Ultimate magazine theme for WordPress.

Cirebon Tidak Bisa Dilepaskan Dari Sejarah Mataram

Cirebon, BP—Paguyuban Sejarawan Ngayogyakarta (PSN) kembali melakukan kunjungan dan riset di lokasi yang terkait dengan Kerajaan Mataram. Kali ini yang dikunjungi pengurus dan anggota PSN adalah Kesultanan Kasepuhan, Kesultanan Kanoman, dan Kesultanan Kacirebonan pada Sabtu (20/11) dan Minggu  (21/11)  .

Anggota PSNChaterina Ety,  Lilik Suharmaji, Mei Ujianti,  Pradana, Marmayadi dan Yulianto, datang dari Kota Yogyakarta menuju Kota Cirebon khusus studi tentang hubungan Kesultanan di Cirebon dengan Kerajaan Mataram. Dalam studi selama dua hari itu banyak informasi-informasi yang didapat dari lapangan tentang hubungan antara Cirebon dengan Mataram abad ke-17 pada masa pemerintahan Sultan Agung dan Amangkurat I.

Chaterina Ety,  mengungkapkan bahwa hubungan antara Mataram dengan Cirebon pada mulanya diawali dengan penaklukkan Senapati kepada Cirebon dan hubungan itu kemudian diteruskan oleh Sultan Agung dengan menikahi putri dari Cirebon dan dijadikan sebagai permaisuri. Hubungan Mataram dengan Cirebon mengalami surut ketikaberlangsungnya suksesi, Sultan Agung lebih memilih Pangeran Sayidin dari permasuri yang berasal dari Batang yang masih keturunan Ki Juru Martani daripada Pangeran Syahwawrat putra dari Putri Cirebon yang masih keturunan Sunan Gunung Jati. Alasan yang diberikan Sultan Agung saat itu bila dilihat dari  trah, menurut tradisi Mataram keturunan Ki Juru Martani trahnya lebih unggul dari pada keturunan Sunan Gunung Jati. Setelah Pangeran Sayidin naik takhta Mataram dia bergelar Susuhunan Amangkurat I.

Baca Juga:  Mengenal Pelabuhan Kuno pada Abad ke XVI dan XVII

Walaupun Sultan Agung lebih memilih Putri dari Batang bukan Putri dari Cirebon tetapi rasa hormat Sultan Agung kepada Panembahan Ratu I yang merupakan guru spiritual dan mertuanya masih tetap kuat. Saat itu memang raja-raja Mataram menganggap bahwa Cirebon adalah vasalnya Mataram walaupun beberapa sumber mengatakan Cirebon bukan vasal Mataram, tandas Chaterina Ety.Alasan itu bisa jadi karena memang Cirebon masih dianggap keluarga Mataram karena dengan adanya ikatan perkawinan politik.

Sementara itu Lilik Suharmaji menambahkan bahwa ketika Mataram diperintah oleh Amangkurat I, raja keempat itu mencoba menyambung lagi tali perkawinan politik yang sempat surut karena gagalnya Pangeran Syahwawratnaik takhtaMataram agar Cirebon tetap mendukung Mataram dalam percaturan politik, agama dan ekonomi. Amangkurat I menikahkan putrinya yang bernama Nyi Raden Ayu Mataram yang merupakan putri Ayu Wetan dari keluarga Kajoran dengan Panembahan Girilaya atau Panembahan Ratu II yang merupakan cucu dari Panembahan Ratu I.

Baca Juga:  Mengenal Pelabuhan Kuno pada Abad ke XVI dan XVII

Dari pernikahan politik inilah menurut Lilik Suharmaji lahir orang-orang terkemuka Cirebon yang membentuk sejarah Cirebon sampai sekarang. Putra-putra yang lahir itu adalah pertama Pangeran Mertawijaya yang kelak akan menjadi Sultan Kasepuhan, keduaPangeran Kertawijaya yang kelak akan menjadi Sultan Kanoman.dan ketiga  Pangeran Wangsakerta yang kelak menjadi Sultan Kacirebonan.

Dari  Pangeran Cirebon itu yang menarik adalah  pada masa mudanya mereka pindah ke Istana Mataram mengikuti jejak ayahandanya Panembahan Girilaya untuk melakukan tradisi magang di Mataram. Tradisi Magang ini adalah sebagai upaya Mataram mendidik calon penguasa daerah dengan harapan ketika kelak memimpin daerahnya mereka sudah mempunyai karakter  kesetiaan dan pengabdian yang tinggi kepada raja Mataram. Apabila para pangeran itu sudah terbentuk karakter maka mereka tidak akan  membelot atau memisahkan diri dari Kerajaan Mataram. Untuk itulah putra-putra Cirebon berada di Mataram baik di Istana Kerta maupun Istana Plered, tandas Lilik.

Baca Juga:  Mengenal Pelabuhan Kuno pada Abad ke XVI dan XVII

Penulis buku Suksesi Takhta Mataram Antara Perang dan Damai ini lebih lanjut menerangkan bahwa putra-putra daerah yang magang di Mataram sebenarnya tidak hanya Cirebon saja tetapi ada putra-putra daerah dari Surabaya dan Madura. Tempat tinggal mereka ada disekitar istana saat itu dan disesuaikan dengan asal daerahnya misalnya daerah Sampangan bila lokasi itu tempat tingga Pangeran Madura, daerah Kasurbayan bila lokasi itu tempat tinggal Pangeran Surabaya dan daerah Kacirebonan apabila lokasi itu tempat tinggal dari Pangeran Cirebon. Proyek magang ini akhirnya hasilnya mengalami kendala seiring dengan campur tangan VOC di Cirebon, tandas Lilik.

Sementara itu menanggapi tentang adanya restorasi Alun-alun Utara Kesultanan Kasepuhan menjadi taman pada saat ini, Chaterina Ety berharap dengan adanya restorasi tersebut akan mengubah pola pikir masyarakat untuk tidak sembarang berjualan sehingga nantinya Alun-alun Utara lebih bersih dan rapi sehingga para wisatawan lebih betah ketika berkunjung di Kesultanan Kasepuhan dan tempat-tempat cagar budaya lain di wilayah Cirebon.#osk

Jangan Lewatkan
Komentar Anda
Loading...