Ultimate magazine theme for WordPress.

Masyarakat Harus Bisa Bedakan Informasi Hoaks Atau Bukan

Kemenkominfo RI kembali meliterasi masyarakat melalui gerakan webinar gerakan nasiona literasi digital 2021. Kali ini untuk wilayah kota Palembang digelar webinar, Senin (22/11) (BP/IST)

Palembang, BP—Masyarakat harus bisa  bisa membedakan yang mana informasi hoaks atau bukan. Bagaimana kita melawannya?

Kemenkominfo RI kembali meliterasi masyarakat melalui gerakan webinar gerakan nasiona literasi digital 2021. Kali ini untuk wilayah kota Palembang digelar webinar, Senin (22/11) dimulai pukul 09.00 sampai pukul 12.00  dengan tema “Kritis dan Bijak dalam Menghadapi Hoaks di Masa Pandemi”.

Adapun narasumber yang tampil di antaranya Masrizal Umar, ST (Chief Marketing Officer PT Spirit Inti Abadi), Erfan Hasmin, S.Kom., M.T. (Kepala Unit ICT UNDIPA), Aris Munandar (Dosen Pascasarjana Universitas Taman Siswa Palembang) dan Dr. Hj. Nurbaiti, S.Pd., M.Pd (Kepala SMP Negeri 33 Palembang).

Moderator Ayu Irti Batul Qolby yang piawai membawakan acara dengan membuat 644 peserta betah mengikuti webinar hingga selesai. Tak lupa, Key Opinion Leader Wahyu juga berbagi tips dan pengalaman. Wahyu @wahyuwiwoho (Senior Anchor Metro TV) mengatakan Masa depan Indonesia ada di tangan adik-adik. Manfaatkan untuk hal-hal positif tnjukkan kalian adalah refresentasi generasi terpelajar, cerdik cendekia.

Nanti kalian setelah beranjak dewasa baru terasa bagaimana kita mempertanggungjawabkan moral dan etik. Banyak benturan norma dan etika saat ini sehingga perlu diingat dengan bijak. Bagaimana masyarakat digital ke depan denga ntidak mengabaikan etika moral yang sudah berlaku di negara kita sejak nenek moyang. Norma dan aturan harus dijaga dengan sesuai nilai-nilai ketimuran yang sudah dibangun nenek moyang kita dulu.

Selanjutnya, tidak menebar kebencian dan permusuhan, itu adalah tindakan bijak. Data -data bahwa usia rentan terpapar hoaks 35 tahun ke atas, jadi usia tua dan dewasa tidak menjamin. Kenapa? Karena ilmu pendidikan tidak cukup tapi mereka kaget masuk di ruang digital sudah di usia senja. Beda dengan generasi yang sejak kecil sudah bermain di ruang digital maka pelan-pelan bisa ada modal di awal untuk mengerti bagaimana menjadi pengguna digital yang bijak.

“Jadi kalau hoaks harus tetap sama-sama kita jaga dan saling ingatkan. Perlu belajar lagi meliterasi diri agar terhindar dari hoaks dan berita-berita yang tidak positif,” ujar Wahyu.

Masrizal Umar, ST (Chief Marketing Officer PT Spirit Inti Abadi) sebagai narasumber pertama pada kesempatan ini mengatakan “Mari gunakan internet untuk belajar. belajar belajar buat anak-anak berikan inspirasi yang positif bagi orang lain negara tetangga, digital skill sudah wajib dimiliki tiap orang.

Baca Juga:  Edukasi Pengguna Medsos Agar Lebih Bijak dan Cerdas

Era digitalisasi sudah jauh berkembang di negara tetangga. bahkan mereka sudah sampai pada peta jalan Indonesia sudah menuju ke situ. Indonesia diperkirakan jadi negara yang besar dalam pemanfaatan ekonomi digital yang besar ini dilihat dari bermunculan start up.

Salah satu program pendukung seperti webinar ini yang untuk pencerdasan. Ini tak hanya Kominfo tapi pihak-pihak lain yang fokus untuk transformasi digital ini seperti Kementerian Pendidikan, dsb.

Bonus demografi dengan besarnya penduduk Indonesia yang mengakses internet adalah sebuah kekuatan besar. Sosial media yang sangat populer seperti IG, Fb, Youtube adalah flatform yang banyak diminati masyarakat Indonesia.

Mari kita lawan konten-konten negatif di ruang itu karena Indonesia, kita masuk rangking 29 dari 32 negara yang rendah indeks kesopanan di ruang digital. Semoga ini cepat terkikis dengan sudah terliterasinya sebagian besar masyarakat Indonesia.

Mari kita bebaskan ruang digital kita dari konten negatif. Saran saya jika menemukan tak perlu dikomentari tapi diamkan saja atau laporkan ke Kominfo. Konten negatif itu sangat berbahaya. Gerakan webinar ini untuk mendukung melawan hoaks itu.

Bagaimana terhindar? Mari kuasai literasi digital. Mari kita pikir sebelum mengshare atau posting sesuatu. Saring sebelum sharing. Link semua kampus terbaik di dunia dan flatform gratis pembelajaran digital di dunia.

Narsum kedua,  Erfan Hasmin, S.Kom., M.T. (Kepala Unit ICT UNDIPA), yang membawakan materi tentang Keamanan Digital. Erfan dengan berbagai aktivitas kali ini selama 20 menit mencoba share pengalaman dan ilmu tentang bagaimana meredam hoaks di dunia digital sekitar kita.

“Di lingkungan keluarga melalui fasilitas WA yang biasanya sangat rentan terkena hoaks karena aktivitas setiap saat. “UU ITE pasal per pasal jelas mengatur sanksi bagi penyebar berita hoaks. Ancaman hukuman penjara dan dendanya juga tidak main-main. Jeratan juga sangat jelas per pasal yang melarang hal-hal apa yang dilakukan dalam bertransaksi di ruang digital,” kata Erfan yang secara detail menjelaskan pasal per pasal seperti Pasal 29, Pasal 30, Pasal 31 dan Pasal 32, Pasal 33, Pasal 43, Pasal 35.

Selanjutnya hal-hal yang wajib dihindari saat menggunakan media sosial tidak terkena jeratan hukum sesuai UU ITE di antaranya menyebarkan berita bohong (hoaks), pencemaran nama baik. Selanjutnya tips aman berekspresi di dunia digital juga dipaparkan Erfan seperti dengan saring sebelum sharing, jaga etika, No Sara No Hoaks, bangun jaringan personal brand yang bagus di sosial media.

Baca Juga:  Dunia Digital Buat Bisnis Makin Mudah dan Murah

Aris Munandar (Dosen Pascasarjana Universitas Taman Siswa Palembang), pemateri ketiga. “Hoaks itu BUKAN KONSUMSI ORANG PINTAR, BUKAN KONSUMSI ORANG BAIK” kalimat pembuka dari Aris Munandar ketika memulai pemaparan materinya. Aris juga mengilustrasikan kisah di dunia pewayangan “Berkata jujur tapi bermaksud menipu”.

Aris juga memaparkan definisi hoaks dari berbagai sumber di antaranya KBBI yang menyebutkan Hoaks mengandung makna berita bohong, berita tidak bersumber. Selanjutnya, Silverman (2015), hoaks merupakan sebagai rangkaian informasi yang memang sengaja disesatkan, tetapi “dijual” sebagai kebenaran. Werme (2016), mendefiniskan Fake news sebagai berita palsu yang mengandung informasi yang sengaja menyesatkan orang dan memiliki agenda politik tertentu.

Hoaks bukan sekadar misleading alias menyesatkan, informasi dalam fake news juga tidak memiliki landasan faktual, tetapi disajikan seolah-olah sebagai serangkaian fakta.

Pada bagian selanjutnya, Aris membuat pernyataan Pertimbangkan, mungkinkah? Teliti lagi bila hanya dimuat oleh hanya 1 berita yang tidak terkenal. Tambahkan: filetype:pdf saat searching, maka akan didapat artikel yang dapat dipertanggungjawabkan. Cari pembanding untuk membuktikan itu fakta atau hoaks. Jari-jari kitalah yang berperan. Googling itu kata kuncinya.

Misalnya informasi dengan angka covid dan kebijakan pemerintah melakukan lock down. Cari tau di sumber-sumber resmi supaya kita tidak ikutan terkena hoaks dengan berita ini. Kesimpulan saya, hoaks itu bodoh atau jahat? Lemah pikir atau niat dan sangsi hukum atau dibiarkan?,” kata Aris yang juga memprihatinkan jika hoaks itu disebar oleh anak-anak di bawah umur.

Dr. Hj. Nurbaiti, S.Pd., M.Pd (Kepala SMP Negeri 33 Palembang) yang memaparkan tentang Etika Digital. Nurbaiti menyebutkan di awal pemaparannya permasalahan di era digital dengan fenomena di antaranya masyarakat Indonesia akan semakin mudah dalam mengakses informasi melalui berbagai platform teknologi digital yang menawarkan inovasi fitur dari medium komunikasi yang kita interaktif.

Etika dalam teknologi informasi disebutkan Nurhaiti Teknologi Informasi (TI) merupakan teknologi yang selalu berkembang baik secara revolusioner (perkembangan perangkat keras) maupun yang bersifat evolusioner (perangkat lunak).

“Dengan berkembangnya Teknologi Informasi secara pesat, muncul berbagai permasalahan dalam penerapannya di masyarakat sehingga diperlukannya suatu tata cara atau etika. Dengan adanya etika dalam Teknologi Informasi diharapkan masyarakat atau penggunanya dapat memahami dan mengetahui bagaimana cara menggunakannya dengan baik dan benar,” ujarnya yang juga memaparkan terkait beberapa hal mendayagunakan internet.

Baca Juga:  SMB IV: Perlunya Upgrading Pramuwisata di Palembang

Alasan diperlukan etika digital adalah di antaranya Pengguna berasal dari berbagai negara, bahasa, budaya dan adat istiadat yang berbeda-beda. Pengguna internet merupakan orang-orang yang hidup dalam dunia anonymouse yang tidak mengharuskan pernyataan identitas asli dalam berinteraksi. Berbagai macam fasilitaPengguna s dalam internet memungkinkan seseorang untuk bertindak tidak etis.

Webinar dibuka dengan menayangkan Lagu Indonesia Raya yang diikuti semua peserta webinar dan dilanjutkan dengan penayangan video keynote speech yaitu Semuel A Pangerapan, Direktur Jenderal (Dirjen) Aplikasi Informatika (Aptika) Kemenkominfo RI. Lantas keynote speech kedua disampaikan Walikota Palembang H Harnojoyo yang mengapresiasi penyelenggaraan webinar tersebut.

Lebih lanjut dalam sesi tanya jawab, moderator mempersilakan empat penanya terpilih untuk menyampaikan pertanyaan secara langsung kepada keempat narasumber secara berurutan. Karena antusias peserta cukup tinggi untuk bertanya, moderator juga memilih enam peserta lagi untuk berkesempatan mendapat hadiah langsung berupa uang elektronik masing-masing senilai Rp 100 ribu.

Suryati Ali selaku Runner Literasi Digital wilayah Palembang Sumsel membenarkan bahwa webinar yang digelar Kemenkominfo RI bekerjasama dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumsel diikuti secara daring oleh 644 peserta dari kalangan mahasiswa dan pelajar. “Alhamdulilah, antusias masyarakat mengikuti webinar ini masih tinggi.

Kami sangat bersyukur, melalui kegiatan literasi digital ini, sesuai dengan arahan Kemenkominfo untuk memberikan pencerahan kepada masyarakat khususnya di wilayah kota Palembang melalui gerakan Webinar Literasi Digital 2021 Kota Palembang,” kata Suryati, Senin (22/11).

Webinar selanjutnya akan digelar kembali pada Selasa 23 Nopember 2021 pukul 09.00 – 12.00 dengan tema Kiat Cegah Kecanduan Digital pada Anak”. Adapun narasumber yang bakal ditampilkan di antaranya Aprikie Putra Wijaya ( Direktur Eksekutif Indosmap Research and Consulting), Ika Meilani Untari. S.Si. (Kasi Sumber Daya Komunikasi Publik), Chairul Mukmin, M.Kom (Dosen Universitas Bina Darma dan Pembina Bina Darma Cyber Army) dan Sabdaria Zaima, S.Pd (Guru SMP Negeri 27 Palembang). Pendaftaran melalui tautan : https://event.literasidigital.id/form/18061, Link Zoom: https://us02web.zoom.us/j/6234447160. #osk

 

Jangan Lewatkan
Komentar Anda
Loading...