber ini mencoba menganalisisa buku ini dari perspektif sebagai orang Komering.

 

Menurut Dr. Farida R. Wargadalem pantun yang disyairkan bagi masyarakat Komering bukan saja jalinan kata-kata indah. Namun kekayaan budaya dan pesan moral yang penuh kearifan lokal. Pada pandangan Dr. Farida kearifan lokal yang paling dekat dengan masyarakat sekarang ini mulai tercerabut dari akarnya. Masyarakat sekarang lebih mengetahui hal-hal bersifat global, namun miskin keraifan lokal.

 

“Persoalannya anak-anak sekarang tidak banyak mendapat materi muatan dan sejarah lokal. Seperti syair ini. Saya dulu ketika di sekolah dasar di Cempaka, Komering. Dididik guru untuk membuat syair pantun sendiri. Lalu mengartikannya dalam bahasa Indonesia. Akibatnya, saya dulu terpaksa bertanya ke orang tua cara membuat syair pantun. Dari sini saya belajar mencinta budaya lokal dan bercita-cita menyebar pengetahuan lokal ke mahasiswa”, kenang Dr. Farida dalam bedah buku dan pelepasan purnabakti ini.

Baca Juga:  Anggaran Pilkada Kota Palembang Rp65 Miliar Lebih

 

“Sayangnya hal yang sudah dirintis oleh para guru di masa dulu.Di masa kini justru tidak diajarkan lagi. Oleh sebabnya, saya minta Pemda dan pihak terkait mari kita mulai kembali pengajaran kearifan lokal di sekolah. Saya pikir mulai lah dengan mengajarkan syair pantun yang ada dibuku ini”, ulas Dr. Farida dalam acara tersebut.

 

Demikian juga Drs. Ikbal Barlian, M.Pd. salah satu dosen Pendidikan Ekonomi FKIP Unsri menyatakan bahwa keberadaan suku Komering merupakan jejak etnisitas yang sudah cukup tua di suku-suku yang ada di Sumatera Selatan. “Sebagai suku tertua, maka orang Komering memiliki banyak sekali kearifan lokal yang ada. Hampir semua elemen kehidupan penuh makna kearifan, baik dalam kelahiran, bujang gadis, perkawinan, kehidupan sehari-hari hingga kematian. Oleh karenanya, pada budaya Suku Komering siklus hidupnya selalu penuh makna simbolisme. Makna simbolisme ini mengandung pengertian yang harus diejawantahkan dalam kehidupan sehari-hari”, jelas Drs. Ikbal Barlian, M.Pd.

 

Pada buku yang berisi 333 syair pantun Komering ini Drs. Ikbal Barlian, M.Pd. mengutip sebuah  contoh syair nasihat. Umakku jak wai halom. Ubak asli mandayun. Adat sa lamon macom. Kumoring sangon sanga rumpun. (Ibuku dari desa Way Halom. Bapakku asli dusun Mandayun. Adat memang banyak macam. Komering memang satu rumpun). Menurut Drs. Ikbal Barlian, M.Pd. makna syair ini sangat mendalam. Karena berisi ajaran tentang jangan melupakan orang tua/asal. Walau telah bertemu bermacam budaya.

Baca Juga:  Jika Belanda Kembalikan Peninggalan Milik KPD, SMB IV Siap Pelihara Dengan Baik 

 

Menurut Drs. Ikbal Barlian, M.Pd. pesan salah satu syair dari buku ini adalah ajaran moral. “Budaya Komering ini satu rumpun. Berbasis penghormatan muda pada yang tua. Sehebat apapun orang muda.Dia tidak akan melupakan orang/asal yang telah memperjuangkan menuju kehebatan ini. Sehingga bagi orang Komering. Dia akan menghormati tidak saja orang tua yang menjadikannya manusia. Namun lebih lanjut menjadikannya keluarga besar orang tua yang berperanan pada hidupnya. Sebagai satu keluarganya juga. Inilah dasar dari orang Komering. Menjaga kekerabatan”, kata Drs. Ikbal Barlian, M.Pd. yang asli Minanga, Komering.

Ditambahkan Dr. Farida makna kehidupan penuh kekerabatan yang mengental seperti ini. Juga merupakan asas utama hidup orang Komering, Sejak lama hingga saat ini. Inilah yang membuat orang Komering tampil sebagai suku terhebat di Sumatera Selatan. Banyak kaum intelektual, politisi dan pejabat daerah Sumsel berasal dari Komering. “Jika tradisi panjang yang berasal dari kearifan lokal ini menghilang. Maka dapat dibayangkan bagaimana nantinya orang Komering.

 

“Nah, ini inti kami mengadakan kegiatan pelepasan purnabakti sekaligus bedah buku ini. Kami ingin menjaga tradisi penghormatan kepada orang tua. Kolega kami dan dosen kami tercinta yang sudah selesai bertugas. Harus tetap dihormati, bukan saja pada kata, namun juga tindakan. Coba kita lihat bagaimana indahnya pesan dan kesan yang ada yang disampaikan para alumni dan mahasiswa yang didik kedua dosen kami ini. Semuanya mengharukan dan penuh penghormatan yang mendalam. Kita hendaknya selalu menjaga marwah penghormatan seperti ini”, tutup Dr. Farida yang juga Kajur Pendidikan IPS FKIP Unsri. #osk

 

 

 

Jangan Lewatkan
Komentar Anda
Loading...