Ultimate magazine theme for WordPress.

Orang Belanda dan Sisi Kemanusiaan

Palembang, BP—Diskusi Sejarah Historia. Agsi ke-7 kembali digelar Departemen Litbang AGSI pada Sabtu (27/11) . Topik yang dikaji kali ini tentang filantropi orang Belanda baik yang ada di Surabaya maupun yang ada di Yogyakarta. Sebagai narasumber redaksi menghadirkan Luki Fidiantoro dari Yogyakarta dan Dio Yulian Sofansyah dari Surabaya.

Luki Fidiantoro menuturkan bahwa Joseph Smutzer dan Julius Smutzer awalnya datang ke Yogyakarta bukan sebagai seorang misionaris agama. Smutzer bersaudara datang ke Indonesia semata-mata sebagai pengusaha karena pada tahun 1870 Kolonial Belanda memberlakukan Undang-undang Agraria yang akhirnya menarik para pengusaha Eropa untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Smutzer bersaudara rupanya tertarik dengan perkebunan tebu dan produksi gula karena pada saat itu komoditas gula sangat laku keras di Eropa dan di belahan benua lainnya.

Setelah sukses dengan pabrik gulanya rupanya Smutzer bersaudara tidak hanya semata-mata mengeruk keuntungan saja tetapi mereka berdua peduli dengan lingkungan yang dihadapi. Dia mendirikan Gereja Ganjuran yang memang letaknya dekat dengan pabrik gula Gondang Lipura. Untuk mendekatkan diri kepada masyarakat, Gereja Ganjuran sengaja disesuaikan dengan adat dan budaya Jawa sehingga bentuk gerejanya menyerupai sebuah Candi Hindu. Luki menambahkan bahwa kedekatan Smutzer bersaudaradengan masyarakat tidak hanya di bidang keagamaan saja tetapi juga mendirikan sekolah Katolik disekitar pabrik dan klinik pengobatan kepada masyarakat.

Keberpihakan Smutzer  bersaudara kepada rakyat juga tampak pada kebijakan pabriknya yang selalu memihak orang kecil misalnya mengadakan kontrak kerja yang sifatnya progresif dengan menggandeng serikat buruh, kenaikan gaji karyawannya tiap tahun sebesar 5 persen, diadakan dana pensiun pekerjanya bagi janda perempuan, diusahakan asuransi kesehatan, dibangunnya rumah dinas, menentukan libur 3 hari pada Hari Raya Lebaran, libur 2 hari pada Hari Raya Qurban dan libur 2 hari pada peringatan Maulud Nabi Muhammad Saw. Rupanya Smutzer bersaudara menyadari sepenuhnya bahwa karyawan pabriknya sebagian besar umat Islam. Bahkan “gilanya” Smutzer bersaudara mempersilahkan serikat buruh Tjipto Oetomo untuk memeriksa neraca perusahaan pabrik gula tersebut, tandas Luki.

Baca Juga:  Cirebon Tidak Bisa Dilepaskan Dari Sejarah Mataram

Karena terlalu berpikah kepada rakyat itulah maka Smutzer bersaudara diberi sanksi oleh pemerintah kolonial Belanda dengan cara pabrik gula Gondang Lipura tidak dimasukkan dalam Nederlandsch Indische Suiker. Tidak berhenti sampai disitu, kolonial jugamemboikot hasil produksi  pabrik gula Gondang Lipura. Untuk itulah dalam layanan produksi, distribusi dan konsumsi Smutzer bersaudara harus merogoh kocek dalam-dalam sendiri untuk membuat rel jalur kereta api agar hasil-hasil produksinya dapat didistribusikan ke stasiun Palbapang.

Tetapi pengorbanan Smutzer bersaudara tidak sia-sia karena disaat terjadi depresi ekonomi pada tahun 1920 pabrik gula Gondang Lipura tidak terpapar karena karyawannya begitu setia dan loyal. Untuk itulah disaat banyak pabrik kesulitan produksinya, pabrik gula Gondang Lipura tetap memproduksi seperti biasanya. Bahkan perkebunan tebu semakin meluas meliputi 4 kecamatan yakni Lipura, Kretek, Sanden dan Pandak. Adanya bendungan Kamijoro di Bantul merupakan saksi bisu filantropi Smutzer bersaudara, tambah Luki.

Sementara itu Dio Yulian Sofansyah dalam paparannya tentang filantropi Fredrik Jacob Rothenbuhler mengatakan bahwa Rothenbuhler merupakan orang Belanda keturunan Swis yang ditugaskan oleh Daendels untuk menjabat sebagai wakil gubernur Jenderal di Pantai Utara Jawa bagian timur. Orang Surabaya mengenalnya sebagai Mbah Deler karena lidah orang Jawa sulit menyebut aksen Belanda Rothenbuhler.

Baca Juga:  Perbaikan Makam Tak Disetujui

Makam Rothenbuhler memang tidak di Penilih sebagai makam tempat pejabat Kompeni Belanda disemayamkan tetapi Rothenbuhler dimakamkan di Gunungsari sebuh bukit hutan yang sangat terpencil. Rothenbuhler dianggap sebagai penguasa yang peduli dengan rakyat. Dia mencoba membuat obat untuk mengobati penyakit cacar yang saat itu mewabah. Rothenbuhler bukanlah sebagai kolonialis sejati karena dia sangat peduli terhadap rakyat Surabaya, tambah Dio.

Karena kesalahan yang diperbuatnyalah dia dikucilkan sehingga status bangsawan yang dulu disandangnya diturunkan menjadi orang biasa. Dia juga dimakamkan di tempat terpencil dan pialanya diletakkan di depan makamnya bukan di atas makam sebagai simbul bahwa yang dimakamkan itu dahulu orang yang sangat berjasa tetapi pernah melakukan kesalahan. Sementara ini menurut literasi kesalahan Rothenbuhler adalah tidak dapat membendung masuknya pasukan Inggris ke Jawa melalui pelabuhan Gresik dan merangsek ke Surabaya sehingga Surabaya dapat dikuasai Inggris. Tandas Dio.

Sekarang piala di makamRothenbuhlerdiletakkan di atas makam karena dia dianggap sangat berjasa terhadap masyarakat Surabaya demi kemanusiaan. Makam Rothenbuhler sekarang masih di atas bukit dan di sana juga ada prasasti yang menyebutkan dia seorang bangsawan yang sangat berjasa, pungkas Dio.

Lilik Suharmaji menambahkan bahwa Smutzer bersaudara memang awalnya seorang pengusaha tetapi kemudian hatinya terketuk untuk tidak melulu mencari keuntungan tetapi juga menyumbangkan darma baktinya bagi masyarakat Bantul dan sekitarnya. Dia bukanlah misionaris tetapi dia membangun Gereja Ganjuran yang sekarang ini masih digunakan masyarakat. Uniknya Gereja Ganjuran dibangun dengan mengakulturasikan budaya Jawa, Hindu dan Eropa. Budaya Jawa tampak pada Yesus, Bunda Maria dan Malaikat yang berpakaian kebesaran Jawa, Budaya Hindu tampak pada bangunan gereja yang berbentuk Candi Hindu dan budaya Eropa tampak pada agama Katolik yang diusung.

Baca Juga:  Jaga Kualitas Internal, Kemenpar Gelar Rakor

Sementara itu Rothenbuhler menurut Lilik Suharmaji merupakan sosok pejabat sekaligus penguasaha yang peduli kepada rakyat Surabaya. Dia awalnya menjabat sebagai Residen di Pekalogan tetapi karena kinerjanya bagus dia diangkat sebagai pejabat kolonial Belanda di Surabaya. Dia juga menjadi pengusaha sarang burung walet di Gresik dan mutiara yang langsung didatangkan dari Ambon. Wilayah Kerja Rothenbuhler meliputi Suranbaya, Ambon dan Nusa Tengara tetapi pusat kekuasaanya di Surabaya. Sayangnya karena dianggap bersalah oleh kolonial ketika meninggal dia dimakamkan di Gunungsari daerah yang terpencil dari masyarakat, pungkas Lilik.

Dalam diskusi itu hadir juga Sumardiansyah Perdana Kusumaatau biasa disapa Rian sebagai presiden AGSI dengan menegaskan bahwa ternyata tidak semua orang Belanda itu jahat, bengis dan rakus dan tidak semua orang pribumi itu pahlawan. Buktinya ada orang Belanda yang peduli terhadap penderitaan rakyat dan banyak juga orang pribumi yang membelot dan berpihak kepada kolonial untuk kepentingan pribadi dan golongannya sendiri. Untuk itulah presepektif sejarah kita yang cenderung rasis harus mulai diluruskan, tandas Rian. #osk

Jangan Lewatkan
Komentar Anda
Loading...